
Haikal sedang asyik berkutat dengan pekerjaannya. Saking seriusnya iapun tidak mengindahkan panggilan dari ponselnya yang sengaja dibuat bisu olehnya.
Sekitar dua jam ia menyelesaikan pekerjaannya di laptop miliknya, iapun tersenyum puas karena sesuatu yang ia harapkan dari kerja kerasnya menuai hasil yang begitu memuaskan.
Keuntungan perusahaannya berlipat ganda di setiap sektor industri miliknya yang saat ini sudah merambah ke dunia internasional.
"Rania sayang, kaulah kartu keberuntunganku. Sejak menikahimu, hasil produksi mencapai target yang diinginkan malah lebih dari target market yang kita miliki saat ini." Tawanya renyah sambil memutar-mutar kursi kebesarannya dari kanan ke kiri.
Sekilas Haikal baru menyadari layar ponselnya menyala. Ia kemudian meraih ponselnya dan melihat banyak panggilan yang tidak terjawab dari ponsel miliknya.
"Ini nomor siapa?" Sepertinya berasal dari luar negeri?" Tapi ada pesan juga."
Haikal membuka notifikasi pesan itu lalu membacanya dengan setengah syok.
"Hai my hubby, Ata baru bisa menghubungimu." Tulis pesan itu membuat Haikal seketika menggigil.
Masalahnya hanya dia yang memanggil nama istrinya dengan sebutan Ata dari singkatan nama Renata.
"Apakah ada orang iseng yang mengirim pesan ini padaku?"
Haikal meneguk minumannya lalu mengusap kepalanya sambil berpikir keras bahwa ini bukan perbuatan Renata.
"Tidak Renata, kamu sudah mati, tidak mungkin kamu sengaja membuat lelucon ini. Pasti ini pekerjaan orang iseng yang ingin meneror diriku."
Haikal mengacuhkan pesan itu lalu kembali menatap laptopnya. Tapi sekuat apapun ia berusaha menepis prasangka nya pada pesan singkat itu, hatinya tetap saja gelisah karena tidak ingin menganggap hal ini hanya sepele.
Satu-satunya cara mencari tahu pesan itu dengan menghubungi staf ahli IT yang ada di perusahaannya.
"Hendra, ke ruanganku sebentar!" Titah Haikal dengan terus memutarkan pena yang ada ditangan.
Tok..tok..
Cek..lek, pintu di buka oleh Hendra lalu, pria ini mengangguk hormat pada atasannya sebelum menutupi kembali pintu itu dengan rapat.
"Kemarilah Hendra, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu." Haikal memperlihatkan pesan singkat itu yang nomor depannya terlihat milik negara Amerika.
"Ada yang bisa saya bantu bos?"
Hendra menunggu penjelasan Haikal selanjutnya.
__ADS_1
"Aku menerima pesan singkat dari seseorang yang mengaku dirinya adalah mendiang istriku. Aku ingin kamu menyelidiki nomor ini. Dan siapa pemiliknya."
Hendra mencatat nomor kepemilikan ponsel itu yang tertera di layar ponselnya Haikal.
"Baik bos, beri waktu untuk saya setengah jam karena nomor ini berasal dari Amerika."
Hendra memberikan janjinya untuk menyelesaikan tugas yang diberikan bosnya.
"It's ok, no problem." Ujar Haikal singkat.
Hendra kembali ke ruang IT, sementara Haikal memilih untuk pulang menemui istrinya karena tiba-tiba ia sangat merindukan Rania.
Haikal sudah berada di mobilnya. Mobil itu dengan cepat membelah jalanan ibukota.
Tidak lama kemudian bunyi derit dari ponselnya dengan menampilkan nomor yang sama.
Haikal sengaja mendiamkannya. Tapi, sekarang berganti dengan panggilan video call dari nomor itu membuat Haikal sesaat merasa jengah bercampur jengkel.
Sambil berkendara ia meraih ponselnya dan melihat siapa yang munculnya di layar ponselnya dari panggilan video call itu.
Ketika melihat wajah wanita cantik yang merupakan istrinya itu, Haikal terlonjak kaget dan hampir menabrak mobil yang ada di hadapan. Tak ayal, akibat ia berhenti secara mendadak membuat mobil di belakangnya yang melaju kencang menabrak mobil miliknya hingga mobilnya terseret beberapa meter ke depan.
"Sial!" Kenapa jadi begini."
Haikal meraih ponselnya lalu mematikan ponselnya yang menyebabkan dirinya jadi sembrono berkendara di jalanan ibukota yang saat itu kendaraan cukup padat di ruas jalan tol dalam kota tersebut.
Belum juga ia bernafas lega, seseorang datang menggedor jendela mobilnya dan itu adalah polisi patroli dalam ruas tol dalam kota.
"Selamat siang pak!"
Polisi itu memberi hormat pada Haikal ketika Haikal menurunkan kaca mobilnya.
"Maaf boleh melihat perlengkapan surat-surat kendaraannya? seperti SIM dan STNK milik bapak."
Haikal mengambil dompetnya lalu memberikan apa yang dibutuhkan oleh polisi patroli ruas tol dalam kota tersebut.
"Boleh meminggirkan mobil bapak karena menghalangi kendaraan lain!"
Perintah polisi itu pada Haikal yang kelihatan sangat panik dan geram.
__ADS_1
Ketika membaca nama Haikal yang merupakan pemilik Ricord company, polisi segera mengembalikan semua perlengkapan surat-surat berkendaraan milik Haikal.
"Silahkan dilanjutkan perjalanannya Tuan!"
Polisi itu melepaskan Haikal begitu saja tanpa ada tindakan pemberian sangsi surat tilang pada lelaki tampan itu.
"Mengapa bos melepaskan dia begitu saja?" Padahal kita bisa memanfaatkannya." Seru teman polisi itu gusar pada bosnya.
"Hampir setengah keluargaku bekerja di perusahaan miliknya dan juga ibunya di tambah lagi kekuargaku di Bandung juga bekerja di perusahaan milik istrinya."
Balas polisi Rendra yang ingin meredam amarah rekan sesama polisinya itu.
"Apakah dia salah pemilik perusahaan terbesar di Jakarta?" Tanya temannya.
"Bukan cuma terbesar di Jakarta tapi terbesar di negara Asia Tenggara." Imbuh polisi Rendra.
"Apakah setiap orang kaya yang membuat keonaran dijalan raya mendapatkan perlakuan istimewa dari pihak polantas?" Sindir temannya pedas pada polisi Rendra yang kelihatan tebang pilih dalam menjalani tugasnya sebagai polisi lalu lintas.
"Begitulah permainan hidup, kadang kau harus bersahabat dengan keadaan tanpa mempedulikan lagi prinsip loyalitas sebagai polisi yang profesional." Timpal polisi Rendra yang kelihatan tersinggung dengan perkataan rekan kerjanya sesama polisi.
Sementara itu, Haikal yang baru tiba di mansionnya kelihatan sangat gemetar mengingat ia melihat tampang istrinya yang tiba-tiba saja muncul di layar ponselnya.
Ia kemudian memblokir nomor itu karena dianggapnya itu adalah orang iseng yang mencoba berdandan seperti istrinya.
"Tidak mungkin itu hantunya Renata. Hantu hanya ada di film maupun drama. Dalam kehidupan nyata orang hanya bisa berhalusinasi dengan orang yang dicintainya seakan mereka masih hidup. Yang aku lihat tadi bukan Renata." Ujar Haikal yang masih duduk termenung di dalam mobilnya tanpa ingin turun.
Gedoran pada jendela mobilnya, mengagetkan Haikal yang masih syok melihat hantunya Renata.
"Ais!" Sialan ini pelayan, apakah dia tidak tahu aku juga sedang kalut disini. Bikin kaget saja."
Haikal turun menatap tajam wajah pelayannya yang berani mengagetkan dirinya.
"Ada apa!" Bentak Haikal menjadi kasar pada pelayannya.
"Maaf bos, saya disuruh nyonya Malika memanggil anda."
Ujar lelaki paruh baya itu pada Haikal sambil membungkuk tubuhnya.
"Iya, aku akan masuk menemui ibuku. Apakah istriku ada di mansion?"
__ADS_1
"Ada Tuan Haikal. Nona muda sedang bermain sama si kembar di kamar mereka." Ujar pelayan itu.