Hidayah Itu Bernama Cinta

Hidayah Itu Bernama Cinta
Back to Dini


__ADS_3

Setelah pertemuan nya kembali dengan Dini , hati Lucky begitu berbunga - bunga .


Entah perasaan apa yang timbul di hatinya , perasaan itu membuatnya bahagia dan mampu memberikan semangat baru dalam hidupnya , hidup yang selama ini mematahkan segala keceriaan nya . Seperti hilang harapan .


" Tumben Mas , kok rapi ? memangnya mas Lucky mau kemana ? " tanya Bibi' dengan tatapan heran melihat perubahan penampilan Lucky yang sedikit rapi .


" Apaan sih Bii' , emang nyisir rambut aja , nggak boleh ya ? " tanggapan Lucky sedikit malu , dengan nada sinis dan sambil menyisir rambutnya di depan cermin ruang tengah .


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Hampir setiap hari Lucky mencari perhatian Dini , mondar - mandir berjalan mengelilingi komplek , berulang kali lewat di depan rumah Dini , sambil terus melirik halaman rumah Dini , berharap ada kesempatan kembali untuk memandang wajah Dini yang membuat nya tergila - gila .


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒฟ


Waktu itu , tiba - tiba saat lucky sedang berdiri di ujung jalan , Dan memantau rumah Dini , ia melihat Dini bersiap dengan motornya , lalu samar - samar mendengar suara Dini sedang berbicara dengan Abahnya . Lucky pun segera masuk ke dalam mobil nya , karena takut ketahuan Abah , mobil yang di parkir selisih satu rumah dari rumah Dini .


" Dini berangkat dulu Abah ," ucap Dini berpamitan pada Abah nya .


" Assalamualaikum " salam Dini , di sertai dengan langkah nya , yang keluar untuk membuka pagar besi berwarna hijau , yang menjulang agak tinggi , kemudian menaiki motornya dan berhenti tepat di depan pagar itu , lalu segera turun dari motor untuk menutup kembali pintu pagar rumahnya .


Berangkatlah Dini untuk mencari alamat kampus yang akan di jadikan nya pelabuhan terakhir menimba ilmu hukum agama yang ia cita - citakan dari kecil .


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Dan , setelah tiba Dini di kampus ,


ia berbelok ke tempat parkir , untuk memarkir kendaraanya .


Kemudian lekas masuk ke dalam kampus tersebut , untuk mencari semua informasi yang dia perlukan .


Ketika Dini sedang berjalan menuju sebuah ruangan , ia berpapasan dengan seseorang , orang tersebut bertubuh tinggi , lalu berpakaian serba hitam dan bercadar . Tanpa sengaja Dini menyenggol orang tersebut , hingga bolpoin yang di pegang orang itu terjatuh .


" Ehmm. , maaf , " ucap Dini sambil membungkuk mengambil bolpoin yang terjatuh .


" Ini , "


Dini memberikan bolpoin itu dan tidak berani menatap wajah orang tersebut , lalu melanjutkan kembali langkahnya .


Sadar bahwa orang tersebut berbalik badan dan mengikuti nya , Dini pun melangkahkan kakinya lebih cepat .


Dini berkali - kali menoleh , namun sosok itu selalu menghilang , Dini melanjutkan kembali langkahnya dan tidak lagi menghiraukan nya .


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


" Alhamdulillah . " Gumam Dini .


Setelah semua urusan nya selesai , Dini merasa sangat haus , kemudian ia mencari kantin untuk membeli es teh .


Dini berjalan menuju kantin , kemudian memesan es teh , dan mencari tempat duduk untuk menikmati teh itu .


" Bu , saya duduk di situ ya ? " Dini berkata lembut pada Ibu kantin sambil menunjukan tempatnya duduk .


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท


Beberapa menit kemudian ada yang mengantarkan pesanan Dini . "


" Teh manis dua gelas ya mbak ? " di tangan kanan dan kiri Pria itu membawa dua gelas teh manis .


" Maaf Saya pesan cuma satu Mas , " ucap Dini dengan mengangkat kepalanya .


" Luuckyy " Dini terkejut dengan kehadiran Lucky yang menyajikan teh manis untuk nya .

__ADS_1


" Iya mbak Dini , " jawab Lucky sambil meletakkan teh manis nya , lalu duduk di kursi besi bersebelahan dengan Dini .


" Tadi aku tunggu kamu di depan pagar rumahmu , jadi begitu kamu jalan , aku langsung ikutin kamu dari belakang . " ucap Lucky .


" Dan ... , wanita bercadar yang tadi mengikuti mu itu .. he ... he itu 'aku' . " tambahnya sambil tersenyum dan menatap wajah Dini dengan menengadahkan dagunya di atas telapak tangan.


" Hmm.. kamu ini , ada - ada aja , tapi untuk apa kamu harus ikuti aku ? "ucap Dini dengan malu dan belum sepenuhnya berani menatap wajah Lucky .


๐ŸŒท


" Untuk apa katamu ?' hmm.. " ucap Lucky sambil menghela nafas panjang .


" Ya ... untuk kamu lah.!" tambah Lucky dengan mengambil gelasnya , lalu meminum es teh miliknya .


" Kamu kira untuk siapa ? . Soalnya Din , kalau aku gak sembunyi - sembunyi bisa habis di omelin tuh sama Abah kamu . "


" Oh.." ucap Dini hanya tersenyum menanggapi perkataan Lucky .


" Kok kamu malah senyum aja ? nggak kasian apa sama aku ? " ucap Lucky sambil tersenyum pahit .


" Ya . emang nya kamu kenapa kok di marahin sama Abah ? kamu salah apa ? " canda Dini dengan posisi wajah yang masih menunduk , walaupun dia mulai merasa nyaman ngobrol bersama Lucky , tapi dia masih terlihat cangguh .


" Iya sih , memang aku suka buat masalah di komplek , jadinya aku sering di marahin sama Abah kamu ." ucap Lucky sambil tertunduk lesu dengan jari kanannya yang menggaruk - garuk kepala .


" Ya udah , berarti kan bukan salah Abah dong , kalau Abah marahin kamu ? " saut Dini .


" Iya. , iya bukan salah Abah , memang aku yang salah kok , " untuk pertama kalinya Lucky mau mengakui kesalahannya , biasanya dia paling tersinggung kalau di salahkan .


Mereka berdua masih asyik bercanda dengan menikmati segelas teh manis , begitu banyak pertanyaan , serta mengenang kembali masa kecil mereka yang begitu lucu .


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


" Din.. , " sambil menolehkan kepalanya ke bawah untuk melihat wajah Dini yang dari tadi terus menunduk .


Lucky terang - terangan menyatakan perasaannya pada Dini , sementara Dini hanya menanggapi dengan senyumannya saja .


" Loh..aku ini serius Din ." tegas Lucky , yang melihat Dini tidak menanggapi nya .


" Din lihat wajah ku ! " pinta Lucky sambil menatap wajah Dini.


" Ayo tatap aku . " pintanya lagi , lalu berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Dini .


Kedua tangan Lucky , memegang pundak Dini.


Lucky sedikit memaksa Dini untuk menatap wajahnya , ingin ia buktikan kesungguhan nya pada Dini .


Dini tak mampu menolak sentuhan tangan Lucky , jantung nya ๐Ÿ’“ berdegup kencang , tangannya pun ikut gemetar , ini untuk pertama kalinya dia berdekatan dengan seorang pria dewasa .


๐ŸŒท


"Jawab Din , aku hanya butuh jawaban kamu , untuk kekuatan dan semangat hidup ku , " ucap Lucky sambil mengerutkan keningnya . Wajah Lucky terlihat sangat memelas mengharapkan sebuah jawaban dari Dini.


" Ijinkan aku hidup bahagia Din , setelah sekian lama hidup ku berantakan ."


Paksanya ๐ŸŒฟ


" Hmm i..iya , aku mohon Lucky lepaskan tanganmu , ini sakit ,'"ucap Dini sambil menggerakkan pundaknya .


" Oh maaf ! " Lucky langsung melepaskan tangannya , " maaf ya Din " sambil menempelkan kedua telapak tangan nya .


" Aku harus bilang apa , aku sudah berjanji pada diriku sendiri juga pada Abah , untuk tidak akan pernah menjalin sebuah hubungan , kecuali pernikahan ," jawab Dini

__ADS_1


'" Oke aku tau itu , " ucap Lucky .


" Ya.. ya.. kita gak usah pacaran , kita langsung menikah saja , aku akan melamar kamu dan bahagiain kamu ."ย imbuhnya .


" Kamu gak suka sama penampilan ku ya ?" Tenang Din , aku akan merubah nya." imbuhnya lagi .


๐ŸŒบ๐ŸŒฟ


Terlalu lama hidup dalam kesendirian membuat Lucky rela melakukan apa saja di luar kebiasaan nya demi sebuah kebahagiaan dalam vhidupnya .


" Tapi maaf Lucky aku tidak bisa memberikan jawaban itu sekarang , beri aku waktu ." Dini memegang gelas teh nya lalu berdiri.


" Terima kasih teh manis nya ya , aku harus segera pulang." ucap Dini sambil tersenyum dan menunjukkan gelas teh itu di hadapan Lucky .


Bagaimanapun juga di hati Dini masih sangat menyayangi Lucky , sebagai teman masa kecilnya , sebagai sahabatnya . Karena dihatinya memang hanya Ada Lucky , sebagai lelaki yang baik dan penyayang yang pertama kali ia kenal , terlepas dari perilaku Lucky yang sekarang .


" Nggak masalah Din , aku sanggup menunggu kok , setidaknya aku tau dari matamu , jika kamu juga menyayangi aku . " ucap Lucky sambil mengikuti langkah Dini yang berjalan menuju tempat parkir .


" Aku pasti akan berjuang buat dapatkan kamu ," imbuh Lucky .


" Masalah nya cuma Abah sekarang , bagaimana caranya aku bisa meluluhkan hati Abah ," gumam Lucky .


" Kamu bilang apa Lucky ? "ucap Dini yang samar - samar terdengar gumaman Lucky.


" Eng...enggak , itu , dulu waktu aku masih kecil Abah tuh sayang banget sama aku , tapi sekarang , Abah benci banget sama aku ." tutur Lucky dengan wajahnya terlihat murung.


" Nah , pertanyaannya sekarang ,' kenapa Abah jadi benci ,' kamu harus cari tau jawabannya , dan pecah kan masalahnya " saran Dini pada Lucky .


" Oke , aku akan berusaha , menjadi yang terbaik . " lugas Lucky .


๐ŸŒบ๐ŸŒฟ


Mereka pun telah berada di tempat parkir , Lucky membantu Dini untuk mengambil motor Dini dari jejeran beberapa motor , lalu meletakkan motor itu tepat di depan Dini .


" Terimakasih . " ucap Dini lembut .


" Lain kali aku jemput ya ? nggak usah capek - capek bawa motor , " ucap Lucky sambil melambaikan tangannya dan menuju tempat parkir mobil .


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท


Mereka berdua pun telah meninggalkan kampus dan berjalan masing - masing,


Dini langsung pulang menuju rumah nya .


Sementara Lucky berbelok arah untuk mampir di sebuah cafรจ .


Sesampainya di cafรจ Lucky langsung memesan minuman , lalu mengeluarkan ponsel dari kantong celananya , dan mulai menghubungi seseorang .


" Hallo Bi'.. udah makan belum ? " diam sesaat sambil mendengar kan jawaban Bibi'.


" Ah aku gak mau masakan itu , Bibi' saja yang habis kan , makan bertiga sama Pak satpam dan Pak kebun , " canda Lucky pada Bibi' " kalo' gitu aku makan di luar aja ," ucap Lucky mengakhiri pembicaraan di telepon .


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


" Mbak , " panggil Lucky pada pelayan cafรจ.


" Mbak tambah mie pedasnya satu ya ,"


Lucky menikmati minuman nya sambil berpikir dan berencana untuk menemui Abah , ia ingin meminta maaf jika pernah menyakiti hati Abah .


Agar Abah mau merestui hubungannya dengan Dini.

__ADS_1


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท


__ADS_2