
Hafizah begitu ikhlas , berbelanja semua keperluan untuk melamar Dini .
Membuat Lucky terkesan dengan ketulusan Hafizah , namun Lucky masih enggan menampakan perasaannya itu.
" Sudah selesai Ustadz . tinggal esok kita ke rumah Dini . "
" Kita ? benarkah itu Hafizah ? "
" Benar Ustadz, harus berapa kali , Ustadz menanyakan nya pada saya ? "
" Terimakasih Hafizah , " ucap Lucky pelan .
๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Pagi itu ....
" Tok - tok , Ustadz. " panggil Hafizah , sambil mengetuk pintu kamar Lucky.
" Iya Hafizah..., tunggu !!" teriak Lucky dari dalam kamarnya .
Hafizah pun menunggu Lucky tepat di depan pintu , dengan menyandarkan tubuh nya pada kusen pintu .
" Hafizah . " ucap Lucky sambil menatap wajah Hafizah .
Lucky terkejut karena setelah ia membuka pintu , masih melihat Hafizah berdiri di depan pintu kamar nya.
"Aku kira kamu sudah keluar , dan menunggu ku di luar ." ucap Lucky.
" Tidak Ustadz , saya ingin menyaksikan wajah Ustadz Lucky yang sedang berbahagia , karena akan melamar Dini . "
" Biasa saja Hafizah , senyum ku , ya begini adanya , tidak akan ada perubahan . " ucap Lucky lirih , tak tega rasanya melihat perempuan yang ada di hadapan nya itu bersedih , karena akan di madu .
" Tersenyum lah yang lebar Ustadz , buat hatiku bahagia , jangan sia - siakan pengorbanan ku . "
" Oh Hafizah , hatimu begitu mulia , 'permisi' bolehkah aku memeluk mu Hafizah ? " ucap Lucky sambil melebarkan kedua tangannya .
Hafizah tersenyum , seketika berada dalam pelukan suaminya , air matanya pun menetes terharu , karena pelukan itu adalah pelukan pertama nya , sejak pernikahan mereka .
Membuat Hafizah larut dalam kerinduan dan enggan melepaskan nya .
" Hafizah , kamu baik - baik saja ? "
" Hafizah . "
" Iya , Ustadz . " jawab Hafizah , yang lambat melepaskan pelukan Lucky , sambil menatap wajah Lucky .
" Kamu menangis Hafizah ? "
" Kenapa Ustadz lakukan semua ini ? " ucap Hafizah sambil berjalan dan duduk di sofa ruang tengah .
" Maksudnya Hafizah ? "
" Kemarin hatiku telah ikhlas , untuk menyerahkan Ustadz pada Dini . Tapi kenapa Ustadz meminta ku untuk memeluk ? "
" Aku hanya merasa sangat berterima kasih atas semua ketulusan mu Hafizah ."
Mendengar perkataan Lucky , hati Hafizah terbangun kembali dari rasa terlenanya .
Mengusap air matanya , dan kembali tersenyum .
" Hafizah , aku bingung , tolong bicaralah , katakan ada apa , kenapa kamu menangis ?"
" Sudahlah Ustadz , itu tidak penting . " ucap Hafizah , pelan agak menggantung .
Hafizah begitu malu , karena kebodohannya yang tak mampu menahan rasa terlena nya . Berkali-kali ia mengucapkan kalimat Istigfar di dalam hati nya .
__ADS_1
Hafizah lalu menarik nafas panjang , dan berdiri tegap " Bismilaah " " Ayo Ustadz , kita berangkat ."
๐บ๐ฟ
Berangkatlah mereka ke rumah Dini , sebenarnya perjalanan itu tidak terlalu jauh , cukup lurus saja , antara pojok dan pojok , namun karena beberapa bawaan .
Terpaksa harus membawa mobil .
โ๏ธโ๏ธโ๏ธ
" Bah , itu kan mobil nya Lucky ya ? "
" Iya , bener Mik ." jawab Abah .
" Ngapain dia kesini ? " imbuhnya.
" Loh , Bah , itu yang keluar kok perempuan . "
๐บ๐ฟ
" Ustadz tunggu di mobil saja , biar saya yang turun, Ustadz jangan turun dulu , sebelum saya kembali . " tegas Hafizah , sebelum Hafizah turun .
Entah kenapa , Hafizah terlihat lebih tegas dari biasanya, dan entah kenapa pula , Lucky seakan mengiyakan saja pinta Hafizah .
Kemudian Hafizah segera turun , membawa salah satu seserahan , yaitu sebuah perhiasan , yang mana perhiasan itu sama persis dengan yang saat itu melekat pada jemari Hafizah .
๐บ๐ฟ
" Assalamualaikum . Ummik , Abah . " salam Hafizah dengan begitu lembut dan ramah , lalu mencium tangan kedua nya .
" Waalaikumusalaam . "
" Boleh saya masuk ? "
" Oh , oh i iya , silahkan masuk , " ucap Umik agak bingung .
Hafizah lalu tersenyum , menatap wajah Abah dan juga Ummik , seketika ia mengingat kedua orang tuanya .
" Beruntung nya Dini , masih memiliki kedua Orang Tua yang lengkap dan sehat . Oh iya , maksud kedatangan saya---,"
Tiba-tiba Hafizah muncul dari dalam dengan menggendong Hisyam .
" Siapa Abah ? " tanya Dini dengan berpikir.
" Mbak Dini , perkenalkan nama saya Hafizah ." ucap Hafizah dengan menjulurkan tangannya . " Memang mempesona dia , pantas saja suamiku begitu teropsesi " benaknya sambil memperhatikan Dini dengan seksama .
" Saya buatkan minum dulu ." ucap Ummik, sambil akan berdiri .
" Ummiik , tidak perlu repot , saya ingin menyampaikan hal penting pada Ummik , Abah dan juga Dini ."
Dini menatap Hafizah dengan penuh tanda tanya , sambil menengok ke arah depan , wajah Dini agak heran melihat mobil Lucky terparkir di halaman rumah nya.
" Pertama , perkenalkan nama saya Hafizah, istri dari Ustadz Lucky ."
Ucapan Hafizah itu , membuat ketiganya terkejut dan langsung menatap wajah Hafizah .
" Saya datang atas inisiatif saya sendiri , demi kasih sayang saya yang begitu besar pada suami saya. "
Sungguh lagi-lagi , ucapan Hafizah membuat ketiganya semakin penasaran.
" Hampir dua tahun kami menikah , namun Suami saya , masih berharap Mbak Dini menjadi bagian dari hidupnya . Dan hari ini juga , saya akan melamar Mbak Dini untuk Ustadz Lucky . " tegas Hafizah sambil mengusap air matanya , yang terlihat menetes .
" Astagfirullahaladzim . " ucap ketiganya menatap haru wajah Hafizah .
" Berkenankah Mbak Dini menerimanya ?"
__ADS_1
" MasyaAllaah ." saut Abah .
" SubhanAllaah , terbuat dari apa hatimu nak ? " ucap Ummik , sambil berdiri lalu mendekati Hafizah dan memeluk perempuan bercadar itu .
Sementara Dini tak mampu berkata-kata , dia hanya menatap haru wajah bercadar Hafizah , dengan senyuman memelas .
" Ini sebagian pinangan yang saya bawa ." ucap Hafizah sambil meletakan perhiasan di atas meja , yang dari tadi di pegangnya .
" Jika memang berkenan , saya akan kembali mengambil sebagian nya lagi ."
" Haruskah saya menjawab Iya Mbak Hafizah ? bukan kah itu akan sangat melukai hati Mbak Hafizah ? " jawab Dini .
" Entahlah , tapi itulah kenyataannya yang bisa membuat suamiku bahagia ."
" Jujur saja , saya tidak pernah memikirkan ini semua akan terjadi ." ucap Dini .
" Menjadi Abi sambung Hisyam , itulah tujuan Ustadz Lucky . " imbuh Hafizah sambil memegang pipรฌ Hisyam , yang masih berada dalam pangkuan Dini .
Ucapan Hafizah itu membuat Dini berpikir lagi .
" Terimalah nak , hati mereka begitu bersih . " ucap Ummik menatap wajah Dini yang masih ragu untuk menjawab .
Dini diam sesaat ....
" Dini , bicaralah nak , jangan membuat mereka menunggu . " pinta Abah .
" Jadi maksud Abah , Abah setuju bagitu ?" tanya Dini pada Abah nya .
Mengingat Abah yang sebelumnya begitu membenci Lucky . Abah pun hanya mengangguk .
" Jika Abah memang sudah setuju , saya pun menerima nya ." ucap Dini menatap wajah Hafizah .
" Alhamdulillah , " saut Hafizah , di ikuti Abah dan Ummik .
Hafizah dan Dini pun saling berpelukan .
๐บ๐ฟ
Kemudian Hafizah segera keluar untuk mengambil sisa bawaan nya .
" Ustadz . Ayo bantu saya membawanya ," pinta Hafizah pada Lucky .
" Memang nya Abah mau menerima Aku ? "
" Iyaa Ustadz , buruan . "
Lucky segera turun dari mobil dan membantu Hafizah membawa barang .
Setelah masuk , Lucky mencium tangan Abah dan juga Ummik .
Saat Abah dan Lucky saling menatap , antara mereka saling mengingat akan kenangan beberapa tahun silam , saat penolakan itu terjadi .
Hingga beberapa menit kemudian , mereka saling berpelukan.
Membuat air mata Ummik mengalir deras . Karena terharu akan kekerasan hati Abah , yang dulu pernah begitu membenci Lucky . Sekarang hubungan itu telah membaik .
" Duduklah nak Lucky , dimana nyalimu ? kenapa kamu mewakilkan nya pada nak Hafizah ?
" Oh , itu memang kerelaan hati nya Abah , saya hanya manut. " jawab Lucky , sambil melirik wajah Hafizah , karena kagum pada Hafizah , yang mampu mengatasi semua nya .
๐บ๐ฟ
" Abah ikhlas Dini saya jadikan istri kedua saya ? "
" InsyaAllah , ikhlas . "
__ADS_1
Tanggal pernikahan itupun telah di tentukan hari itu juga .
โ๏ธโ๏ธโ๏ธ