HEMBUSAN AYAT CINTAKU DI PUCUK RAMADHAN

HEMBUSAN AYAT CINTAKU DI PUCUK RAMADHAN
21. CURIGA


__ADS_3

Sebulan sekali Rania berangkat ke Bandung untuk mengawasi jalannya perusahaannya. Ketika sudah berada di ruang kerjanya Rania memanggil direktur perusahaannya untuk melaporkan penanggung jawab perusahaannya berserta manajer perusahaan tersebut.


Setiap laporan diperiksa dengan teliti dan tidak ada yang terlewatkan sedikitpun oleh Rania.


"Bagus!" Saya puas dengan laporan perusahaan kita, walaupun begitu saya harap ke depannya lebih baik dan tidak boleh ada manipulasi data karena saya akan langsung turun ke lapangan jika dibutuhkan. Apa bila saya menemukan laporan fiktif, kalian berdua akan saya pecat. Terimakasih silahkan kembali ke ruangan kalian masing-masing.


"Baik Nyonya Rania, kami akan bekerja lebih baik lagi ke depannya. Kami mohon pamit!"


Keduanya mundur beberapa langkah dengan wajah tetap tertunduk karena tidak berani menatap manik tajam yang menatap mereka dengan tegas.


Rania meraih ponselnya hendak mencari aplikasi go food karena saat ini, ia ingin sekali makan rujak.


Belum saja menekan nomor telepon go food, Rania merasakan sangat pusing. Ia menelepon sekertarisnya yang ada di depan ruang kerjanya.


"Inez, tolong ke ruangan ku sebentar!" Titahnya sambil memijit lembut pelipisnya.


Cek lek..


"Iya Nyonya Rania, saya sudah disini, apakah ada yang anda butuhkan?"


Ines memperhatikan Rania yang kelihatan sedang sakit.


"Tolong ambil obat penghilang pusing Inez karena tiba-tiba saja saya merasa sangat pusing."


Keluhnya sambil menahan perutnya yang bergejolak ingin memuntahkan apa yang terdapat didalamnya.


"Baik Nyonya, tunggu sebentar!"


Inez menghampiri kotak obat dan memberikan kepada Rania.


"Nyonya Rania, menurut pengelaman saya, sebaiknya anda tidak gegabah meminum obat. itu karena saat ini saya curiga anda hamil nyonya." Ujar Inez menyadarkan Rania yang makin kelihatan lemah.


"Benarkah?" Rania tersenyum menanggapi ucapan sekertarisnya.


"Apakah sebaiknya saya panggil dokter klinik perusahaan kita nyonya?"


"Boleh!" Tapi jangan sampai dokter cowok yang kamu panggil. Kamu tahu sendiri kan alasannya."


Inez tahu jika bosnya tidak ingin berhadapan dengan dokter yang bukan muhrimnya.


Dalam sepuluh menit, dokter Sandra mendatangi ruang kerja Rania dan mulai melakukan beberapa pemeriksaan pada perut dan dadanya Rania.


"Bagaimana dokter, apa saya saat ini sedang hamil?" Tanya Rania.

__ADS_1


"Sepertinya begitu Nyonya, tapi sebentar, sebaiknya anda melakukan tes urine dulu siapa tahu kecurigaan kita benar bahwa anda saat ini sedang hamil muda." Lanjut dokter Sandra yang merupakan dokter umum.


Rania masuk ke kamar mandi dengan membawa wadah untuk melakukan tes kehamilan dengan tes pack. Sepuluh menit kemudian, dia keluar dengan senyum sumringah.


Dokter Sandra dan sekertarisnya ines mulai curiga bahwa apa yang mereka pikirkan sama, kalau saat ini Rania memang sedang hamil.


"Kalian tahu, aku hamil!"


Teriakan kecil sambil memutar tubuhnya, hingga mengundang tawa bahagia kedua bawahannya ini.


Rania kembali menjadi dirinya sendiri yang tanpa sadar berlaku seperti wanita bahagia pada umumnya saat mengetahui jika saat ini dirinya sedang hamil.


"Selamat Nyonya Rania!" Kami ikut bahagia dengan kehadiran calon janin anda." Dokter Sandra mewakili sekertaris Inez yang ikut tersenyum manis menatap wajah cantik Rania yang jarang ia lihat.


"Tapi, jangan beritahu siapa pun kabar baik ini hingga usia kandungan aku mencapai lima bulan!"


Rania mengingatkan dua wanita yang masih berada di ruang pribadinya yang menyatu dengan ruang kerjanya itu.


"Aku mau kembali ke Jakarta Ines. Lakukan tugasmu dengan baik dan dokter Sandra kalian berdua akan aku beri Boni dua kali lipat di tahun ini."


Rania membereskan tugasnya dengan menandatangani berkas yang sudah disiapkan oleh sekertarisnya sebelum ia meninggalkan kota Bandung.


"Terimakasih Nyonya Rania, selamat jalan semoga selamat sampai tujuan." Ujar dokter Sandra begitu pintu lift terbuka.


Walaupun sudah berjalan satu Minggu sejak ia mengetahui kehamilannya, Rania sedikitpun belum membeberkan kabar bahagia ini pada suami dan ibu mertuanya.


Hal ini sengaja ia lakukan karena ingin menjadikan kabar ini sebagai hadiah ulang tahun suaminya yang berlangsung satu pekan lagi.


"Maaf ya de, bunda sengaja merahasiakan keberadaan kamu dulu dari ayah dan Oma kamu." Rania mengusap perutnya sambil tersenyum bahagia.


"Kenapa senyum-senyum sendiri sayang?"


Haikal sudah berada di belakang punggung istrinya, hingga gadis ini terlonjak kaget karena tidak melihat kedatangan suaminya dari pantulan kaca riasnya.


"Astaga!"


Bikin kaget aja sih mas?" Gimana kalau aku jantungan." Teriak Rania makin sewot.


"Lho ko tiba-tiba marah?" Emang kamu lagi ngapain?"


Haikal menatap wajah cantik istrinya dari balik punggung Rania sambil melingkarkan tangannya di dada Rania.


Ditanya seperti itu, Rania malah gelagapan, ia buru-buru mengubah sikapnya lalu kembali bersikap manis pada suaminya.

__ADS_1


"Kalau dia tahu duluan, bisa hancur rencana surprisenya." Gumamnya membatin.


"Ko diam?" Kenapa lagi kangen ya?"


Haikal menggoda istrinya yang kelihatan memikirkan sesuatu.


"Tidak, tidak apa sayang, sebaiknya mas Haikal mandi dulu karena sebentar lagi mau magrib."


Rania mendorong tubuh suaminya ke arah kamar mandi.


"Ayo mandi bareng!" Pinta Haikal manja.


"Tidak sayang, aku sudah mandi," ucap Rania agak segan.


"Nggak, kamu harus mandi lagi."


Haikal menggendong tubuh istrinya lalu masuk ke kamar mandi.


"Mas Haikal, aku sudah rapi." Rania masih saja menolak.


"Sekarang sudah nggak mau mandi sama mas?"


Haikal pura-pura ngambek agar Rania bersedia mandi dengannya.


"Mas licik, suka gitu alasannya kalau Rania menolak." Bibir Rania sudah monyong satu centi.


"Yah, nggak apa sih kalau begitu mas mandi sendiri saja." Ujar Haikal dengan wajah datar.


"Sudah, aku nyerah sayang, ayo kita mandi bareng." Rania mencolek hidung suaminya yang Bangir lalu menanggalkan bajunya sendiri.


Melihat tubuh istrinya, liur Haikal langsung terbit melihat gundukan kembar yang nampak putih dan ranum yang membuatnya makin tergiur penampakan dua bukit itu.


Tapi ada hal yang membuat ia curiga, karena bentuknya tidak seperti biasanya. Kini belahan dada istrinya makin kelihatan mekar dan padat. Seperti ada sesuatu yang mempengaruhi tubuh istrinya, apa lagi ditunjang dengan bok*ng Rania yang makin membesar.


"Sayang, tubuhmu makin berisi dan padat, padahal makammu tidak begitu banyak, apa jangan-jangan kamu hamil?" Tanya Haikal membuat Rania jadi gugup.


Rania menggeleng dengan cepat, ia tidak mau usahanya untuk memberikan kejutan pada hari ulang tahun suaminya menjadi berantakan.


"Tidak sayang, hanya saja akhir-akhir ini aku hanya doyan ngemil, jadi badanku cepat mekar."


Rania berkilah dari kecurigaan suaminya mengenai tubuhnya.


"Huff!" Jika dia tahu sebelum waktunya, ini tidak terlihat asyik lagi. Rania menyalakan shower dan menarik tubuh suaminya agar lebih merapat ke tubuhnya.

__ADS_1


Untuk menjaga suaminya tidak bertanya lagi, Rania membungkam bibir suaminya dengan ciuman panas darinya.


__ADS_2