Hidayah Itu Bernama Cinta

Hidayah Itu Bernama Cinta
Izin Melamar .


__ADS_3

" Assalamualaikum , "


" Waalaikumsalam Ustadz , "


Lucky baru saja sampai di rumah , wajahnya begitu semringah , membuat Hafizah menjadi salah faham .


" Mau saya buat kan kopi Ustadz ? " tanya Hafizah .


" Hmm , gak usah . " jawab Lucky yang duduk di kursi ruang tamu .


" Atau saya ambilkan makan ?


" Nggak , Aku cuma mau rebahan ajah . "


" Monggo Ustadz di dalam kamar ."


" Nggak papร  di sini saja ."


" Enggeh Ustadz , "


Hafizah berlalu dan masuk kamar , meninggalkan Lucky yang duduk sendiri sambil tersenyum - senyum .


Hafizah merasa ada yang aneh dengan sikap Lucky .


Akhirnya Hafizah keluar lagi , dia menemui Bibi' di kamarnya , kamar yang dekat dengan dapur .


Saat Lucky pergi , Hafizah menemui Bibi' yang ada di pesantren , di dalam kamar Lucky yang dulu . Hafizah mengajak Bibi untuk tidur di rumah nya .


" Bi' , Bibi' , " panggil Hafizah dengan mengetuk pintu kamar Bibi.


Bibi' kemudian membuka pintu kamar nya , dan mempersilahkan Hafizah untuk masuk .


" Bi' Ustadz Lucky sudah pulang , saya minta tolong coba di tawarin makan . Mungkin kalau Bibi' yang ambilkan makan Ustadz Lucky mau . "


" Kenapa bukan Mbak Hafizah saja ? "


" Sudah saya coba , tapi Beliau nya tidak mau . "


" Baik Mbak , "


Bibi' lantas menemui Lucky , dan Hafizah kembali masuk ke dalam kamar nya .


" Mas , sampyan gak makan to , Bibi ambilin ya ? "


" Loh Bi' , kok Bibi bisa di sini ? "


" Iya , kemarin Bibi di ajak sama Mbak Hafizah , untuk tinggal di sini saja , baik yo Mas Orange ? "


" Ya emang baik dia . "


" Piye Mas , tak ambilin makan yo ? "


" Iya . "


Setelah itu , Lucky sarapan . Dan kembali beraktifitas di pesantren . Hingga malam hampir larut , Lucky baru pulang .


Lucky hendak mengetuk pintu rumahnya . Namun ketika akan mengangkat tangannya , tiba - tiba pintu nya telah terbuka ,


" Baru pulang Ustadz ? " ucap Hafizah membuka kan pintu untuk Lucky .


" Iya , kok kamu belum tidur . " tanya Lucky pada Hafizah .


" Saya belum bisa tidur , sebelum Ustadz masuk rumah . "


Lucky meletakan kitab di meja , lalu duduk di kursi panjang ruang tamu . Sementara Hafizah melangkah ke dapur membuatkan kopi untuk Lucky .


" Monggo kopi nya Ustadz , " ucap Hafizah meletakan kopi itu di atas meja .


" Iya terimakasih . "


" Saya permisi ke kamar dulu Ustadz . "


" Silahkan . "


" Hmm , Hafizah , tolong jangan di kunci pintunya , nanti saya mau bicara ." tambah Lucky , menghentikan langkah Hafizah .


Hafizah berhenti sejenak , kemudian berlalu tanpa menjawab perkataan Lucky .


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


" Mau kemana Mas Lucky ? " tanya Bibi sambil menutup kelambu dan mengunci pintu .


" Mau ke kamar Hafizah . "


" Ya gitu Mas , tidur nya di kamar , temenin Mbak Hafizah , jangan tidur di ruang tamu terus . " ucap Bibi .


Lucky tidak menanggapi perkataan Bibi , berjalan ke arah kamar Hafizah , tanpa mengetuk pintu kamar . Lucky langsung membuka pintu kamar itu dan masuk .


Di lihatnya , Hafizah sudah tidur . Lucky tidak tega membangunkan nya , akhirnya Lucky berbaring di lantai kamar Hafizah , dengan alas syal kotak - kotak miliknya .


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Mereka saling terbangun di tengah malam , karena terbiasa sholat malam .


" Ustadz Lucky , kenapa tidur di lantai ? "


" Nggak papร  Hafizah . Bisakah saya bicara sekarang ? "


" Saya mau ijin sholat dulu Ustadz , "


" Apa itu lebih penting dari permintaan ku ? bukan kah itu sunnah ?"


" Enggeh Ustadz , saya duduk . " jawab Hafizah sambil menunduk .

__ADS_1


" Dengar kan ceritaku Hafizah , tapi sebelum itu , aku mohon maaf yang sebesar - besarnya , jika ucapan ku akan menyakiti hatimu ."


" InsyaAllah saya siap mendengar nya Ustadz . "


" Kemarin saat saya ada undangan , saya bertemu dengan Dini , sambil menggendong anak kecil yang sedang rewel , menangis memanggil - manggil


' Abi ' , dan saat saya bertanya tentang keberadaan Abinya , Dini menuturkannya pada saya , bahwa ' Abi ' nya telah tiada . "


" Lalu bagaimana Ustadz ? "


" Saya ingin menikahi Dini , dan mencari kanmu pasangan yang baik , tentunya yang lebih baik dariku . "


" Astagfirullahaladzim ," ucap Hafizah dengan menutup mulut nya menggunakan tangan lalu matanya berkedip - kedip menahan air mata .


" Bukan kah aku telah haram untuk kamu miliki ? karena sudah hampir satu tahun aku tidak menyentuh mu . "


" Saya ikhlas menerima semua ini , saya akan siap menunggu njenengan walau pun harus bertahun - tahun lamanya , asal jangan berpisah ."


" Tidak Hafizah , Aku akan mencari kanmu pemuda yang terbaik . " tegas Lucky dengan melangkah kan kakinya keluar kamar .


Sementara Hafizah terus memohon dan meminta Lucky untuk mengurungkan niatnya .


Namun Lucky terus melangkah , tanpa menghiraukan ucapan Hafizah .


Pergilah Lucky ke pesantren , menemui senior yang selama ini begitu ia kagumi , tanpan , lemah lembut dan yang pasti ilmu agamanya tidak di ragukan lagi .


Sementara Hafizah menangis sedih di dalam kamarnya . Ia tidak ingin ada pengganti lain . Cukup Lucky dalam hidupnya .


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


" Khoirul , kemarilah , Aku ingin bicara padamu . "


" Berapa usiamu sekarang ? "


" 29 tahun Ustadz . "


" Apa ada gadis impianmu saat ini ? "


" Hmm , belum ada Ustadz ," ucap Khoirul , dengan tersenyum malu .


" Mau kah saya carikan jodoh untukmu ? "


" Saya terserah pada Ustadz saja , karena pilihan Ustadz tidak mungkin salah . "


" Baiklah , jika Saya telah mendapatkan nya , maka akan Saya beritahu kamu . "


" Baik Ustadz , terima kasih . "


Khoirul kembali beraktifitas di pesantren . Sementara Lucky berfikir keras untuk mewujudkan sebuah kebahagian untuk Hafizah , sebelum Ia pergi meninggalkan nya .


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


" Mbak , Mbak Hafizah ," panggil Bibi sambil mengetuk pintu kamar Hafizah .


" Loh Mbak , sampyan kenapa , kok sedih begini ? "


Hafizah tidak menjawab , tiba - tiba memeluk Bibi dengan tangisannya .


" Oalah , sabar yo nduk , ada apa to ? "


" Ust--- ."


" Sek , sek minum dulu ya ," Bibi memberikan air putih pada Hafizah yang menangis tersedu - sedu . " Wes tarik nafas , terus bicara pelan - pelan ."


" Ustadz Lucky Bi' , saya mau di carikan jodoh yang lain katanya . "


" Maksudte piye to mbak ? Bibi kok bingung . "


" Ustadz Lucky mau menikahi Dini , dan saya di carikan Pria lain . "


" Astagfirullahaladzim , opo - opoan toh Mas Lucky kuih ."


" Sampun Bi' , ampun ngendikan nopo - nopo , Bibi mendel mawon ."


" Memang perempuan itu , kenapa sih kok pake muncul lagi . "


" Sudah Bi' , jangan marah , Istigfar . "


" Iya Mbak , sekarang Mbak Hafizah makan dulu saja , atau Bibi bawain kesini maemnya ? "


" Enggeh Bi' , maturnuwon ."


Hafizah meminta Bibi untuk diam saja , tidak usah bicara tentang itu semua pada Lucky . Dia juga berterima kasih kepada Bibi yang bersedia meminjam kan pundak rentannya itu , untuk nya bersandar serta melepas semua keluh kesahnya , karena Hafizah saat ini , tidak memiliki siapa - siapa untuk nya mengadu .


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


" Hafizah , permisi saya masuk , " ucap Lucky sambil membuka pintu kamar Hafizah .


Lucky yang seharian pergi , akhirnya datang dengan membawa sesuatu untuk Hafizah .


Sementara Hafizah seharian mengurung diri karena sedih .


" Loh , kamu kenapa Hafizah ? kenapa wajahmu masih terlihat sedih begini ? " ucap Lucky sambil menatap wajah Hafizah .


" Ini Hafizah , saya bawakan pakaian lengkap dengan asesorisnya , untuk mu menikah dengan Pria pilihan terbaikku ."


" Kenapa Ustadz tega sama saya ? "


" Bukan tega Hafizah , mengerti lah , Aku sangat peduli padamu . Aku hanya ingin melihat mu bahagia . "


" Tapi bahagia ku adalah berada di samping Ustadz , walau pun tanpa Ustadz sentuh , asal melihat Ustadz


berada di samping saya , saya sudah bahagia ."

__ADS_1


" Tapi Hafizah , Aku telah menemukan pemuda itu , nanti akan ku bawa ke sini , agar kamu bisa melihat nya . " ucap Lucky sambil berdiri dari duduknya , dan akan melangkah keluar .


" Setelah itu , aku akan talak kamu , agar kamu terbebas dari diriku . " ucap Lucky sambil berjalan .


" Ku mohon Ustadz , " tiba - tiba Hafizah bersimpuh di kaki Lucky , Lucky yang telah berjalan hingga mendekati pintu . " Ku mohon Ustadz , baiklah , silahkan Ustadz menikah lagi , saya rela , kalau perlu saya yang akan melamarnya untuk Ustadz . Asal saya masih bisa hidup bersama dengan Ustadz .


" MasyaAllah Hafizah , hatimu begitu mulia , smoga kelak kamu mendapatkan kebahagian . ' ucap Lucky sambil memegang tangan Hafizah , lalu mencium tangannya .


Hafizah begitu bahagia , bisa memberikan apa yang Lucky inginkan , walau itu adalah sebuah izin untuk Lucky menikah lagi , setidaknya dia ikut bahagia jika Lucky pun bahagia .


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Lucky menemui Khoirul lagi , memberitahukan padanya , bahwa dia belum mendapatkan gadis yang sesuai untuk nya , tapi Lucky berpesan pada Khoirul , jika suatu saat Khoirul menemukan seorang gadis , Lucky siap untuk melamarkannya .


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


" Hafizah , dimana Bibi ? " tanya Lucky pada Hafizah .


" Sebentar , saya panggil dulu . " jawab Hafizah sambil berjalan ke dapur .


" Ada Mas ? " tanya Bibi yang muncul dari dapur .


" Nah kebetulan ada Bibi dan Hafizah . Minggu depan kita pulang ke kota , jadi tolong semua di siapkan . "


" Loh Mas pulang to ? Bibi masih pingin di sini , enak Mas adem . "


" Yah , kalau Bibi' pingin adem , ntar AC nya di gedein aja Bi' . " ucap Lucky sambil tersenyum pada Hafizah , yang bergeleng - geleng melihat tingkah lucu Bibi .


" Urusan Pondok , nanti saya rapatkan dengan beberapa pengurus . Dan setiap bulannya kita akan datang ke makam Bapak ." tutur Lucky sambil menatap wajah Hafizah .


" Oh ya Hafizah , nanti semua prabot di tutup saja pake kain , nanti selesai saya pulang dari pondok , saya antar kamu untuk membeli kain . "


" Enggeh Ustadz ."


Senyum Hafizah lebar , dia merasa bahwa hubungan nya dengan Lucky semakin dekat , sejak perdebatan itu , Lucky jadi sering tersenyum padanya . Dia tidak sabar menunggu Lucky kembali untuk mengajaknya ke pasar .


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


" Hafizah , " teriak Lucky dari depan pintu .


" Haf---. " ucap Lucky terhenti , karena melihat Hafizah berdiri di depan pintu dan telah bersiap .


" Lumayan mengagumkan perempuan ini ," dalam benak Lucky , dengan matanya nya menatap wajah Hafizah .


" Monggo Ustadz saya sudah siap . "


Berangkatlah mereka berdua , untuk kali pertama berduaan di tempat keramaian , terasa cangguh buat Hafizah , namun penuh harap menginginkan Lucky berjalan sambil menggandeng tangan nya .


Lucky yang memperhatikan langkah Hafizah , akhirnya menggandeng tangan Hafizah . Tanpa ragรน , dengan tatapan tersenyum Lucky meraih tangan Hafizah .


" Kenapa kamu harus lelah mencari perempuan lain , dan akan menikahi nya , percayalah , aku adalah sumber kebahagian untuk mu . " angan Hafizah dengan menatap tangan mereka saling bergandengan .


" Hafizah , kamu mau ini ? Sepertinya , ini cocok untuk kamu . " tanya Lucky dengan menunjukan hijab pada Hafizah .


Hafizah pun menganggukan kepalanya , kemudian Lucky mengambil hijab itu , dan memberikan nya pada penjual untuk di bungkus .


" Ini Hafizah . " ucap Lucky memberikan bungkusan itu padanya .


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท


" Lelah juga ya , "


" Assalamualaikum , "


" Waalaikumusalam , "


" Bi' , ini tolong di bantu Hafizah nya . " ucap Lucky sedikit cuek , tak seromantis saat di pasar .


Hafizah menatap wajah Lucky , berharap Lucky terus bersikap romantis , seperti ketika berada di pasar , namun Hafizah tidak menemukan nya di wajah Lucky .


Lucky kembali dingin , dan pergi begitu saja , lalu melangkah ke pesantren yang ada di belakang rumahnya , lewat pintu dapur


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Mereka mulai bersiap-siap , untuk pergi lima hari kemudian .


Lucky telah mengurus semua urusan pondok .


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Ustadz , Ustadz . " bisik Hafizah , membangunkan Lucky yang sedang tidur di kursi ruang tamu .


" Ada apa Hafizah , " jawab Lucky dengan matanya yang masih ngantuk .


" Ustadz tidur di dalam saja , biar Bibi' seneng lihatnya . "


" Baiklah ."


Lucky pun berpindah tempat , masuk ke dalam kamar Hafizah .


Hafizah dan Lucky tidak ingin mengecewakan Bibi' , yang sore tadi begitu senang , melihat mereka berdua pulang dari pasar .


" Tidur lah Ustadz , "


" Kamu ? "


" Kita tidur dalam satu ranjang , biar guling yang menjadi pemisah nya . " senyum Hafizah sambil meletakan guling nya .


Akhirnya Lucky tidur pulas , dan saat Hafizah baru saja akan memejamkan matanya , ia mendengar Lucky mengigau , memanggil nama Dini .


" Tenang Ustadz , akan ku pertemukan kamu dengan pujaan hati mu itu . " ucap Hafizah sambil duduk dan menatap wajah Lucky .


Hafizah kemudian kembali berbaring . Lalu memejamkan matanya .

__ADS_1


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท


__ADS_2