
" Din.. Dini.." terdengar samar dari jendela kamar Dini .
" Din.." bisiknya lirih , karena takut ketahuan Abah .
Dini yang baru saja tidur usai membaca Alquran , masih sangat lelap dalam buaian selimut hangatnya .
" Din.. Dini..."sambil mengetuk - ngetuk kaca jendela kamar Dini .
Ketukan itu membuat Dini tersadar dari lelapnya , dan pandangannya mengarah pada jendela dengan kelambu berwarna hijau mudah itu .
Dengan langkah kaki amat pelan , perlahan ia membuka kelambunya , sedikit ragu dan takut , dan saat kelambunya telah terbuka , Dini begitu kaget melihat sosok bayangan hitam besar di balik jendela , Dini membuka mulutnya dan hampir berteriak .
" Sstt .. ssttt .. sssttt ," saut Lucky sambil menempelkan telunjuknya di bibir , Lucky berusaha menenangkan Dini , agar tidak berteriak .
" Lucky , Kamu kenapa kesini ? awas nanti ketahuan Abah ," Dini begitu takut , tak bisa membayangkan jika tamparan Abah kembali terulang .
" Udah Lucky , kamu pulang saja , pulang sana ." sambil terus melambaikan tangannya dan hendak menutup kembali kelambu jendela nya .
" Din dengerin aku dulu , aku gak tahu harus apa , kenapa kamu tidak pernah keluar rumah ? sudah berhari - hari aku menunggu kamu . "
" Iya aku tau , kamu pasti menunggu aku , tapi semua itu sudah terlambat ," ucap Dini dengan wajah lesu .
" Maksud kamu apa Din ? " tanya Lucky dengan penasaran .
" Minggu depan aku akan di nikahkan oleh Abah ." jawab Dini dengan menundukkan kepala ,
Lucky terdiam untuk sesaat , badan nya lemas tak berdaya , sempoyongan hingga bersandar di dinding sebelah kaca jendela .
" Lucky .. Lucky .. kamu baik-baik saja kah ?"ucap Dini di balik jendela , dengan nada khawatir .
Lucky tidak menanggapi kekhawatiran Dini , dia berjalan menuju jalan yang tadi ia telusuri untuk dapat masuk ke dalam rumah Dini , hatinya hancur dan begitu kecewa .
__ADS_1
Dia menyayangkan sikap Dini yang tak mampu untuk melawan kehendak Abahnya , namun di sisi lain dia juga mengagumi Dini yang begitu patuh pada Orang tuanya .
Hari demi hari pun berlalu , undangan pernikahan Dini sudah tersebar di komplek perumahan nya .
๐บ๐ฟ
" Bang undangan dari Pak Muchsin ." dua anak remaja memberikan undangan pernikahan itu pada Lucky , yang sedang duduk di teras rumah nya .
" Makasih ya ," jawab Lucky.
Pelan - pelan ia membuka undangan itu , rasanya tak sanggup membaca nama Dini bersanding dengan orang lain .
Dan begitu ia membaca nya...
Benar sudah tubuh nya seketika menjadi lemas.
Namun beberapa saat kemudian , tiba - tiba ia berdiri tegap kembali , ' Masih ada jalan' gumamnya .
Ia mulai mengatur rencana konyol untuk menggagalkan pernikahan Dini .
๐ฟ๐บ๐ฟ
Ketika itu ,
Pernikahan Dini telah di gelar , banyak tamu datang serta beberapa saudara , semua bersiap untuk menyaksikan akad nikah yang akan berlangsung beberapa menit lagi .
Dan Lucky berusaha menyelinap masuk ke dalam teras rumah Dini , ketika penghulu sedang menjabat tangan calon suami Dini .
Lucky lalu berdiri di tengah acara pernikahan Dini , dan berteriak .
__ADS_1
" BERHENTI.!!! pernikahan ini tidak sah " teriak Lucky di tengah - tengah acara yang sedang berlangsung .
" Lihatlah pengantin Perempuan itu ,wajah nya penuh dengan deraian air mata , ini pemaksaan namanya , "ย tegas Lucky.
Semua Orang langsung menoleh dan memperhatikan mata Dini lalu Mereka saling berbisik,membicarakannya.
"Diam Kamu.! ngawor kamu. jangan asal bicara kamu ,"langkah Abah menghampiri Lucky dengan nada keras dan tegas.
"Dini itu hanya terharu,lebih baik kamu pergi dari sini,"teriak Abah sambil mendorong Lucky,
Lalu Abah berteriak memanggil para santri untuk mengamankan Lucky sementara waktu.
"Din. "teriak Lucky, "Jangan mau di nikahkan. aku sayang kamu Din. aku cinta kamu."sambil terus meronta-ronta melawan pegangan tangan para santri yang di kerahkan Abah.
Lucky pun terpaksa di amankan sementara sampai acara selesai.
Abah benar-benar malu pada para tamu undangan yang datang, mereka para tamu menatap wajah Abah dengan penuh kebencian.
"Mari kita lanjutkan acaranya"kata Abah pada Pak penghulu.
Acara pun akhirnya berjalan dengan lancar walau di banjiri linangan air mata oleh Dini dan Lucky.
"Kamu baik-baik saja,?"sang Ustadz bertanya, sebelum ia mengucapkan Ijab Qobul, karena terharu melihat mata Dini yang sembab karena terus menerus menangis.
Beliau sama sekali belum pernah melihat wajah Dini seutuhnya,karena Dini yang terus memakai cadar sejak awal bertemu hingga pernikahan berlangsung.
Akad nikah telah usai .
๐ท๐ท๐ท
__ADS_1