
Haikal memeluk istrinya yang sedang berdiri di balkon kamarnya. Harum tubuh Rania membuatnya merasakan ketenangan mencium aroma parfum lembut milik istrinya.
Diperlakukan seperti itu membuat Rania sedikit menggelinjang geli karena tangan Haikal sudah masuk di antara celah-celah baju gamisnya yang memang menggunakan kancing bagian depan.
"Mas Haikal, nanti diperhatikan sama pelayan."
Keluh Rania seraya melepaskan tangan suaminya yang sudah menggapai bagian belahan dadanya.
"Aku menginginkan dirimu sayang."
Deru nafas Haikal nampak begitu berat dan itu sudah menandakan suaminya tidak ingin menunda untuk kebutuhan yang satu itu.
Sebagai istri yang mengerti hukum agama Islam yang tidak boleh menolak ajakan suami ketika sedang menginginkan istrinya, membuat gadis ini mengabulkan permohonan sang suami tercinta.
Haikal yang ingin melupakan kejadian tadi siang nampak rileks dan menikmati permainan panas mereka di kala sore itu.
Peluh sudah membanjiri tubuh keduanya, namun hentakan itu tidak juga reda, seakan keduanya memiliki tenaga ekstra untuk menyalurkan hasrat birahinya masing-masing.
Apa lagi ditambah dengan erangan manja sang istri membuat Haikal makin betah berlama-lama di bawah sana memendam miliknya yang tertanam di belahan tubuh sang istri.
Senyum merekah diantara keduanya yang kembali mengecap manisnya bibir dan lidah mereka saat saling berbagi saliva.
Haikal menumpahkan semua cinta untuk sang istri bersama benihnya yang sudah tersalurkan dengan baik pada tempat yang paling suci. Harapannya hanya satu agar istrinya secepatnya hamil hingga tidak lagi membagi pikirannya pada mas lalu yang sulit pupus karena datangnya kembali pesan aneh untuk orang yang sudah tidak lagi masuk dalam daftar kenangannya.
Namun sayang sekuat apapun ia ingin mencari kesenangan ditubuh istrinya, Haikal tetap termenung memikirkan nasib pernikahannya dengan Rania jika istri pertamanya tiba-tiba muncul.
"Sayang, mengapa jadi bengong seperti itu?" Rania memeluk dada bidang itu yang masih terdapat peluh.
"Apakah kamu akan tetap bersamaku jika suatu saat nanti istri pertamaku tiba-tiba muncul?"
Haikal menangis pilu. Betapa takutnya ia, jika kehilangan Rania yang begitu sempurna untuknya hanya karena kehadiran mendiang istri pertamanya yang kematiannya dianggap rekayasa oleh Rania.
"Mas Haikal, ko tiba-tiba ngomong begitu?" Padahal perkataan Rania tempo hari hanya sekedar omong kosong belaka. Tidak serius ko." Rania mencoba membantah kembali kata-katanya pada suami tentang kematian Renata yang hanya direkayasa oleh gadis itu.
__ADS_1
"Jika kamu tahu sayang, hari ini ada pesan masuk dari Renata dan juga wajahnya yang tiba-tiba berada dilayar ponselku, mungkin kamu akan sana bingungnya denganku saat ini." Gumam Haikal membatin.
"Aku tidak tahu ke depannya nanti seperti apa mas, tapi aku akan berusaha untuk tetap mempertahankan pernikahan kita sayang. Walaupun begitu kita tunggu kebenaran cerita kematiannya. Jika ini murni rekayasa, dia tidak berhak menuntutmu untuk menceraikan aku." Rania akhirnya lepas kendali mengingat suaminya akan direbut kembali oleh Renata.
"Bagaimana jika apa yang terjadi padanya murni kecelakaan sayang?"
Haikal masih ingin tahu pendapat istrinya. Ia tidak ingin Rania akan menyingkir sendiri darinya jika Renata tiba-tiba datang menghancurkan pernikahannya dengan Rania.
"Kalau itu aku tidak tahu mas, semuanya kembali kepadamu. Kamu mau memilih dia atau aku?"
Haikal makin pusing mendengar jawaban Rania yang masih abu-abu padanya.
"Sudahlah sayang, jangan terlalu dipikirin sesuatu yang belum jelas terjadi."
Rania tidak terlalu suka jika Haikal terus-menerus membahas tentang Renata, entah perempuan itu masih hidup atau nggak, ia tidak perduli, baginya Haikal adalah miliknya kini dan Renata sudah dianggap mati oleh suaminya.
🌷🌷🌷🌷
"Mama, mengapa kita selalu membaca taauz terlebih dahulu sebelum membaca Alquran?" Tanya Daffin.
"Karena dengan kita membaca taauz, itu membuat setan terpental saat kita ingin melakukan kebaikan. Setan tidak suka kita lebih dekat dengan Alquran atau ibadah lainnya, entah sholat, puasa maupun bersedekah."
Rania menjelaskan sesuai dengan apa yang bisa dicerna oleh anak seusia Daffa dan Daffin.
"Berarti apa pun yang kita kerjakan harus baca taauz saja atau cukup dengan bismillah?"
Kini giliran Daffa yang ingin mendengar penjelasan kakaknya.
"Kalau bisa, baca keduanya boleh atau salah satunya juga boleh. Yang penting kita selalu ingat kepada Allah dan memulai sesuatu aktivitas harus baca doa paling tidak bismillah supaya Allah ridho apa yang kita lakukan dalam kehidupan kita." Imbuh Rania.
"Baiklah kalau begitu, mulai sekarang aku harus baca bismillah termasuk memukul kamu Daffin." Canda Daffa membuat Daffin mulai kesal dengan saudaranya ini.
"Tuh kan, mama, Daffa suka memukul Daffin."
__ADS_1
Si kembar saling menjahili satu sama lain dan ujung-ujungnya akan berantem.
Rania selalu mempunyai cara jitu setiap kali menenangkan si kembar jika sudah berlebihan becandaan mereka.
Tidak berapa lama keduanya mengambil wudhu dan berangkat sholat isya berjamaah di mesjid bersama Haikal.
Rania dan ibu mertuanya memilih sholat di rumah berjamaah.
Usai sholat berjamaah, Rania membahas apa yang menjadi beban pikiran yang menganggu dirinya saat ini.
"Ada apa Rania, kenapa tiba-tiba termenung usai sholat?" Nyonya Malika menatap wajah Rania.
"Gini mami, bagaimana jika suatu saat nanti Renata akan datang lagi dalam kehidupan Haikal?" Apa yang mami akan lakukan pada gadis itu?"
Rania ingin berbagi kegundahan hatinya saat ini bersama dengan sang mertua.
"Rania, kamu ngomong apa sayang?" Mana mungkin orang yang sudah mati bakalan muncul lagi?" Jika kamu merasa cemburu, untuk apa juga cemburu pada orang yang sudah mati sayang."
Tanggapan nyonya Malika yang tidak mengerti sesuatu yang sedang terjadi saat ini yang dirasakan Haikal dan Rania tentang kehadiran Renata walaupun hanya melalui pesan singkat.
"Apakah mami tidak curiga dengan kematian Renata yang terkesan direkayasa?"
Pertanyaan Rania langsung pada inti permasalahannya.
"Rania, mengapa kamu tiba-tiba bahas ini. Bukankah itu akan menganggu mentalku? Mami hanya ingin kamu cepat hamil dan berhentilah memikirkan Renata karena dia sudah meninggal dunia."
Ucap Nyonya Malika yang tidak ingin melihat menantu kesayangannya ini sedih.
Sebenarnya jauh dalam hati nyonya Malika yang ikut curiga dengan kematian Renata. Apa yang dikatakan oleh Rania seakan benar adanya.
Nyonya Malika tidak serta merta mendengar begitu saja ocehan menantunya Rania. Ia pun bertindak dengan menyewa detektif untuk menyelidiki kasus kematian menantu pertamanya itu. Walaupun sebenarnya sudah dilakukan oleh Haikal dan Rania secara diam-diam.
"Semoga saja, apa yang menjadi kecurigaan mereka tidak lah benar."
__ADS_1