Hidayah Itu Bernama Cinta

Hidayah Itu Bernama Cinta
Di Jodohkan


__ADS_3

Abah mendorong Lucky hingga keluar pagar .


Lucky terus berteriak memanggil nama Dini dengan jari - jari nya yang mencengkeram pagar besi itu .


Dini terus menatap wajah Lucky dari kejauhan .


" AYO MASUK !! " tegas Abah sambil menarik tangan Dini .


Dini hanya bisa pasrah mengikuti langkah Abahnya , dengan kepala nya yang terus menoleh ke belakang untuk menatap wajah Lucky .


Setelah masuk ke dalam ruang tamu , Abah mendorong Dini untuk duduk di sofa .


" Kamu suka sama pemuda berandalan seperti itu ," teriak Abah sambil mengarahkan telunjuknya ke arah luar . " Lalu untuk apa Abah masukan kamu ke pesantren , jika hanya untuk mengenal laki - laki seperti Lucky . "


Dini tidak menjawab pertanyaan Abahnya , ia hanya diam dan menunduk sambil menangis .


" Sudahlah Abah , " " Ayo nak masuk kamar mu sana ," Ummik memeluk Dini dan menyuruh Dini untuk masuk ke dalam kamar .


Dini masuk ke dalam kamar dan menatap wajah Lucky dari jendela kamarnya .


Sementara Ummik berusaha menenangkan hati Abah yang masih di selimuti rasa emosi .


Sementara Lucky masih terus berteriak memanggil nama Dini .


Mendengar suara Lucky yang terus memanggil - manggil nama Dini . membuat Abah semakin emosi .


Akhirnya Abah berdiri dan berjalan menuju kamar mandi , lalu mengambil seember air , kemudian membawa air dalam ember itu keluar dan ...


BYUURR ...


" Pergi kamu dari sini ." teriak Abah dengan menyiram badan Lucky , lalu menyuruh Lucky untuk pergi .


Karena basah kuyup , Lucky pun terpaksa melangkah pergi dan pulang ke rumah nya .


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


" Loh mas , kenapa basah kuyup begini ? " ucap Bibi' mendekati Lucky yang berdiri di depan pintu .


" Lah , terus Bibi' mau diem aja ngelihatin aku basah gini ? sana Bii' ambil handuk ,"


" Iya Mass...."


๐ŸŒบ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Sejak kejadian hari itu , Dini di larang keluar dari rumah oleh Abahnya , pintu ruang tamu di kunci , dan kunci nya di pegang oleh Abah .


๐ŸŒบ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Siang itu ,


"Miik..besok ada tamu , tolong sekarang kamu siap - siapkan jamuannya , karena tamu akan datang pagi . " ucap Abah .

__ADS_1


" Oh ya Miik , tamunya ada tiga ," tambah nya ,


Saat itu Ummik sedang melipat - lipat baju , sementara Dini sedang duduk menyetrika .


" Din , kamu selesaikan semuanya ya ? Ummik mau belanja dulu ."


Ummik pun segera pergi untuk berbelanja .


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Keesokan harinya ...


Pagi - pagi sekali Ummik sudah sibuk , Dini dengan cepat membantu Ummik nya usai sholat subuh , dan selang beberapa menit kemudian , suara mobil berhenti tepat di depan rumah .


๐ŸŒบ๐ŸŒฟ


" Assalamualaikum " tiga orang datang dengan pakaian layak nya seorang 'Kyai' dengan berpakaian jubah , di ikuti pemuda tampan mengenakan baju Koko dan sarung , ada satu perempuan yang usianya hampir seusia Ummik .


'siapa mereka ' gumam Dini bertanya - tanya di hati kecilnya.


๐ŸŒฟ


Dengan lantang Abah segera menjawab salam nya..


" Waalaikumusalaam , silahkan - silahkan , " jawab Abahย  sambil mempersilahkan para tamunya untuk duduk .


" Itu siapa sih Ummik ? " tanya Dini pada Ummik yang mengintip dari ruang tengah sambil membuat minuman ,


" Ummik juga tidak tau Din , "


" Dini.. " panggil Abah


" Miik , Abah panggil Dini tuh , tapi Dini malu Ummik , " ucap Dini dengan wajah yang cemberut .


" Sudah , kamu ikuti saja apa kata Abah kamu , dari pada nanti Abah marah lagi loh.. " senyum Ummik sambil bercanda .


" Din.. Dini " suara Abah kembali memanggil ,


" Iya Abah ," jawab Dini .


Dini akhirnya keluar , namun dengan memakai cadar , sambil membawa nampan minuman untuk di berikan pada tamu .


Pandangan Abah tersorot pada wajah Dini , menatap Dini penuh kecewa , sementara dari belakang Dini , ada Ummik yang mengikutinya dengan tersenyum pada Abah untuk memberi kode agar tidak marah pada Dini yang memakai cadar.


" Nah ... ini anak perempuan saya satu - satunya, " ucap Abah pada tamunya .


Dini langsung menunduk dan mencium tangan Perempuan itu dan hanya menganggukan kepalanya pada dua Pria yang duduk di samping Abah nya .


Dini dan Ummik pun ikut duduk dan berbincang bersama , saling menceritakan dan memuji anak mereka masing - masing .


๐ŸŒบ๐ŸŒฟ

__ADS_1


" Bagaimana ? Apa kita bisa tentukan tanggal nya sekarang juga ? " ucap Abah di tengah - tengah obrolan mereka .


" Sebentar Pak Muchsin , saya tanyakan dulu pada anak saya ," jawab tamu itu , mereka bertiga pun lantas saling berbisik .


tik ..tok tik. .tok .. jarum jam berjalan .


Dan tidak butuh waktu lama untuk mereka bisa menjawab pertanyaan Abah , mereka pun mengutarakan hasil kesepakatan nya .


๐ŸŒท


" Alhamdulillah Pak , anak saya bersedia , untuk tanggal nya saya serahkan saja pada Pak Muchsin ," jawab tamu itu .


Dini masih bingung mendengar arah perbincangan itu .


" Dan untuk seserahan yang saya bawa ini , semoga tidak mengecewakan . "


Sambil menunjuk kan beberapa bawaan mereka yang berjejerย , dan diletakan di meja ruang tamu , ada sekitar 6 kemasan cantik.


" Oh tentu saja tidak mengecewakan Ustadz ," saut Abah.


ย " Baik pak Muchsin saya rasa cukup sampai di sini dulu pertemuan kita ini , saya menunggu kabar berikut nya . Karena perjalanan saya lumayan jauh Pak , jadi saya mau pamit dulu ," ucap Pria tua berjubah itu , sambil berdiri dan berjabatan tangan dengan Abah dan juga Ummik .


Sementara Dini hanya diam dan terus menunduk kan pandangan nya .


Setelah tamu - tamu itu pulang , Dini langsung membereskan gelas - gelas untuk di letakkan di dapur .


๐ŸŒบ๐ŸŒฟ


" Dini , duduk sini dulu sebentar , "ucap Abah meminta Dini untuk duduk di sofa ruang tamu .


" Kenapa kamu tadi harus bercadar ? , untung saja mereka mau walau tidak melihat wajah kamu , " Abah menegur Dini dengan nada kesal .


" Maksud nya Abah ?" jawab Dini , yang masih belum menyadari , jika dia telah di jodohkan .,


" Minggu depan kamu akan menikah dengan anak dari teman Abah tadi ." ucap Abah ,


ย " APA ? " Dini terkejut.


" Tapi kan Dini mau kuliah dulu Abah ,"


Hati Dini rasanya sakit , karena Abah tidak mengajak nya untuk berdiskusi terlebih dahulu .


" Kamu harus nurut apa kata Abah , bawa itu semua pinangan dari calon suamimu ." ucap Abah sambil menunjuk meja ruang tamu yang terlihat sangat penuh oleh beberapa bingkisan itu .


Namun Dini tidak menghiraukan perkataan Abah , Dini segera masuk ke dalam kamar sambil menangis .


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท


" Baca terus cerita nya , semakin masuk pada bab berikutnya , semakin dalam ceritanya ."


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian untuk like , komen & share "

__ADS_1


terima kasih


๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ


__ADS_2