
Akhirnya Lucky menyaksikan semua nya , detik- detik Papanya menghembuskan nafas terakhir , tubuh lemas tak berdaya , satu - satunya miliknya yang begitu dia sayangi , telah pergi . Lucky tetap tegar , demi mengurus pemakaman Papa nya .
Dan ternyata semua ucapan yang di katakan oleh Papanya , saat masih berada di rumah sakit , itu adalah pesan terakhirnya untuk Lucky .
πΏπΏπΏ
Saat pemakaman Papanya , Lucky tak henti- henti mengusap air matanya , air mata itu terus mengalir , semua kenangan bersama Papa nya terus melintas di angannya .
Setelah pemakaman itu selesai , Lucky langsung duduk bersimpuh , tepat di depan nisan yang menancap itu , di peluknya nisan itu . Lalu menangisi makam Papa nya.
" Tuhan-- , apa yang KAU lakukan padaku , kenapa KAU ambil kedua Orang tua ku," teriak Lucky , mengagetkan para pelayat yang ikut menghadiri pemakaman Papa Lucky , ia berteriak kencang dengan memukuli dadanya sendiri .
" Sudah Mas , sudah , ayo kita pulang mas , " ucap Bibi' sambil merangkul tubuh Lucky.
Namun Lucky semakin marah dan berteriak dengan sangat lantang , sehingga para pelayat ketakutan melihat nya dan akhirnya semua pelayat itu pergi meninggalkan nya sendiri .
" Mas Lucky , ayo pulang Mas . "
" Pulang sendiri sana . Aku nggak butuh di temani . PULANG !! " teriak Lucky membuat Bibi ikut ketakutan . Dan akhirnya Bibi juga meninggalkan Lucky .
πΏπΏπΏ
Kini hidup Lucky seorang diri , dan hidup sebagai yatim piatu .
Kepergian Papanya memberikan bekas luka yang begitu dalam , hingga menciptakan kebencian nya pada sang Pencipta .
Ia merasa sang Pencipta tak adil padanya, karena mengambil semua milik nya, kesayangan nya dengan begitu teragis .
__ADS_1
Sejak saat itu , Lucky menjadi seorang berandalan , hidupnya begitu kacau , dan sama sekali tidak mau mengikuti aturan dalam Agamanya. jiwa nya kosong melompong seperti tidak ada tujuan hidup .
πΏπΏπΏ
Sepulangnya Lucky dari makam, ia membuka pagar rumah dengan kasar dan bicara ngelantur . Berteriak , bernyanyi bahkan ngomel - ngomel nggak jelas .
' Braakk ' ia membuka pintu ruang tamu dengan keras .
"Bi', . " teriaknya , " mending Bibi' pulang kampung aja deh , aku bisa urus diriku sendiri." pinta nya pada perempuan tua yang begitu setia menemani kedua orang tua nya hingga akhir hayat mereka.
" Enggak mas , "
" Bibi' juga sudah sebatang kara , "
"Bibi' sudah nggak punya siapa - siapa ."
" Pokoknya Bibi' gak mau pergi , mau menghabiskan sisa umur Bibi' untuk menemani mas Lucky,"ucap nya memohon.
"Ya udah terserah Bibi', Aku pasti juga jarang pulang," tegas Lucky yang masih di selimuti rasa duka mendalam .
" Nih , buat keperluan Bibi' sehari - hari ." ucap Lucky sambil memberikan amplop pada Bibi , amplop yang berisi kan tumpukan uang kertas .
" Bibi' gak usah capek - capek masak buat aku , biar aku makan di luar aja . Terus ,
Biarin aja semua berantakan , aku gak mau Bibi' sakit, nanti kalau Bibi' capek , Bibi' ikut mati juga ."
Lucky berkata - kata dengan melepas jaket kulitnya yang penuh dengan noda lumpur dari makam , lalu melemparkannya sembarangan . ia mengganti jaketnya dengan jaket bersih yang sudah di siapkan si Bibi' di atas sofa, dimana ia biasa tertidur saat pulang begitu larut.
__ADS_1
"Aku pergi Bi' "
"Kemana to Mas ? kan Bapak baru saja di makamkan ,"
" Aku gak bisa Bii' ," teriaknya marah ,
" Aku nggak bisa diem di rumah , wajah Papa ada dimana - mana , pusing kepala ku Bi' " ucap Erik , dengan sedikit mengecilkan nada bicaranya , karena kasihan melihat Bibi' ketakutan .
Pergilah ia , tak lain lagi tujuan utama nya adalah club' malam . ia menghabiskan beberapa botol minuman , dan tak kan berhenti sebelum tubuhnya tersungkur karena mabuk .
πΏπΏπΏ
Pagi itu ....
" Permisi , " Pelayan bar itu mengetuk pintu rumah Lucky untuk mengantar kan Lucky pulang , dengan mengendarai mobil Lucky .
Seperti biasa dia jadi langganan mengantar Lucky pulang saat Lucky tak berdaya karena mabuk.
Jika biasanya Papa Lucky yang membukakan pintu lalu menggotong nya masuk , kini hanya ada Bibi' yang memapah saja ia tak mampu.
"Masuk aja Pak, maaf bisa kah Bapak memapah mas Lucky sampai kursi situ,"Bibi' meminta tolong pada pelayanan bar itu , sambil menunjuk pada sofa ruang tamu .
πΏπΏπΏ
Kini Lucky hanya hidup berdua saja dengan seorang asisten rumah tangga yang usianya sudah hampir tua , dengan harta peninggalan Orang tuanya yang tak kan habis dimakan oleh tujuh turunan sekali pun , emas batangan berserakan di almari pakaian Papa nya .
Namun lucky tak menghiraukan semua itu, bahkan perusahaan yang di tinggalkan Papanya juga di serahkan begitu saja pada orang kepercayaan Papanya .
__ADS_1
Hidupnya benar-benar berantakan tanpa tujuan , bahkan karena pergaulan nya yang salah dia menjadi preman di komplek perumahan tempatnya tinggal , sekolahpun asal masuk , begitu seterusnya hingga dia lulus SMA .