
Setibanya di rumah sakit, Rania di tangani langsung oleh dokter Rini yang menjadi dokter spesialis kandungan yang selama ini memonitor langsung kondisi kehamilan Rania.
Dikamar bersalin Haikal setia mendampingi istrinya yang masih merasakan kontraksi hebat pada perutnya. Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, persalinan pun di mulai sesuai dengan instruksi dokter Rini.
"Sudah siap nyonya Rania?" Tanya dokter Rini, setelah memastikan pembukaan jalan lahir pada pasiennya.
"Insya Allah siap dokter!"
Rania tersenyum samar sambil menatap wajah dokter yang memberinya kekuatan untuk siap mengejan.
"Dalam hitungan ketiga, tolong mengejan nyonya!" Titah dokter Rini.
Rania menarik nafas panjang lalu berdoa untuk kelancaran persalinannya. Beberapa kali Rania mengejan masih cukup sulit bayinya keluar dari rahimnya.
Wajahnya miskin pucat dengan darah yang terus-menerus mengalir. Haikal meminta istrinya untuk operasi sesar saja karena kekuatan Rania sudah hampir melemah.
"Sayang!" Apakah tidak sebaiknya jika kamu menjalani di operasi sesar." Bisik Haikal lembut.
"Tidak mas!" Aku masih sanggup sayang." Ucap Rania sambil mengumpulkan kembali tenaganya.
__ADS_1
"Ya Allah, tolonglah istriku!"
Doa tulus Haikal mengiringi perjuangan Rania dalam melahirkan putra pertama mereka.
"Bismillahirrahmanirrahim, Allahuakbar!"
Terdengar suara tangis bayi menggema di ruang persalinan tersebut. Kini Rania berhasil melahirkan putra pertamanya. Keduanya mengucapkan kalimat syukur kepada Allah yang telah memudahkan Rania melahirkan.
Senyum kebahagiaan dengan air mata haru terlihat jelas kala melihat wajah tampan bayi yang berjenis kelamin laki-laki itu.
"Selamat datang putraku sayang!" Ucap Rania dengan mata berkaca-kaca.
Keduanya memandangi wajah baby yang sedang menyedot pabrik makanan pertamanya.
"Tuan Haikal silakan mengumandangkan adzan pada baby!" Titah dokter Rini seraya menyerahkan bayi tampan milik pasangan suami istri ini.
Sementara Haikal mengumandangkan adzan pada putranya, Rania di tangani lagi oleh dua suster yang membersikan tubuhnya pasca melahirkan.
Sekitar satu jam kemudian, Rania di bawa oleh dua suster ke kamar inap VVIP yang sudah dipesan langsung oleh Haikal.
__ADS_1
Haikal langsung mengabarkan berita bahagia ini kepada maminya. Nyonya Malika yang sejak tadi menunggu kabar dari putranya langsung antusias menjawab telepon itu dengan hati cemas.
"Bagaimana sayang?" Apakah Rania dan bayinya selamat?"Tanya Nyonya Malika tanpa menunggu penjelasan dari putranya.
"Aduh yang sudah menjadi nenek, nggak sabaran banget dengar berita kelahiran cucunya." Seloroh Haikal pada ibunya.
"Dasar anak nakal, bisa nggak kamu serius sedikit pada hal yang sangat penting." Gerutu nyonya Malika pada putranya.
"Alhamdulillah, Rania dan bayi kami selamat mami dan keduanya dalam keadaan sehat tanpa kekurangan sesuatu apapun.
"Mami mau ke Bandung sekarang!" Ucap Nyonya Malika tidak sabaran ingin melihat cucu pertamanya.
"Jangan mami! ini sudah malam, besok saja mami ke Bandung bersama dengan si kembar. Nanti kalian naik pesawat jet pribadi saja ke Bandung jadi lebih cepat sampai ke Bandung." Pinta Haikal yang tidak ingin melihat ibunya terlalu semangat melihat cucu pertamanya.
"Ah kamu Haikal!" Mami sangat penasaran dengan cucu mami." Nyonya Malika masih saja merajuk manja pada putranya.
"Tidak boleh mami. Nanti Haikal kirim video babynya ke mami untuk menghilangkan rasa penasaran mami sementara waktu." Haikal membujuk ibunya yang masih mau nekat ke Bandung, padahal waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
"Baiklah, mami berangkat besok pagi saja." Ucap Nyonya Malika akhirnya mengalah juga pada larangan putranya.
__ADS_1