Hidden Crown Prince 2

Hidden Crown Prince 2
Bab 10. Dewi penolong


__ADS_3

"Paman akan memberi racikan obat, nanti kamu balurkan. Sementara bersihkan luka dan bajunya," ucap tabib.


Tabib tersebut masuk ke kamar dan membuka lemari, tak selang berapa lama tabib itu kembali dengan pakaian di tangannya.


Dia melempar pakaian tersebut ke Jiang Mi, Mata Jiang Mi membulat sempurna. Dia kembali melempar pandangan ke tabib.


"Pa-man, apakah kau yakin? Ta-pi aku kan," ucap Jiang Mi ragu.


"Dia tak akan menerkam mu," ucap tabib yang sibuk meracik obat.


"Tidak ada waktu lagi, dia sudah kehilangan banyak darah." lanjut tabib.


Jiang Mi, hanya mematung. Dirinya masih ragu untuk menolong pria yang tergeletak lemas di hadapannya.


Haruskah matanya terkontaminasi pemandangan vulgar seperti ini, tapi kalau tidak segera bertindak ...


"Sudah cepat, malah bengong." bentak tabib.


Jiang Mi tersentak, dia segera duduk di samping pria yang bernama Jae Sung tersebut dan mulai membersihkan luka-lukanya.


"Selesai itu, balurkan ramuan ini kesemua lukanya. Sementara itu aku akan ke rumahmu, jaga dia baik-baik." ucap tabib sambil menaruh beberapa mangkuk ramuan obat di samping Jiang Mi dan kemudian pergi.


Dengan hati-hati dia membersihkan semua luka dengan air hangat, semua luka ini cukup dalam. Dia tak bisa membayangkan bagaimana rasa sakitnya.


Karena luka lebih banyak di tubuh bagian atas, dia memutuskan untuk membuka baju Jae Sung. Karena baju yang dia kenakan sudah hancur lebur, Jiang Mi memutuskan untuk merobek baju tersebut.

__ADS_1


Dia sedikit mengangkat kepala Jae Sung dan menarik baju compang camping itu.


"Sshhh," terdengar rintih kesakitan dari Jae Sung.


"Maaf Tuan, saya akan segera mengobati mu." ucap Jiang Mi yang menaruh kepala Jae Sung lirih.


"Yu Hwa, jangan pergi,"


"Tetaplah disini,"


"Aku akan membunuh mereka,"


"Yu Hwa ..."


Jae Sung terus meracau, Jiang Mi berusaha konsentrasi dengan tugasnya. Hingga tangannya di genggam era oleh Jae Sung.


"Aku mencintaimu,"


"Jangan tinggalkan aku, ku mohon,"


ucap Jae Sung dengan air mata yang keluar di ujung matanya.


"Kasihan sekali kau Tuan, hanya demi wanita. Tubuhmu sampai hancur lebur seperti ini." ucap Jiang Mi lirih.


Setelah Jae Sung sudah tenang, dengan hati-hati Jiang Mi melanjutkan tugasnya. Dia membalur ramuan yang di racik tabib ke semua luka Jae Sung.

__ADS_1


Setelah semua selesai, perlahan Jiang Mi menutup tubuh Jae Sung dengan selimut tebal. Dia menatap lekat wajah pucat yang saat ini tertidur lelap.


"Kau tampan, sayang sekali wanita tersebut tidak tau kesungguhanmu," ucap Jiang Mi lirih.


Jiang Mi melangkah ke luar kamar dan menutup pintunya.


****


Yu Hwa duduk di tandu, seorang tabib sedang mengobati lukanya. Tampak air mata yang terus meleleh dari mata Yu Hwa.


Setelah luka Yu Hwa terbalut rapi, tabib tersebut turun. Tak selang berapa lama Hwan masuk.


"Jangan ulangi lagi, bertindak gila demi pria itu," ucap Hwan.


Dia mengingat tebasan pedang yang harusnya mendarat di dada Jae Sung malah menggores lengan Yu Hwa yang tiba-tiba menghalanginya.


"Haruskah semua dendam di tuntaskan dengan pembunuhan?" tanya Yu Hwa parau.


"Tidak semua, tapi nyawa harus di balas nyawa. Dan itu sudah mutlak." jawab Hwan tegas.


"Pakai akal sehatmu," lanjut Hwan dan turun dari tandu.


"Aku ingin turun, dia harus di obati. Kalau tidak, aku akan ..." sahut Yu Hwa yang menarik pedang Hwan.


"Ae Cha, kau jangan gila. Dia adalah pembunuh orang tua kita!" teriak Hwan.

__ADS_1


"Aku bukan Ae Cha, aku Yu Hwa, dan dia adalah temanku." ucap Yu Hwa dengan mata memerah.


"Jlebb "


__ADS_2