
" Abah , tadi waktu Ummik belanja sayur , Ibu - Ibu pada ngomongin Lucky , eh maaf Ustadz Lucky . " ucap Ummik sambil membawa belanjaannya , lalu duduk di samping Abah yang sedang fokus membaca kitab .
" Aah Ummik , mangkanya Miik , kalau sudah selesai belanja itu , langsung pulang , jangan gossip ." saut Abah , dengan menutup kitabnya , kemudian meletakan kitab itu di atas meja .
" Ada apa ? " tanya Abah .
" Hmm , gak ada siaran ulang Bah , " jawab Ummik sewot , lalu berdiri dan melangkah ke dapur .
" Loh ... loh , kok marah to Miik , Abah beneran nggak denger tadi . " rayu Abah mengikuti langkah Ummik .
" Ituloh Bah , si Lucky , "
" Ada apa dengan berandalan itu ? "
" Huss ... , Abah , sekarang dia sudah jadi Ustadz loh Bah , "
" Ha , ha , Mik , kalau bercanda jangan kelewatan . Mana mungkin Mik , orang seperti itu bisa jadi Ustadz , "
" Hmm , Abah gak percaya , itu Ibu - Ibu di depan udah pada heboh membahasnya . '
Abah terdiam , cerita Ummik begitu mengganggu pikirannya .
Iseng - iseng Abah berjalan keliling komplek sambil mendorong Hisyam di kereta bayi .
Abah ingin mencari kebenaran berita tersebut .
Sore itu , setelah Hisyam mandi , Abah minta ijin pada Dini untuk mengajak Hisyam berjalan - jalan . Untuk alih - alih agar Abah mendapatkan informasi tentang kebenaran berita itu .
Dan saat berada di depan rumah Lucky , Abah menanyakannya pada satpam yang berjaga di rumah Lucky , dan betapa kagetnya Abah saat mendengar penuturan satpam itu .
Membuat Abah melamun untuk beberapa saat .
Namun lamunan itu , di bangunkan oleh tangisan Hisyam yang rewel dengan memanggil nama Abi .
Abah pun segera berjalan pulang , dengan berkali-kali mencoba untuk merayu Hisyam .
" Din , Dini "
" Iya Abah , "
" Ini Hisyam nangis . Dia itu rindu dengan sosok Abinya . "
" Bukan Abah , Hisyam memang belum bisa bicara , dan kata Abi adalah yang pertama kali di pelajari . "
" Oh , tapi menurut Abah sih , kamu harus segera mencari pasangan hidup . "
" Lambat laun Hisyam akan terbiasa tanpa Abi nya , lagian , laki - laki mana yang mau menerima janda beranak satu Abah . "
" Jodoh itu di tangan NYA , kita tidak akan pernah tahu itu . "
" Iya Abah . " jawab Dini dengan mengajak Hisyam masuk ke dalam kamar nya .
๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Abah termenung , sedih memikirkan nasib Hisyam dan juga Dini . Abah berangan , andai ada yang melamar Dini , siapa pun itu , Abah tidak akan menolak nya , asal Pria itu bisa membahagiakan Dini .
" Ada apa Bah , Sepertinya Abah sedang risau ? " tanya Ummik dengan membawa secangkir teh .
" Abah tidak tega melihat Hisyam yang sering rewel sambil memanggil nama Abi nya . Padahal sudah hampir tiga tahun Abinya telah tiada . "
" Iya sih Bah , Ummik juga kadang mikir . Atau kita jodohkan lagi saja Abah , "
" Enggak Mik , Abah nyesel sudah pernah menjodoh kan Dini . "
" Tapi Bah , rasanya juga tidak mungkin Dini akan mencari pengganti Almarhum nak Fahmi , pasti Dini lebih memilih untuk hidup menjanda . "
" Iya Ummik . Sepertinya memang begitu , karena susah menggantikan sosok Almarhum yang begitu berkesan ."
Obrolan itu berhenti .
Dan sejak saat itu , Abah gelisah menjalani hari - hari nya . Keadaan Dini membuat Abah begitu risau , berfikir bagaimana caranya agar Dini bisa segera mendapatkan pasangan hidupnya kembali .
๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Pagi itu , seperti biasa , Dini berangkat untuk mengajar .
" Abah , Dini berangkat dulu , Hisyam masih tidur Abah . Mbaknya lagi nyuci baju Hisyam . Dini minta tolong ya Bah , siapa tahu nanti Hisyam terbangun dan menangis ."
" Iya nak , nanti Abah temani Hisyam , berangkat lah keburu siang . "
" Iya Abah . Dini berangkat dulu , Assalamualaikum . " ucap Dini sambil mencium tangan Abah .
__ADS_1
" Waalaikumusalam . "
" Eh Dini , sudah mau berangkat nak ? " sapa Ummik yang baru datang dengan membawa belanjaannya .
" Iya Ummik , Dini berangkat dulu Ummik . Assalamualaikum . " ucapnya sambil mencium tangan Ummik .
" Waalaikumusalam , hati - hati di jalan nak . " jawab Ummik , kemudian masuk ke dalam rumah .
๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Dalam perjalanan Dini , dengan mengendarai mobil nya . Dini melihat ada mobil yang berpapasan dengan nya , seketika melintasi pandangannya , dan membuatnya menoleh , " Kalau tidak salah , itu mobil nya Lucky . " gumanya , Lalu melanjutkan perjalanan nya kembali .
๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Siang itu ,
Abah dan Ummik , sedang bermain bersama dengan Hisyam di halaman teras nya , sambil menunggu kedatangan Dini pulang mengajar .
Tiba - tiba ada dua pemuda yang datang , dengan membawa tumpukan kertas di tangan mereka .
" Assalamualaikum , "
" Waalaikumusalam . "
" Abah ini ada undangan kirim doa , " ucap pemuda itu dengan memberikan undangan .
" Iya , terimakasih ya . "
Abah duduk kembali , lalu mengambil kaca mata dari kantong baju kokonya . kemudian Abah membaca kertas undangan itu .
Dan isinya adalah undangan kirim doa untuk kedua Orang Tua Lucky , namun yang aneh di situ , nama Lucky di beri gelar " Ustadz Lucky " , membuat Abah tercengang .
" Undangan dari siapa Abah ?" tanya Ummik .
" Oh ini , warga komplek Mik . " jawab Abah sambil melipat kertas undangan itu , lalu memasukan nya di kantong baju .
" Kapan Bah ? "
" Besok Mik , ba'dah Isya' , "
" Oh , besok Ummik ingatkan lagi , kan Abah suka lupa . "
๐ฟ๐ฟ๐ฟ
" Mau kemana Bah , kok penampilan Abah keren banget , ini sarung baru ya Bah ? kok Dini baru lihat . "
" Mau ada acara kirim doa , iya ini sarung baru , seragam nya takmir Masjid . "
" Oh , pantesan Dini gak pernah lihat Bah . " jawab Dini berlalu .
" Loh Bah , sudah siap ? baru saja Ummik mau ingatkan Abah . "
" Iya , Abah jalan dulu ya Mik , Assalamualaikum . "
" Waalaikumusalam . "
๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Abah berjalan bersama beberapa Orang yang bertujuan sama , yaitu Tahlil kirim doa di rumah Lucky .
Ketika sudah berada di gerbang rumah Lucky , Abah melihat Lucky mengenakan sarung putih , baju koko putih , serta peci putih . Dengan bersalaman pada para tamu . Melihat itu , Abah langsung memasukan kedua tangannya pada saku baju koko yang di kenakannya .
" Abah , monggo Abah , silahkan masuk . " sapa Lucky dengan menjulurkan tangan nya , yang ingin bersalaman dengan tangan Abah .
Abah terdiam , menatap wajah Lucky dengan tajam , dan akhirnya Abah mengeluarkan tangan kanannya , lalu bersalaman dengan Lucky yang masih mengharapkan tangan Abah .
Lucky begitu senang , terlihat dari caranya tersenyum dan mencium tangan Abah .
Hati Abah seketika luluh , air mata harunya hampir tumpah , namun Abah berusaha menahan .
Cukup bangga dengan perubahan yang terjadi pada Lucky .
Masuklah Abah , melihat semua pajangan yang menempel di tembok rumah Lucky .
Dari mulai foto - foto Lucky bersama para santri , hingga foto ketika ia berceramah , juga beberapa hiasan dinding yang bertuliskan arab .
Acara Tahlil itu berlangsung dengan lancar , beberapa menรน yang memanjakan para tamu telah di sajikan , hingga bingkisan yang di bawakan .
" Abah , ini untuk Hisyam . " kata Lucky , sambil menambahkan bingkisan untuk di bawa Abah pulang .
" BarokAllaah , " jawab Abah sambil berlalu tanpa menatap wajah Lucky .
__ADS_1
Bingkisan untuk Hisyam itu , membuat hati Abah tersentuh , angan Abah mulai menghayal , ' mungkin kah masih bisa menyatukan Lucky bersama dengan Dini .'
๐ฟ๐ฟ๐ฟ
" Assalamualaikum . " salam Abah dengan membawa dua bingkisan itu .
" Waalaikumusalam , " jawab Ummik dan Dini .
" Loh Abah kok bawa dua bingkisan ? " tanya Ummik .
" Nggak tau , tadi shohibul bait menitipkan ini untuk Hisyam . " jawab Abah .
" Benarkah Abah ? baik sekali Orang itu . " saut Dini sambil menggandeng Hisyam yang kini telah bisa berjalan .
" Hisyam , ini dapat rezeki nak , BarokAllaah , ayo kita makan sayang . "
Melihat Hisyam yang begitu lahab makan , hati Abah semakin terharu dan menambah kekagumannya pada Lucky .
๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Dua minggu berlalu , Hafizah yang telah tinggal di rumah Lucky , tidak pernah keluar rumah .
Dia merasa tidak percaya diri untuk keluar rumah , Hafizah belum nyaman dengan suasana kota .
Setiap malam Hafizah tidur di kamar Lucky , sementara Lucky tidur di kamar Almarhum Orang Tua nya .
Semua fasilitas terpenuhi , Hafizah tidak menduga , ternyata Lucky adalah Orang yang berkecukupan . Membuat Hafizah semakin kagum pada Lucky , karena kesediaannya tinggal di pesantren selama beberapa tahun , yang tidur hanya beralaskan tikar , demi menuntut ilmu agama .
๐ฟ๐ฟ๐ฟ
" Hafizah , " panggil Lucky sambil mengetuk pintu kamar .
" Iya Ustadz , silahkan masuk . "
" Permisi Hafizah , saya ingin berbicara sebentar . "
" Monggo Ustadz , silahkan duduk dulu . "
Lucky duduk di atas kasur , lalu meraih tangan Hafizah . Di pegangnya tangan Hafizah . Dan di letakkan di atas telapak tangan Lucky .
" Hafizah , terimakasih atas semua ketulusan hatimu selama ini ."
" Ketulusan apa Ustadz , lawong saya belum pernah memberikan apapun pada Ustadz . "
" Maksud ku , ketulusan mu memberikan ijin untuk ku menikahi Hafizah . "
" Oh soal itu Ustadz , saya ikhlas , asal Ustadz bahagia . "
" Sungguh kamu adalah wanita terbaik yang pernah aku temui . "
" Benarkah itu Ustadz ? "
" Iya itu memang benar . "
" Tapi sayang , Ustadz belum bisa menerima saya seutuhnya . "
" Maaf kan aku Hafizah . Tapi Aku berjanji akan memberikan kebahagian untuk mu , setelah aku menikahi Dini . "
" Iya Ustadz , saya akan selalu menunggu kebahagian itu . "
" Besok aku akan melamar Dini , bersedia kah sore nanti kamu temani saya berbelanja ? "
" Tentu saja Ustadz , saya pasti mau , dan besok , saya yang akan melamar kan Dini untuk Ustadz . "
" SubhanAllah . " ucap Lucky sambil mencium tangan Hafizah .
" Terimakasih Hafizah , Baiklah , sampai bertemu sore nanti , saya berangkat ke kantor dulu . "
Lucky pun pergi , Dia mulai sibuk mengurus kantor milik Almarhum Papa nya yang sudah lama di lalaikannya .
๐ฟ๐ฟ๐ฟ
" Hafizah , ayo . Apa kamu sudah siap ? '
" Sudah Ustadz . "
Hafizah dengan penuh ketulusan hatinya menemani Lucky berbelanja .
Berbelanja semua kebutuhan Lucky untuk melamar Dini .
Rasa cemburu itu pasti ada , namun rasa sayang Hafizah terhadap Lucky lebih besar , hingga mampu menepis rasa kecewa dan cemburu nya .
__ADS_1
" Melihatmu bahagia adalah tujuanku wahai Suamiku tersayang . " kalimat itu yang sering muncul dalam hati Hafizah .