
Saat ini jantung Yu Hwa berdebar kencang, entah mengapa para pengawal Akeno lebih banyak dari biasanya.
Bahkan di depan pintunya terdapat dua kali lipat pengawal Akeno, semoga saja tidak ada yang terjadi.
Terdengar langkah kaki serentak yang mendekatinya, sepertinya Akeno akan segera tiba. Yu Hwa mencoba untuk tetap tenang.
Akeno membuka pintu kamar Yu Hwa, dia menyeringai kejam. Perlahan dia masuk dan menutup pintu rapat.
Dia mendekati Yu Hwa dan mulai naik ke ranjangnya.
"Jadi kau yang akan melepaskannya atau aku?" tanya Akeno mengigit bibir bawahnya.
Bibir Yu Hwa bergetar, bahkan dia tak mampu melontarkan satu katapun. Dirinya terlalu takut, sepertinya Akeno sedikit berubah malam ini.
"Ak-aku ..." dengan susah payah Yu Hwa menjawabnya.
Akeno menarik baju yang masih melekat di tubuh Yu Hwa, sehingga gaun itu robek dan memperlihatkan pundak mulus Yu Hwa.
Seketika Yu Hwa teriak dan menangis, dia tak tau harus bagaimana malam ini. Otaknya masih membeku dan tak bisa berpikir.
__ADS_1
"Kenapa menangis Sayang? Bagaimana kalau saat ini aku beri hadiah dulu agar kau lebih rileks," ucap Akeno turun dari ranjang Yu Hwa.
"Pengawal! bawa hadiah istriku kemari," perintah Akeno lantang.
Pintu terbuka, gerakan kaki prajurit melangkah dengan serentak begitu mengerikan. Sepertinya di luar sangat ramai, apa hadiah yang akan di berikan? melihat banyak sekali pengawal yang berjaga.
Mata Yu Hwa seketika terbelalak ketika melihat seseorang yang memakai baju putih, terdapat banyak luka cambuk yang terlihat di sekujur tubuhnya.
Namun Yu Hwa tak dapat mengenalinya karena kepalanya di bungkus kain putih, orang ini terlihat sangat lemas melihat dari caranya berjalan.
Seorang tersebut bertekuk lutut di hadapan Yu Hwa dan Akeno, tanganya di ikat dengan rantai besi ke arah belakang.
Yu Hwa membuang muka, sungguh dia tidak tega melihat orang ini. Siapa sebenarnya dia? Mengapa Akeno memberikan hadiah semacam ini.
Akeno memetik kan jari, seketika semua pengawal pergi keluar kamar.
"Kau yakin tidak mau melihat siapa dia?" tanya Akeno sinis.
"Sebenarnya kau mau apa? Siapa dia, aku tidak kenal," ucap Yu Hwa memalingkan pandangannya.
__ADS_1
Bau anyir sudah membuat perutnya mual, "Kau mungkin karena bekas cambukan yang mengeluarkan banyak cairan merah kental yang sebagian sudah mengering.
"Kau tidak kenal, jadi aku boleh membunuhnya di hadapanmu sekarang?" tanya Akeno sambil memainkan pisaunya.
"Aku tidak suka darah, silahkan membunuh siapa saja. Asal jangan di kamarku," sahut Yu Hwa, dia sangat takut melihat darah yang berceceran.
"Tempat ini sangat cocok untuknya ..." ucap Akeno mendekati orang yang kepalanya masih terbungkus kain.
Belum selesai Akeno melanjutkan kalimatnya, di luar sudah terdengar riuh. Yu Hwa sangat kenal dengan orang yang sedang berteriak di luar.
'Bibi King'
"Nona, selamatkan Jae Sung Nona ... Jangan bunuh dia ..." teriak Bibi Lung dengan suara parau.
Seketika Yu Hwa terdiam semua tubuhnya bergetar hebat, langitnya tiba-tiba runtuh saat mendengar ucapan Bibi Lung saat ini.
Dia menoleh ke arah seorang yang masih bertekuk lutut di hadapan mereka, mata Yu Hwa memanas dan mulai berkaca.
"Siapa dia? Jawab!" tanya Yu Hwa dengan suara tinggi. Persetan dengan siapa yang ada di hadapannya saat ini, yang jelas Yu Hwa ingin tau siapa orang ini.
__ADS_1
Akeno tersenyum kecil dan membuka penutup kepala orang tersebut, seketika kaki Yu Hwa lemas dan tak mampu menopang berat tubuhnya.
"Jae Sung"