
"Bagaimana jika identitasku terbongkar dan Haikal mengetahui semuanya, bahwa aku menjadi korban dari niat jahat ayah tiriku dan ibu tiriku seorang pembunuh?" Apakah mereka akan tetap memperkejakan aku atau justru akan mendepakku dari perusahaan mereka?" Rania mulai kuatir akan nasibnya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan nona Citra?" Tanya Haikal ketika melihat Rania sedang melamun.
"Tidak ada, sebaiknya aku kembali ke kamarku, kalau tidak keberatan tolong temani si kembar!" Ucap Rania seraya berlalu dari hadapan Haikal.
"Apakah aku salah bicara padanya?" Mengapa ia kelihatan begitu penasaran dengan hotel yang ada diseberang sana? apakah dia punya kenangan buruk dengan hotel itu?" Haikal bermonolog.
*
*
Keesokan harinya, Rania yang sedang mengikuti meeting bersama dengan para perusahaan lainnya membahas tentang hotel milik nyonya Malika yang saat ini sedang direkomendasikan menjadi tempat penginapan para presiden di berbagai negara yang akan mengadakan pertemuan penting membahas beberapa point penting dengan presiden negara Indonesia sebagai tuan rumah.
Ironisnya, hotel miliknya diseberang jalan ikut andil dalam menerima para tamu istimewa negara Indonesia.
Rania yang sebagai ketua patia dari seluruh hotel yang ada di Jimbaran Bali ini, sedang membicarakan langkah apa saja yang akan mereka tempuh untuk mensukseskan program acara pertemuan antar negara itu.
Mendengar suara yang begitu familiar milik Rania, seorang pria paruh baya mendekati Rania ketika gadis itu sudah menyelesaikan rapatnya dengan para tamu utusan dari berbagai negara ketika Rania menjelaskan apa saja keistimewaan hotel milik nyonya Malika dan hotel yang ada di seberang jalan yang merupakan miliknya.
"Nona Rania!" Sapa Tuan Hendra ketika berpapasan dengan gadis ini sedang menikmati makan siangnya.
Rania terlonjak kaget ketika namanya di sebut oleh manajer hotel ayahnya itu.
"Ya Allah, bagaimana ini?" Jika Tuan Hendra membuka kedok aku di sini, mampuslah aku?" Tanya Rania dalam hatinya tanpa memalingkan wajahnya ke arah Tuan Hendra.
Tuan Hendra makin mendekatinya lalu bertanya lagi kepadanya.
__ADS_1
"Apakah anda nona Rania?"
"Dia bukan Rania Tuan Hendra, dia adalah nona Citra asisten ibuku." Haikal datang menyelamatkan Rania yang sedang gugup di hadapan Tuan Hendra.
"Permisi Tuan, aku mau makan dulu." Ucap Rania lalu mencari meja lain untuk menikmati makanannya.
"Oh maaf Tuan Haikal, suara gadis itu sangat familiar dengan suara putri dari mendiang Tuan Handoyo yang berada di Amerika. Apa lagi putri tuan Handoyo juga memakai pakaian syar'i lengkap dengan cadarnya. Mungkin wajahnya memang saya belum pernah melihatnya kecuali terakhir kali di saat dia belum masuk pesantren saat di bangku SMP dulu aku melihat wajahnya yang saat itu belum menggunakan cadar hanya sebatas hijab." Ujar Tuan Hendra yang kenal dekat dengan keluarga bosnya itu.
"Benarkah?" Tanya Haikal.
"Apakah suara mereka sama persis?" Tanya Haikal lagi.
"Bukan cuma suara tapi mata mereka dan cara dia berjalan sama persis seperti putrinya tuan Handoyo. Yang mengherankan, nama gadis itu sama dengan nama ibu tiri nona muda Rania yang saat ini sedang mendekam di penjara karena membunuh suami keduanya dan saya tidak tahu apa motif dibalik pembunuhan itu terjadi." Ucap Tuan Hendra.
Mendengar cerita Tuan Hendra tentang nama yang sama antara Citra ibu tiri dari Rania membuat Tuan Haikal makin penasaran.
"Silahkan Tuan Hendra!" Ucap Haikal.
"Apakah kamu pernah mengenal orang itu?" Tanya Haikal kepada Rania yang masih menikmati makanan penutupnya.
"aku tidak mengenalinya, maaf aku harus bertemu dengan si kembar." Rania mau menghindari pertanyaan selanjutnya dari Haikal tentang hidupnya.
"Si kembar sedang tidur, mereka baru selesai berenang makan lalu tidur. Apakah kamu mau sholat dhuhur?" Tanya Haikal.
"Aku lagi tidak sholat karena lagi haid." Ucap Rania lalu berjalan cepat menuju kamarnya.
"Kenapa gadis itu tiba-tiba merasa canggung di depanku, aneh sekali sikapnya, sepertinya dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku." Gumam Haikal membatin.
__ADS_1
Dikamar hotel Rania merasa sangat kuatir usai bertemu dengan tuan Hendra.
"Apakah aku pergi saja dari kehidupan nyonya Malika?" Tapi mengapa sangat sulit untuk meninggalkan mereka?" Apakah saat ini aku sedang jatuh cinta kepada Tuan Haikal? Apakah dia juga menyukai aku?"
Ah, semuanya membuatku semakin bingung. Andai saja malam naas itu tidak terjadi, mungkin aku tidak akan setakut ini yang hidup seperti buronan." Gumam Rania dalam hatinya.
Di sisi lain, Tuan Hendra yang sangat penasaran dengan asistennya nyonya Malika yang saat ini baru bertemu dengannya membuat lelaki paruh baya ini, mengambil album foto ulang tahun hotel yang pernah dihadiri oleh gadis itu lima tahun yang lalu sebelum Tuan Handoyo meninggal dunia.
"Nah, ini dia foto Rania. Apa yang aku lihat tadi tidak salah, walaupun wajahnya tertutup cadar tapi mata mereka sama, mana mungkin aku salah mengenali putri dari Tuanku sendiri." Tuan Hendra bermonolog.
Tuan Hendra mengirim foto Rania ke nomor kontak milik Haikal.
"Selamat siang Tuan Haikal, ini foto nona Rania yang merupakan putri tunggal almarhum Tuan Handoyo, bukankah mereka sama persis dengan gadis yang saat ini menjadi asisten pribadi nyonya Malika?" Tulis tuan Hendra dalam pesan singkatnya.
Haikal menerima pesan dari Tuan Hendra lalu membuka foto gadis yang bercadar itu. Ia memperhatikan foto gadis yang bercadar itu dengan Rania yang saat ini sedang makan malam bersama dengannya dan si kembar.
Berulang kali Haikal memastikan foto yang ada di ponselnya dengan wajah Rania yang asli dan ternyata tidak ada perbedaan antara mereka.
Kecurigaannya makin menjadi bahwa gadis yang saat ini ada dihadapannya adalah putri tuan Handoyo yaitu Rania. Untuk memastikan kecurigaannya, Haikal berniat untuk menyelidiki sendiri kebenaran dari identitas gadis yang ada dihadapan saat ini.
"Untuk saat ini, aku harus berpura-pura menganggap dia adalah Citra sebelum semuanya terbongkar. Jika kamu benar adalah putrinya almarhum Tuan Handoyo, aku akan menikahimu secepatnya sebelum datangnya bulan Ramadhan." Gumam Haikal membatin.
"Tuan tidak makan?" Tanya Rania ketika melihat makanan milik Haikal masih belum tersentuh oleh pria tampan yang ada dihadapannya saat ini.
"Iya, sebentar lagi aku akan menghabiskannya, aku lagi sibuk membalas email dari asistenku." Ucap Haikal memberi alasan.
"Baiklah kalau begitu aku mau ke kamar dulu bersama anak-anak." Ucap Rania yang ingin menemani si kembar bermain di kamarnya.
__ADS_1
"Tidak nona Citra, sebaiknya kalian di sini dulu karena sebentar lagi aku ingin mengajak kalian ke pasar raya, biar si kembar tidak bosan berada di kamar terus." Ucap Haikal.