
Sudah seratus hari berlalu sejak suaminya meninggal Dunia .
Akhirnya Dini memutuskan untuk pergi , dan tinggal bersama kedua Orang Tuanya .
" Romo , Biyung , saya minta ijin untuk pulang ke rumah Orang tua saya . "
" Hmm... Romo tidak bisa melarang mu nak , Romo hanya bisa berkata ' Terima kasih ' atas kasih sayang yang kamu berikan untuk Almarhum Fahmi selama ini ."
" Din , apa Biyung boleh main - main nanti , jika Biyung merasa kangen dengan Hisyam ? "
" Tentu saja Biyung , Hisyam adalah milik kita bersama , kapanpun Biyung dan Romo merindukan Hisyam , silahkan datang . Pintu rumah saya terbuka lebar . "
" Kapan kamu akan berangkat ? "
" Nanti malam Romo , "
" Di antar siapa ? "
" Amar . Romo ."
" Saya hanya membawa mobil pemberian Mas Fahmi , dan mengajak Mbak Minah untuk membantu saya menjaga Hisyam ."
" Tapi rumah Fahmi ini adalah hak Hisyam . begitu juga sebagian pesantren . "
" Iya Romo , semoga nanti jika Hisyam telah tumbuh dewasa , mampu mengikuti jejak Abinya untuk mengembangkan pesantren . "
" Amien , Didik lah dia dengan ilmu agama yang telah kau kuasai nak ."
" InsyaAllah Romo , Biyung , saya permisi bersiap - siap dulu . "
" Bersiap - siap lah Din , bawa sini Hisyam ," " Ayo sayang main sama Eyang ." Ibu Almarhum Gus Fahmi mengangkat tubuh Hisyam dari gendongan Dini.
Dini pun berlalu untuk menyiapkan barang - barang bawaan nya , untuk perjalanan nya malam nanti
πΏπΏπΏ
" Romo , Biyung , Dini berangkat dulu , maafkan Dini jika sikap Dini selama ini kurang berkenan di hati Romo dan Biyung ."pamit Dini sambil mencium tangan kedua mertuanya .
" Tidak nak , kamu anak yang baik , hati - hati di jalan ya ,"
" Masuk lah terlebih dahulu nak , sini biar Biyung gendong dulu Hisyam , "
Dini masuk ke dalam mobil , kemudian Biyung memberikan Hisyam kembali pada Dini , setelah posisi duduk Dini sudah nyaman .
" Amar , tolong kamu hati - hati menyetirnya , " tegas Romo .
" Iya Kyai , "
" Hati - hati di jalan ya nak . Hisyam da - da ."
" Iya Kyai , Bu , Assalamualaikum ,"
" Waalaikumsalam ."
__ADS_1
Mereka mulai berjalan menuju kota kelahiran Dini , Perjalanan yang lumayan jauh dan sedikit melelahkan .
π·π·π·
" Abah , Abah , cepat Bah ," teriak Umik, sambil meletakkan sapu lidi sembarangan .
" Ada apa Umik , " saut Abah dari dalam ruang tamu sambil berjalan keluar rumah .
" Coba Abah lihat itu ,"ucap Umik sambil menunjuk sebuah mobil dari kejauhan .
" Itu mobil Dini Abah , "
" Mana Miik , "
" Itu Abah , tuh kan betul mobil nya mengarah kesini . "
" Oh iya Miik . "
Mobil warna putih itu berhenti tepat di depan Abah dan Ummik .Amar segera turun dan membukakan pintu untuk Dini .
" Bah cepat itu tolong Dini , gendong Hisyam bah , "pinta Ummik pada Abah.
Abah segera menggendong Hisyam dan membawanya masuk . Sementara Ummik masih menunggu Dini yang belum turun dari mobil , karena masih mengambil beberapa perlengkapan Hisyam .
" Ummik ," sapa Dini pada Ummik dengan senyum bahagia ." Dini kangen banget sama Ummik ," gemasnya sambil mencium tangan Ummik lalu memeluk tubuh Ummik .
" Amar , Mbak Sinem , tolong semua di bawa masuk , setelah itu kalian beristirahat ya ? " ucap Dini sambil berjalan menuju ruang tamu dengan merangkul Umik.
" Oh iya lupa , Abah tinggalin Dini , soalnya... Abah sudah tergila-gila ini sama pangeran yang sangat tampan ."
" Hmm , Abah ." tangan Dini langsung meraih tangan Abah dan mencium nya.
πΏπΏπΏ
Sekarang Dini akan melanjutkan kehidupan nya bersama putra kecilnya yang lucu dan menggemaskan itu .
Menetap di kota kelahiran nya , ia berencana untuk melanjutkan kembali rencana kuliahnya yang sempat terhenti .
Dan setelah beberapa bulan , Dini mendapatkan ijin dari Abah untuk kuliah . Sementara Hisyam di rawat oleh Ummiknya yang di bantu Mbak Sinem dan Amar .
Dini kuliah sambil bekerja sebagai guru TK .
π·π·π·
Hampir satu tahun lebih , Dini berada di rumah nya .
Menjalani kesehariannya dengan semangat baru , tempat baru , lingkungan baru .
πΏπΏπΏ
Saat itu Dini sedang menyuapi anaknya , dengan berjalan - jalan di sekitar komplek , lalu duduk di taman .
__ADS_1
Hisyam yang sudah bisa berjalan , minta turun dari kereta dorong nya , lalu berlari - lari di taman itu .
" Miiik... Miik..." panggil Hisyam pada Dini , sambil memberikan sebuah kertas .
" Iya Hisyam , apa ini nak , Hisyam dapat dari mana , " jawab Dini sambil menerima selembar kertas dari Hisyam .
" Nana , nana , "ucap Hisyam dengan mengarahkan tangannya pada suatu tempat .
" Iya nak , terimakasih Hisyam , sana lari - lari lagi , "
Dini meletakan kertas itu sembarangan , sekelebat ia melihat ada nama Lucky di dalam kertas yang sudah lecek itu .
Dini lantas mengambil kembali kertasnya , lalu membacanya . betapa kagetnya Dini , benar sudah itu adalah kertas undangan .
Sebuah undangan pengajian . di sebuah kota yang letak nya tidak terlalu jauh dari tempat nya tinggal .
Namun Dini masih ragΓΉ , " benarkah Lucky menjadi Ustadz , ? " hampir tiga tahun berlalu , Dini pun mencoba untuk klarifikasi pada satpam yang Ada di rumah Lucky .
" Selamat siang Pak , "
" Iya Bu selamat siang ,"
" Maaf Pak apakah betul undangan ini , " ucap Dini sambil memberikan kertas itu pada Pak satpam .
" Iya Bu betul , beberapa hari yang lalu saya mendapatkan paket dari Mas Lucky , Dan meminta saya untuk membagikannya .
" Oh begitu , baik Pak . Terimakasih ."
Dini pun segera membelokan kereta dorong Hisyam , lalu pulang ke rumahnya .
Dini berniat untuk menghadiri pengajian itu . Karena pengajian itu berlangsung pagi hari , mau nggak mau Dini harus berangkat malam hari .
πΏπΏπΏ
" Tok ... tok ... "
" Bu Dini !! "
" Amar , ayo antar saya , "ucap Dini sambil berbisik .
" Kemana Bu , "
" Ini ." Dini menunjukan kertas itu pada Amar .
Amar segera membacanya , seketika lamunan Amar teringat akan sesuatu , nama dalam kertas itu , mengingatkannya pada lelaki yang ia amankan saat pernikahan Dini Dan Almarhum Gus Fahmi berlangsung , namun Amar menepisnya " mana mungkin , "
" Ayo kamu bersiap - siap , saya akan gendong Hisyam . "
" Baik Bu Dini , saya akan segera ke depan . "
Mereka pun berangkat dengan diam - diam karena malam telah larut . Dan semua sudah tidur .
πΏπΏπΏ
__ADS_1