
'kriing...kriing...' bunyi telepon di kediaman Abah Muchsin.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam . Assalamualaikum, Abah"
"Dini . Apakabar kamu nak,"Abah Dini menjawab dengan mata berkaca-kaca.
"Alhamdulillah baik Abah , Abah apa Kabar ?"
"Abah Alhamdulillah sehat nak,"
" Dini cuma mau minta doa dari Abah dan Ummik,"
"Doa?"
"Iya Abah,'Doa' minggu depan Dini akan Melahirkan,"
"Alhamdulillah Ya Allah.., kenapa kamu baru kasih kabar ke Abah nak,"
"Ya maaf Abah, Dini hanya tidak mau membuat Ummik khawatir dan kepikiran Dini terus,'
Abah tidak menghiraukan penuturan Dini dan langsung teriak memanggil - manggil Ummik.
"Mik,Umiik.."
"Ada apa to Bah ?kok teriak-teriak,"Umiik tergopoh-gopoh menuju ruang tamu lalu mendekati Abah.
"Ada apa Bah,"
"Ini Mik..., Dini ini ," sambil menunjukan gagang telepon kepada Ummik ."
" Dini kasih kabar ini , katanya minggu depan dia Melahirkan Mik," tangan kiri Abah lalu meraih tubuh Ummik dan memeluknya erat.
"Alhamdulillah Abah,kita mau jadi Eyang Bah,"
Mereka berdua berpelukan erat sambil meneteskan air mata haru.
"Sini-sini Bah Ummik mau bicara sama Dini,"Ummik mengambil gagang telepon dari tangan Abah.
__ADS_1
"Dini anakku , gimana nak, , perutnya nggak sakit? kaki kamu bengkak enggak?terus nafsu makammu?"serangan pertanyaan begitu banyak di lontarkan Ummik untuk Dini.
"Ummik jangan khawatir Miik , Alhamdulillah Dini sehat , Mas Fahmi menjaga Dini dengan sangat baik disini."
"Alhamdulillah naak , Fahmi memang Laki -laki yang baik nak,dia jodoh terbaik yang Allah berikan untuk kamu."
"Iya Ummik, Mas Fahmi sangat perhatian pada Dini, apalagi sejak Dini hamil Miik,"
"Nanti Ummik dan Abah pasti akan datang sebelum waktunya kamu Melahirkan , supaya Ummik dan Abah bisa menemani kamu melahirkan nak."
" Alhamdulillah , Dini senang sekali mendengar nya Miik, Iya Ummik, Dini pasti senang sekali jika Abah dan Ummik ada untuk menemani Dini Melahirkan ."
"Ummik maaf , Dini tutup dulu telponya , besok Dini telepon lagi,ini Dini sudah di tunggu mas Fahmi untuk di ajak jalan-jalan di depan "
"Baik nak,hati-hati ya, Assalamualaikum,"
"Waalaikumusalam Ummik,"Dini menutup teleponnya,
"Mas Fahmi,"Dini memanggil suaminya dengan tersenyum lembut pada suaminya.
"Ayo mas."
Awalnya Dini menutup hatinya untuk Gus Fahmi , namun karena kesabaran dan kelembutan hati Beliau , membuat Dini perlahan bisa menerimanya dan perlahan menghilangkan wajah Lucky dari ingatannya , walau kini masih sedikit terlintas angannya akan Lucky , namun Dini menikmati pernikahannya .
π·π·π·
Tiga hari kemudian Abah dan Ummik menelpon , memberi kabar bahwa esok akan melakukan perjalanan dengan kereta api, Beliau berdua memberikan kabar pada Dini,bahwa Beliau akan sampai siang hari.
keesokan harinya , Gus Fahmi dengan segera bersiap - siap untuk menjemput kedua Orang Tua Dini.
"Dek, sudah siang ini , Mas Fahmi berangkat dulu ya ke stasiun ?
"Iya Mas, Mas Fahmi hati-hati di jalan ya?"
"Iya dek,kamu istirahat aja, jangan risau,"
" Iya Mas , "
Dini meraih tangan Gus Fahmi lalu mencium tangannya. sambil berjalan hingga muka pintu untuk mengantar Gus Fahmi sampai masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Dini melambaikan tangan nya pada Gus Fahmi , lalu masuk dan menutup pintunya.
Ia rebahan di sofΓ ruang tamu sambil menunggu kedatangan Orang Tua nya.
πΈπΈπΈ
"Abah," Gus Fahmi menghampiri Abah yang sedang berjalan setelah turun dari kereta api lalu mencium tangan Abah .
Dengan segera Gus Fahmi mengambil tas pakaian dari tangan Abah untuk di bawanya, lalu mencium tangan Ummik.
Mereka bertiga berjalan menuju mobil.
Dan setelah sampai rumah, Ummik dengan segera turun di ikuti Abah tanpa menghiraukan barang bawaannya,
Membuka pintu rumah Dini dan segera menemui Dini, Beliau sudah sangat merindukan Dini,sudah hampir dua tahun lebih tidak bertemu dengan Dini.
Sejak Gus Fahmi mengajak Dini untuk tinggal bersamanya usai mereka berdua menikah.
Beliau berdua memeluk erat Dini, sambil menangis penuh bahagia, berkali-kali mengelus perut Dini yang terlihat begitu membuncit.
"Sudah... sudah Abah,ayo Abah silahkan duduk,"Dini melepas kan pelukan Abah dan mengajak Beliau duduk di samping nya.
"Ini Abah," "Ummik," Gus Fahmi memberikan Beliau berdua minum.
"Terimakasih nak Fahmi kamu sudah menjaga Dini dengan sangat baik."ucap Ummik sambil meraih gelas dari tangan Gus Fahmi.
"Sama-sama Ummik,sudah menjadi tanggung jawab saya untuk menjaga Dini dengan baik."jawab Gus Fahmi.
"Ummik.."rintih Dini
"Abah.."
"Mas Fahmi , kenapa rasanya sakit sekali Mas ...,"rintih Dini sambil memegangi perutnya.
"Jangan - jangan---"
" Aduh Mas... sakiiitt..."
Mereka begitu panik melihat Dini kesakitan.
__ADS_1