Hidden Crown Prince 2

Hidden Crown Prince 2
Bab 24. Terbongkar


__ADS_3

Yu Hwa merosot lemas, dia duduk di lantai sambil menangis pilu menatap kondisi Jae Sung saat ini.


Dia tak menyangka akan melihat seorang yang amat dia cintai terluka parah di hadapannya, baru saja dirinya melambung. Mengapa takdir begitu kejam dan menghempaskannya begitu keras.


Jae Sung menatap lekat Yu Hwa dengan tatapan sedih, dia tak tega melihat wanitanya terisak pilu.


Dia berusaha untuk bangkit dan melangkah, namun Akeno menginjak kakinya yang terluka parah. Cairan merah segar mulai mengalir ke lantai,


"Tidak, jangan ... Aku mohon lepaskan dia, aku yang bersalah." ucap Yu Hwa segera melangkah memeluk kaki Akeno.


"Tidak Yu Hwa, jangan ... Kau tidak pantas memohon kepadanya," teriak Jae Sung.


Bukk ...


Sebuah pukulan mendarat tepat di wajah Jae Sung dan membuat dirinya tersungkur, mengalir aliran darah segar dari ujung bibirnya.


Sebagian wajahnya sudah lebam, hati Yu Hwa begitu teriris melihat pemandangan memilukan ini.


Yu Hwa merasa bersalah, karenanya Jae Sung sampai tersiksa seperti ini. Andai saja dia tidak menggoda pria ini, pasti Akeno tidak akan semarah ini.


Yu Hwa segera berlutut di kaki Akeno,


"Lakukan apa yang mau kau lakukan, asal lepaskan dia." ucap Yu Hwa pasrah.


Akeno hanya tersenyum kecil, dia melangkah mengitari Yu Hwa dan Jae Sung yang saat ini saling beradu pandang.


Tampak sorotan mata tak rela dari pandangan Jae Sung, tetapi hanya ini yang bisa Yu Hwa lakukan.


Pintu terbuka, Hwan masuk dengan membawa senjata. Matanya terbelalak ketika melihat adik dan musuhnya berlutut dia lantai, terlebih melihat kondisi Jae Sung.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Hwan, dia tak menyangka Akeno akan melakukan tindakan yang gegabah.


Meskipun Jae Sung dapat di lumpuhkan. Namun tak semudah itu mengalahkannya, banyak sekali perompak yang ada bersamanya.


Padahal Hwan sudah mengatur semua strategi nya, namun harus musnah sia-sia karena kecerobohan Akeno.

__ADS_1


"Aku hanya menghukum orang yang telah mengambil hakku!" ucap Akeno tegas.


"Hak?" ulang Hwan, dia tak mengerti apa yang di maksudnya.


"Apa perlu aku beri tau Kakakmu tercinta ini Sayang?" tanya Akeno kepada Yu Hwa dengan tatapan bengis.


Yu Hwa hanya terdiam, dia tak mampu mengucap satu katapun. Dia tak mau Jae Sung di siksa lebih dari ini.


Hwan melempar pandangan ke Yu Hwa dan Jae Sung secara bergantian, mencari jawaban dia antara keduanya.


"Ada apa Ae Cha, apakah kau melakukan kesalahan?" tanya Hwan membantu adiknya untuk bangkit.


Yu Hwa bersikukuh untuk tetap berlutut, bibirnya bergetar dan mulai terbuka sedikit. Berusaha menceritakan tentang apa yang sudah terjadi.


"Aku memperkosanya!" ucap Jae Sung lantang.


Mata Yu Hwa terbelalak, begitu juga Hwan. Butuh waktu beberapa detik untuk Hwan mencerna pengakuan Jae Sung.


Begitu mudahnya dia mengakui kelakuan bejatnya? Reflek tangan Hwan melambung dan mendarat ke pipi Jae Sung.


Mata Hwan memerah, amarahnya memuncak sampai di ubun-ubun. Bagaimana bisa seorang yang amat dia jaga bisa di lecehkan begitu saja.


"Jangan Kak aku mohon, lepaskan dia ... dia tidak salah Kak ... Aku yang salah," ucap Yu Hwa sambil menangis tersedu-sedu.


Tangan Hwan yang mencengkram Jae Sung semakin erat sehingga napasnya mulai tersengal, wajahnya sudah membiru karena kehabisan oksigen.


Yu Hwa semakin histeris melihat situasi ini, sedang Akeno malah duduk dan melempar senyum liciknya.


Pandangan Yu Hwa beralih pada pedang yang terselip di pinggang Hwan, tanpa pikir panjang dia menarik pedang tersebut dan menaruhnya di leher.


"Bunuh dia ... Kalau sampai dia mati, aku akan menyusulnya!" ucap Yu Hwa dengan air mata berlinang.


Hwan segera melepas Jae Sung dan mendekati Yu Hwa yang lehernya sudah tergores pedang dan mengeluarkan cairan merah segar.


Tubuh Jae Sung terjatuh dan terbatuk-batuk, sebisa mungkin dia menghirup udara untuk memenuhi paru-parunya.

__ADS_1


"Apa kau gila! Dia pembunuh Ayah Ibu kita, kau malah bersedia mati untuknya?" Hwan menggeleng kan kepalanya lirih.


Dia tak menyangka cinta Adiknya kepada pria bandit ini sangat Leh besar, bahkan nyawanya begitu tidak berharga.


Hwan mendekati Yu Hwa perlahan, berusaha mencari celah untuk merampas pedang yang berada di tangan Adiknya.


"Lepaskan Jae Sung. Kalau tidak, Kakak akan membakar mayat besok pagi!" ucap Yu Hwa dan sedikit menggores lehernya dengan pedang Hwan.


"Ae Cha, kau gila! Berikan pedang itu padaku," teriak Hwan lantang.


Terdengar suara tepuk tangan dari arah lain, Akeno melangkah mendekati ketiga orang dan memamerkan senyum liciknya.


Baginya sudah cukup semua sandiwara ini, dirinya amat muak dengan wanita yang sudah terlalu dia manjakan.


Tidak mudah bagi Akeno memaafkan seseorang, tetapi untuk Yu Hwa. Semua sikap itu ringsek begitu saja.


"Aku tidak butuh opera disini! Bunuh mereka!" ucap Akeno yang tidak sepenuhnya benar.


Prajurit tidak langsung maju, mereka cukup tau dengan sikap Tuannya. Yu Hwa bukanlah orang sembarangan bagi Akeno.


"Baik, lewati dulu mayatku!" ucap Yu Hwa dan berdiri kokoh di hadapan Jae Sung.


Yu Hwa sudah mengacungkan pedangnya dan Padang kuda-kuda, beberapa prajurit menatap Akeno dan memberi aba-aba.


"Cih, kau sangat mencintainya? Sampai kau tidak peduli dengan nyawamu. Apa kau pikir aku akan memberikan kompensasi lagi, aku sudah cukup muak bernegosiasi denganmu." ucap Akeno sambil melangkah melewati ketiga orang yang masih tercengang.


Jae Sung tak bisa berbuat apapun, dia kira Akeno tak akan melakukan hal ini melihat dirinya memiliki rasa dengan Yu Hwa. Tetapi amarahnya lebih besar dari rasa cintanya, bila di posisinya Jae Sung juga tak bisa memaafkan Yu Hwa begitu saja.


"Kau tidak bisa melakukan ini?" sahut Hwan yang mendekati Akeno yang sudah melangakhkan kakinya di ambang pintu.


"Adikmu telah memilih pilihannya, bila kau ingin menyelamatkannya silahkan aku tidak akan menghalangi mu," ucap Akeno memutar tubuhnya.


"Habisi mereka, bila mereka bisa melewati pertarungan ini maka kerja sama kita akan berlanjut." lanjut Akeno yang melangkah menjauhi kamar Yu Hwa.


Dengan langakah arogan Akeno meninggalkan kamar Yu Hwa dan meninggalkan prajurit dengan kwalitas rendah, jangankan Hwan. Bahkan Yu Hwa saja bisa mengalahkan mereka dengan mudah.

__ADS_1


Dia hanya ingin membuat Yu Hwa mengerti dengan kekuasaannya, bila dia ingin, akan sangat mudah untuk membunuh Jae Sung. Tetap tetap saja, dia tidak mau menambah musuh.


Tujuannya saat ini adalah ... istana dan Yu Hwa, entah sejak kapan dia mulai terobsesi dengan wanita itu. Yang jelas dia tak akan melepaskan dia begitu saja, saat Istana sudah ada dalam genggaman selanjutnya adalah kawanan Jae Sung yang harus di hempas.


__ADS_2