
Seiring berjalannya waktu, kehamilan Rania sudah menunggu kelahirannya saja. Haikal yang ingin menjadi suami siaga untuk istrinya itu, tetap mendampingi istrinya.
Perhatian Haikal yang begitu besar pada Rania, membuat Renata mencari alasan untuk mengisi kesepiannya dengan terus berhubungan dengan Tuan Ramdan, si detektif suruhan Haikal.
Keduanya nampak asyik menikmati perselingkuhan mereka. Keduanya tidak mengetahui jika ada penyelidikan lanjutan yang di lakukan oleh nyonya Malika yang makin mencurigai gerak-gerik menantu pertamanya itu.
"Apakah hubungan kita ini aman sayang?" Tanya Renata ketika mereka sudah menyudahi percintaan panas.
"Ku rasa semuanya berjalan baik sayang dan aku ingin kamu segera bercerai dari Haikal supaya kita bisa menikah." Ujar Tuan Ramdan serius.
Degg...
Renata sangat syok mendengar kata pernikahan dari teman perselingkuhannya ini. Ia memang akui permainan panas Ramdan di atas ranjang lebih memuaskan dirinya dari pada Haikal maupun selingkuhan lainnya.
Tapi mengingat Ramdan bukan seorang jutawan seperti Haikal membuat ia tidak menginginkan adanya pernikahan dalam hubungan mereka karena dia tidak memiliki cinta untuk laki-laki ini.
"Mengapa kamu diam?" Apakah aku tidak layak untuk menjadi suamimu, hmm?"
Ramdan mengecup punggung mulus milik Renata.
__ADS_1
"Bukan begitu sayang, tapi saat ini aku ingin perceraian dengan Haikal harus adil, aku ingin setengah bagian kekayaannya menjadi milikku, dengan itu kita hidup dengan nyaman tanpa harus bekerja keras."
Senyum Renata menggambarkan arti yang cukup bermakna untuk wanita ambisius seperti dirinya.
*
*
Tapi sial bagi Renata, ketika kedoknya sudah mulai terbongkar, di saat mertuanya sendiri mendatangi kamarnya dengan membawa semua bukti perselingkuhannya dengan Ramdan dan juga kecelakaan yang direkayasa oleh dirinya akhirnya terungkap.
Nyonya Malika mengetuk pintu kamar Renata dengan cukup keras. Renata yang masih santai di kamarnya dengan memakai masker wajah membuka itu dengan malas.
"Renata buka pintunya!" Teriak nyonya Malika dengan wajah makin merah menahan amarah.
Renata membuka masker wajahnya dan berjalan malas membuka pintu kamarnya.
Cek..lek..
"Oh begini rupamu yang sesungguhnya, kami bekerja keras membanting tulang dan kamu seenaknya menikmati semua fasilitas dan juga kemewahan yang dimiliki oleh keluarga ini.
__ADS_1
Dasar perempuan tidak tahu malu!" Plakk..!" Tamparan keras mengenai sudut bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah.
"Ada apa mami?" Mengapa menjadi kasar kepadaku? apa salahku?" Tanya Renata sambil mengusap rahangnya yang terasa sangat panas.
Foto-foto perselingkuhan dengan beberapa laporan kecelakaan palsu yang dialami oleh Renata kini terungkap dengan sangat gamblang.
Foto itu di lemparkan di wajah Renata membuat gadis ini tercengang di tempatnya berdiri dengan mulut yang setengah terbuka tak percaya pada apa yang sedang ia lihat saat ini.
"Bisa kamu jelaskan semua ini Renata?" Apakah kamu dan Tuan Ramdan berselingkuh?"
Tanya Nyonya Malika sambil bersedekap menatap wajah pucat milik Renata dengan tubuh yang menggigil.
"Mami, maafkan aku mami aku khilaf, aku melakukan ini karena sangat frustrasi kepada Haikal yang lebih memperhatikan Rania dari pada aku istri pertamanya." Ucap Renata dengan memberikan berbagai alasan.
"Baik kalau itu alasanmu, tapi bagaimana dengan laporan itu? apakah kamu masih berdalih?"
Nyonya Malika mempersempit pertanyaannya pada hilangnya Renata selama tiga tahun yang di anggap mereka sudah meninggal.
Duarrr!"
__ADS_1
Renita makin tak berkutik membaca semua laporan secara fakta yang menyatakan ia tidak mengalami kecelakaan diving tapi ia merekayasa kematiannya sendiri.
Dilaporan itu jelas-jelas mengatakan Renata berbuat fatal dengan menghilangkan dirinya secara misterius selama tiga tahun karena alasan yang sangat mencengangkan bagi nyonya Malika.