
Dini tidak tahu , bagaimana hubungan Abah dan. Lucky selama. ini , Dini berusaha mencari tahu tanggapan Abahnya mengenai Lucky .
Pagi itu , Dini mendekati Abahnya yang sedang menonton berita di televisi .
" Aabaah , " ucap Dini merayu Abah , sambil memanja , tangan Dini memegang pundak Abah nya dari belakang dan menyandarkan tubuhnya di punggung rentan Abah nya.
" Baah ..., emangnya si Lucky itu gak kerja ya ? " tanya Dini , berusaha mencari tahu tanggapan Abah nya terhadap Lucky.
Namun , ketika mendengar nama Lucky di sebut oleh Dini , Abah sontak terkejut , lalu menyingkirkan tangan Dini dari pundak nya , kemudian berbalik badan dan menatap wajah Dini penuh amarah .
Dini pun ketakutan dengan reaksi yang di tunjukkan oleh Abah nya , dan segera menundukkan wajahnya .
" Kenapa kamu sebut nama Lucky di depan Abah ? " tegas Abah dengan suara sedikit melengking .
" Tidak Abah , maafkan Dini . " Dini menjawab dengan mulut gemetar.
"Anak berandalan itu menemui kamu ?"tanyanya lagi,
(terbayang di ingatan nya satu tahun silam Lucky datang padanya untuk menanyakan keadaan Dini,saat Dini masih berada di pesantren, namun dia tidak menjawab dan menutup pintu saat Lucky masih berada di depan pintu).
" Tidak Abah , "
" Awas ya , jika Abah tau kamu menemui nya."
" Maaf Abah Dini sudah ngantuk, permisi ," Dini begitu ketakutan melihat kemarahan Abah nya dan langsung masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintu kamar nya .
πΏ
" Ada apa to Bah , kok teriak-teriak?kenapa Dini terlihat ketakutan begitu ?" tanya Ummik pada Abah , sambil membawa kan teh manis untuk Abah.
" Aku ini benar - benar takut Miik , kalau Lucky itu mendekati Dini .
__ADS_1
Karena yang Aku lihat , Lucky itu sangat mencintai Dini , " ucap Abah pada Ummik , dengan penuh kecemasan .
" Takutnya Miik , begitu Lucky tau kalau Dini sudah pulang dari pesantren , dia pasti akan mengejar - ngejar Dini ." imbuhnya .
" Ya ... , kalau memang mereka berdua saling suka , ya gak papa to Bah ? "
" Loh , Ummik ini gimana sih , wong jelas - jelas Lucky itu berandalan kok , masak mau di jadikan calon nya Dini . "
" Ya siapa tau Bah , Dini bisa merubah Lucky jadi orang baik , kan Dini bisa dapat pahala . "
" Jangan lah Mik , Atau kita jodohkan saja Dini dengan anak teman Abah ya Miik ,?"tanyanya pada Ummik .
" Lah Baah , kan dia baru mau masuk kuliah Abah , kasian dong Bah kalau harus di nikahkan , " tanggapan Ummik sambil duduk di samping Abah dan mengelus kaki Abah yang tertutup sarung tenun .
" Ya nggak papa to Miik , toh dia kan hanya anak perempuan , jadi nggak harus kuliah , pasti juga nantinya ngurus suami dan anak-anaknya , "bantah Abah atas pendapat Ummik .
πΏπΏπΏ
Berkali - kali Dini mengucap kalimat Istigfar , untuk menghilangkan angan nya yang terus terlintas wajah Lucky .
Dini tak mampu mengungkapkan , tak mampu pula bertindak untuk melawan .
πΊπΊπΏ
Keesokan harinya , usai shalat subuh .
Saat itu Dini sedang berada di dapur untuk membantu Ummiknya memasak .
πΏ
" Umik , apa seseorang tidak akan pernah bisa berubah menjadi lebih baik kah ?" Dini mengutarakan sebuah pertanyaan pada Ummiknya di tengah kegalauan .
__ADS_1
" Ya pasti bisa dong Din , tergantung orangnya , mau berubah atau tidak ," jawab Ummik bijak .
" Ya .. Dini juga berpikir seperti itu sih Miik , "
" Memangnya kenapa Din ?"
"Ituloh Ummik , kan---"
Belum rampung obrolan itu , tiba - tiba suara bising terdengar dari depan rumah Dini , seperti suara orang yang sedang bertengkar .
" Miik ..suara apa itu ribut - ribut ? seperti suara Abah , " ucap Dini , menghentikan tangannya yang sedang memotong sayur .
" Iya Din , itu suara Abah , ayok kita lihat, " jawab Ummik , sambil menggandeng tangan Dini dan menarik nya keluar dapur untuk melihat ke halaman depan .
Dan saat mereka berdua telah berada di ruang tamu , mereka melihat pintu ruang tamunya terbuka lebar , mereka berduapun langsung menuju keluar dan melihat ke teras rumah .
Namun saat Dini dan Ummik baru saja sampai di pintu , Dini tercengang melihat Abah nya sedang mengangkat tangan dan akan menampar wajah Lucky .
" Abaaah " teriakan spontan itu begitu keras . Dini tak kuasa menahan kepiluan , seketika air matanya mengalir deras . Tamparan keras itu telah membekas di pipi Lucky .
Namun apa daya , Dini tak mampu melawan Abah , ia pun membungkam mulutnya dengan tangan , agar tidak lagi terlepas teriakan nya . Demi sebuah kepatuhan .
Abah masih terus mendorong - dorong tubuh Lucky , untuk menyuruhnya segera pergi , sementara Lucky tidak sedikitpun melawan dia hanya terus berkata - kata .
" Bah , saya datang baik - baik untuk berbicara pada Abah. saya hanya ingin meminta maaf Bah , saya minta maaf jika sudah membuat Abah kecewa , " ucap Lucky yang berusaha meraih tangan kanan Abah untuk mencium nya .
" Sampai kapanpun , Aku tidak sudi berhadapan dengan kamu ." balas Abah .
Sambil terus mendorong Lucky . Hingga keluar dari pagar , lalu menutup pintu pagar , dan mengunci nya dari dalam .
" Din bilang sama Abah kalo kamu juga cinta sama aku Din " teriakan Lucky sambil menatap wajah Dini yang penuh air mata...
__ADS_1
π¦π¦π¦