Hidden Crown Prince 2

Hidden Crown Prince 2
Bab 1. Persiapan perang


__ADS_3

Seorang pria sedang duduk di tepi danau, matanya lekat menatap gadis yang saat ini berlatih pedang di hadapannya.


"Wah, tarianmu mulai sempurna." ucap Hwan beranjak dan mendekati Ae Cha sambil memamerkan senyum teduhnya.


"Aku berlatih pedang kak, bukan menari." kekeh Ae Cha.


Ae Cha menaruh pedangnya, dia mengusap keringat yang bercucuran di keningnya.


"Persiapkan dirimu, sebentar lagi kita akan menyerang kerajaan itu. Tempat dimana keluarga kita di hancurkan dengan keji," ucap Hwan sambil menatap air danau yang tenang.


"Baik kak, aku akan belajar dengan giat." ucap Ae Cha.


Hwan melempar senyum ke Ae Cha dan mengelus lembut pucuk kepalanya, dia memeluknya erat. Matanya mulai berkaca.


"Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri kalau sampai hal buruk terjadi kepadamu," ucap Hwan mempererat dekapannya.


"Aku sudah disini kak, kita akan saling mendukung," ucap Ae Cha melepas pelukan Hwan dan tersenyum teduh.


"Ya kau benar, kita akan saling mendukung," ucap Hwan sambil menyeka air matanya.


"Aku harus segera berangkat, kita harus mencari sekutu untuk menyiapkan penyerangan itu bukan," Hwan beranjak dan melangkah.


Ae Cha ikut bangkit dari duduknya dan meraih tangan Hwan. Matanya memancarkan kekhawatiran.


"Aku akan kembali, percayalah." ucap Hwan perlahan melepaskan tangan Ae Cha.


"Janji," sahut Ae Cha.


"Janji," balas Hwan dan berlarian kecil menjauhi Ae Cha.


Dia menatap kepergian kakaknya yang selama dua tahun ini sudah menemani hari-harinya. Menceritakan segala kisah hidupnya yang sudah lama tidak dia ketahui.


Ae Cha senang dengan kehidupan barunya. Di sini dia bisa merasakan hangatnya sebuah keluarga. Seorang yang di hormati dan di segani oleh semua orang.


Sampai kehidupan yang jauh dari kata kekurangan, namun itu semua tidak membuatnya akan lupa akan satu hal yang mengganjal hatinya.


"Bagaimana kabarmu? Apakah kau selamat saat itu," bisik Ae Cha pedih.


****


Di kerajaan yang berbeda, terdapat seorang Ratu sedang duduk di ruang rapat kerajaan.


Semua menatap lekat sang Ratu dengan tatapan tidak suka, idenya sangat mustahil bagi kerajaan ini.

__ADS_1


"Bagaimanapun caranya, sekolah itu harus segera berdiri." ucap Miyong.


"Maaf Ratu, tapi bukankah setiap wanita memang bertugas untuk di rumah. Hanya kalangan bangsawan yang dapat menerima pendidikan yang layak." jawab salah satu perdana menteri.


"Bagiku wanita adalah wadah, tempat bibit unggul akan tumbuh. Jadi kita harus dapat merawat wadah itu agar bibir yang tumbuh lebih unggul." jawab Miyong tegas.


"Dari dulu, pemerintah selalu di seleksi dengan ketat. Hanya seorang yang berwawasan luas dan kasta tertinggi yang dapat membatu kemajuan kerajaan ini Baginda, mohon di pertimbangkan." ucap salah satu mentri lain.


"Rapat kita tutup, sepertinya kita tidak akan menemukan jalan keluar jika seperti ini" ucap Raja Haa Joon.


"Tapi Raja ..." ucapan Miyong terputus.


Haa Joon menatap lekat Miyong, matanya membulat sempurna seolah memberi isyarat agar dirinya untuk tenang sesaat.


Semua Mentri memberi hormat kepada Miyong dan Haa Joon, kemudian keluar ruangan satu persatu. Kini hanya tinggal dua orang berkuasa ada di ruangan rapat.


"Aku tidak mau tau, sekolah harus segera berdiri." ucap Miyong tegas.


"Bukankah kau tau bagaimana kerajaan ini berjaya?" tanya Haa Joon menatap istrinya penuh cinta.


"Kita tidak bisa terus berpacu pada pemerintahan seperti ini Raja, kita harus menciptakan motivasi. Bagaimanapun rakyat juga manusia dan mereka membutuhkan kesempatan." ucap Miyong.


"Bukankah, sebagian dari mereka juga kita latih militer?" Haa Joon mengingatkan.


Miyong terdiam, sepertinya percuma baginya untuk membujuk Sang Raja. Dia beranjak dari kursinya dan hendak mengayunkan kakinya.


Namun, langkahnya terhenti. Tubuhnya ambruk ke belakang dan mendarat tepat di pangkuan Haa Joon.


"Jadi Ratuku marah?" tanya Haa Joon merajuk.


Tak ada jawaban dari Miyong, bibir tipisnya masih mengatup rapat. Dia berusaha melepaskan pelukan Haa Joon.


"Ada banyak pengawal di luar, bisakah kau sedikit menjaga sikap?" ucap Miyong menahan amarah.


Haa Joon memutar tubuh Miyong sehingga mereka berdua saling bertatapan, kemudian menekan pinggulnya agar semakin mendekat.


"Apakah Ratuku benar-benar tidak bisa memaafkan Rajanya?" tanya Haa Joon mendekatkan wajahnya ke arah Miyong.


Melihat tingkah Raja membuat pipi Miyong bersemu merah, semarah apapun dia. Raja selalu bisa mencari celah.


Miyong segera mendorong Haa Joon dan bangkit dari pangkuannya. Dia membalikkan badan untuk menyembunyikan wajah merah meronanya.


Tak mau dia lebih malu lagi, Miyong segera mengayunkan langkanya.

__ADS_1


"Aku sudah menemukannya," ucap Haa Joon lirih.


Seketika langkahnya terhenti, matanya membulat sempurna. Dia tak menyangka hari ini akan tiba juga.


"Akan tetapi ..." ucap Haa Joon, lidahnya masih kelu untuk menyampaikan kenyataan mengejutkan ini.


"Tapi apa?" sahut Miyong sambil melangkah mendekati Haa Joon.


"Dia berniat memberontak di istana kita," jawab Haa Joon dengan suara berat.


Miyong menggelengkan kepalanya lirih, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Tidak mungkin, pasti itu hanya kabar burung yang akan menimbulkan kesalah pahaman," ucap Miyong bersikukuh.


"Semoga saja begitu, prajurit melihat kalau Yu Hwa hidup dengan layak di sana." imbuh Haa Joon.


"Di tambah, ternyata ayah Yu Hwa adalah menteri yang pernah di hukum mati oleh Ayahku. Kemungkinan besar mereka akan balas dendam," ucap Haa Joon.


"Aku berani jamin kalau Yu Hwa tidak akan berkhianat, aku akan pergi dulu," ucap Miyong melangkah pergi.


Haa Joon hanya menatap kepergian Miyong, bahkan masalah Jae Sung belum tuntas. Sampai saat ini dia tidak bisa menemukan keberadaan Jae Sung.


Dia seolah di telan bumi, ada yang bilang kalau dia telah mati akibat pertarungan luar biasa malam itu.


Prajurit hanya menemukan pedang Jae Sung yang patah serta kudanya yang sudah mati. Selebihnya tak ada tanda-tanda lain.


Begitu banyak mayat berserakan sudah tergambar jelas, bagaimana hebatnya pertarungan malam itu.


Bila melihat kemampuan Jae Sung, dia tidak mungkin dapat di kalahkan dengan mudah. Akan tetapi, melihat musuh yang begitu banyak. Mustahil kalau dia bisa selamat, namun mayatnya sampai saat ini juga belum di temukan. Hal ini membuat kepergiannya menjadi misteri besar.


Selama ini yang memperkuat benteng pertahanan adalah Jae Sung, meskipun saat ini kerajaan berjalan damai tentram. Tapi sebagian seorang Raja dia tidak bisa diam saja.


Di sudut desa terpencil, ada seorang pria berpakaian lusuh sedang duduk di tepi sungai. Matanya masih menatap kosong ke arah air yang mengalir tenang.


"Mau sampai kapan kau di sini?" tanya seorang wanita dengan paras cantik.


Pria tersebut tersenyum teduh menatap wanita tersebut.


"Apa pekerjaan mu sudah selesai?" tanya Jae Sung.


"Sudah, hah ... aku sangat lelah," ucap wanita tersebut duduk di samping Jae Sung.


"Ini makan, hari ini kedai sangat ramai. Jadi semua makanan habis, aku menyisakan ini untukmu," ucap wanita tersebut menyodorkan sebungkus makanan.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Jae Sung meraih bungkusan tersebut.


__ADS_2