HEMBUSAN AYAT CINTAKU DI PUCUK RAMADHAN

HEMBUSAN AYAT CINTAKU DI PUCUK RAMADHAN
14. MENIKAH


__ADS_3

Setibanya di hotel zam-zam tower, Haikal dan maminya mulai ritual umroh pertama mereka. Keduanya belum sempat bertemu dengan Rania karena ingin melakukan niat utama mereka yaitu melakukan ibadah umroh terlebih dahulu sebelum urusan mereka dengan manusia.


Dalam ritual ibadah ini, Haikal benar-benar khusu memohon pertolongan Allah untuk dimudahkan urusannya untuk bisa menikahi Rania, gadis pujaannya.


karena ibadah umrohnya dilakukan sore hari, maka keduanya cukup semangat karena usai menunaikan sholat sunah dua rakaat setelah melakukan tawaf dan di lanjutkan dengan sa'i. Keduanya saling menggunting rambut tanda selesainya ibadah mereka dengan tahalul.


Tidak lama kemudian mereka kembali ke hotel untuk menunggu waktu berbuka puasa.


Masing-masing diantara jamaah sudah menempati kursi mereka masing-masing dengan lauk pauk yang sudah mereka siapkan diatas meja mereka.


Tapi ada hal sangat mencuri perhatian Haikal dan ibunya ketika melihat sosok gadis yang mereka nantikan yaitu Rania yang baru masuk ke restoran hotel tersebut dengan membawa makanannya menuju tempat yang sudah disiapkan teman kamarnya.


"Rania!"


Haikal ingin menyapa gadisnya, namun di cegah oleh ibunya karena sebentar lagi waktu azan magrib.


"Sayang, jangan terburu-buru! biarkan dia menikmati makanannya terlebih dahulu." Ucap Nyonya Malika.


"Mami, aku merindukannya."


Haikal sedikit kecewa karena ibunya tidak mengerti perasaannya saat ini.


"Rania tidak seperti gadis manapun menerima begitu saja laki-laki lain yang menghampirinya. Kamu bisa melakukan pendekatan dengannya jika kamu sudah sah menjadi suaminya."


Lagi-lagi Nyonya mengingatkan putranya yang tidak sabaran ingin menemui Rania.


Usai sholat magrib berjamaah di Masjidil Haram, Rania kembali ke kamarnya. Tidak lama ia mendengar bunyi bel kamarnya lalu ia melihat siapa yang sedang berada di balik pintu kamarnya.


Betapa terkejutnya Rania ketika melihat dua orang yang sangat dikenalnya sudah berada di depan kamarnya.


"Ya Allah, mereka sudah berada di tanah haram." Ujar Rania lirih.


"Assalamualaikum!"


Nyonya Malika menyapa Rania di ikuti Haikal dengan tersenyum manis di hadapan gadis bercadar ini.


"Waalaikumuslam Nyonya Malika dan Tuan Haikal!" Ujar Rania santun.


"Silahkan masuk!"


Rania lebih melebarkan pintu kamarnya agar kedua tamunya masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Rania menyalami tangan tangan Nyonya Malika disertai cipika cipiki.


"Apa kabar Nyonya Malika!"


"Alhamdulillah Rania, maaf kami datang umroh tidak mengabarimu terlebih dahulu."


"Ini surprise untuk saya karena niat awalnya saya ingin sekali mengajak nyonya dan Tuan Haikal untuk umroh bersama dan akhirnya kesampaian juga." Ucap Rania malu-malu.


"Rania, kami datang ke sini bukan hanya sekedar menjalani ibadah umroh saja nak, tapi kami ingin melamar kamu agar kamu Sudi menerima pinangan saya untuk putra saya Haikal." Ujar Nyonya Malika langsung pada inti permasalahannya.


"Mengapa harus melamar saya di sini Nyonya Malika, padahal anda dan tuan Haikal bisa melakukannya setelah tiba di Jakarta." Ujar Rania.


"Justru kita mumpung berada di tanah suci Mekkah, makanya saya ingin kalian menikah di sini dalam nuansa bulan ramadhan untuk menghindari fitnah."


Betapa gugupnya Rania ketika mendengar penuturan Nyonya Malika yang tidak tanggung-tanggung memintanya untuk melakukan pernikahan begitu mendadak.


"Tapi Nyonya Malika, saya tidak punya persiapan apapun karena ini sangat mendadak untuk saya."


Rania makin salah tingkah dengan pernikahan ini.


"Tidak usah kuatir, mami sudah mengurung semua dokumen kamu di kedutaan Arab Saudi di Indonesia kemarin tanpa kamu mengetahuinya, jadi tidak ada kendala lagi kecuali keridhaan dari hatimu saja, sayang."


Nyonya Malika memberikan kejutannya untuk mantan asistennya ini.


"Insya Allah Nyonya Malika, saya siap menikah dengan Tuan Haikal."


Haikal langsung sujud syukur ketika mendengar Rania menerima pinangannya.


"Alhamdulillah terimakasih Rania. Mulai saat ini, jangan lagi panggil saya nyonya dan Haikal Tuan. Panggil aku mami saja."


"Panggil saja namaku Rania!" Ujar Haikal.


"Baik!"


Rania menyanggupi permintaan kedua ibu dan anak ini. Kebahagiaan nampak terasa di hatinya karena ia tidak menyangka sebentar lagi akan menyandang status Nyonya Haikal.


🌷🌷🌷🌷🌷


Sekitar jam delapan pagi pernikahan keduanya berlangsung dengan khidmat. Ijab kobul yang diucapkan oleh Haikal sangat fasih dalam satu tarikan nafas.


Usai ijab kobul Haikal menyerahkan mas kawin berupa seperangkat perhiasan batu permata dan perlengkapan alat sholat untuk sang istri.

__ADS_1


Rania menerimanya dengan senang hati lalu mencium tangan suaminya dengan penuh takzim.


Doa dipanjatkan oleh penghulu untuk kebahagiaan keduanya.


Tapi di sela nasehat pernikahan yang disampaikan oleh penghulu ada satu nasehat yang mengingatkan keduanya agar tidak khilaf sebagai pengantin baru di bulan Ramadhan ini.


"Ingat Haikal ini masih bulan ramadhan, walaupun waktu tersisa hanya seminggu lagi namun harus tetap jaga syahwat untuk tidak menggauli istrimu di siang hari.


Salahmu sendiri karena memilih menikah di bulan ramadhan, jadi terima resikonya." Ujar pak penghulu mengundang tawa para hadirin yang merupakan jamaah umroh yang sebagian besar berasal dari Indonesia yang sengaja diundang oleh nyonya Malika untuk menyaksikan pernikahan putranya dan Rania.


Pengantin baru ini hanya tersipu malu mendengar nasehat dari penghulu.


Rombongan jamaah umroh kembali lagi ke hotel untuk beristirahat. Sementara Rania dan Haikal sudah berada di kamar mereka.


"Rania!"


Haikal memanggil istrinya dengan membawa Rania ke ranjang mereka.


"Iya mas Haikal." Ujar Rania.


"Aku tahu kita sama-sama sedang dalam keadaan puasa, tapi bolehkah saya membuka cadar dan jilbabmu saja. Hanya ingin melihat wujud asli rupamu tanpa tertutup dengan hijab dan cadar ini." Pinta Haikal penuh harap.


"Silahkan mas!" Rania adalah milikmu sekarang tapi jangan melanggar perintah Allah di bulan Ramadhan ini, apa lagi kita berada di tanah haram."


Jelas Rania mengingatkan lagi suaminya yang ingin melihat dirinya.


Karena mendapatkan ijin dari sang istri tercinta, Haikal membuka cadar Rania penuh kelembutan.


"MasyaAllah!" Sungguh cantik dan indah ciptaanMu ya Robby pada istriku."


Haikal memuji kecantikan istrinya hanya baru melepaskan cadar Rania saja belum dengan hijab panjang Rania yang masih menutup seluruh tubuhnya.


"Ya Allah, hanya dengan membuka cadarnya saja, jantung rasanya mau berhenti apa lagi membuka jilbab ini."


Haikal makin grogi dengan tangan yang sudah gemetar.


"Apa aku harus melanjutkan membuka hijabnya atau tunggu nanti malam dulu. Wajahnya saja sudah secantik ini, bagaimana kalau aku melihat rambut dan leher istriku, bisa-bisa imanku tidak terkontrol nantinya."


Haikal kelihatan makin gelisah karena tidak bisa menentukan sikapnya saat ini, antara membuka jilbab syar'i milik istrinya saat ini atau menunggu nanti malam saja.


"Mengapa mas Haikal berhenti dan diam saja?" Bukankah mas Haikal ingin membuka hijabku juga?" Tanya Rania pemasaran.

__ADS_1


"Aduh de, boro-boro mau membuka jilbabmu yang akan menampakkan kecantikanmu yang lebih dari ini. Hanya melihat wajah cantikmu dengan membuka cadarmu saja, aku sudah tidak bisa mengusai diriku." Ujar Haikal hingga mengundang tawa Rania yang merasa lucu melihat wajah gelisah suaminya yang ingin menjamahnya namun terhalang dengan puasa ramadhan yang mereka jalani.


__ADS_2