
Yu Hwa baru saja bangun, matanya terlihat sembab akibat peristiwa semalam. Dia tak menyangka kalau Akeno akan bertindak brutal.
Pintu terbuka, Bibi Lung masuk membawa sarapan dan beberapa botol obat.
"Nona sudah bangun?" tanya Bibi Lung melempar senyum teramah.
Tak ada sahutan dari Yu Hwa, matanya malah semakin berkaca. Melihat ini Bibi Lung semakin khawatir dan segera mendekat.
"Ada apa Nona, yang mana yang sakit?" ucap Bibi Lung mengecek tubuh Yu Hwa dari atas sampai bawah.
"Kenapa dia tidak datang!" tanya Yu Hwa dengan suara dingin.
Bibi Lung terdiam, jangankan Yu Hwa. Dirinya kalau berada di posisi Yu Hwa pasti akan merasakan sakit.
"Katanya setiap malam dia ada di sini, apakah dia begitu membenciku? Sampai dia tidak mau menolongku Bi ..." lanjut Yu Hwa perih.
"Bahkan aku tidak membunuh Ibunya," pecah sudah tangis Yu Hwa.
Bibi Lung memeluk erat gadis yang sedang menangis di hadapannya, dia semakin tak tega melihatnya yang terus meratapi nasip.
Kisah percintaan mereka begitu rumit, kenapa harus saling menyakiti bila ada jalan damai lainnya? Sesakit inikah cinta.
__ADS_1
Bibi Lung bangkit dan mengambil secangkir teh hangat, dia menyodorkan cangkir tersebut ke Yu Hwa.
"Minumlah selagi hangat, kau juga butuh tenaga saat menangis kan?" ucap Bibi Lung.
Dengan malas Yu Hwa meraih cangkir dan meminum teh tersebut. Aroma matcha membuat otot kepala yang tegang menjadi sedikit lebih ringan.
Setelah teh di cangkir habis, Bibi Lung mengambil botol dan mangkuk kecil. Dia menuangkan racikan obat dari tabib, kemudian duduk di samping Yu Hwa
Dia membalur kan obat ke beberapa bagian tubuh Yu Hwa yang lebam, akibat terbentur kemarin. Terlebih bekas cengkraman Akeno di lengannya.
Bibi Lung tak habis pikir, kenapa Hwan bisa mempunyai mempunyai ide untuk kerja sama dengan Akeno.
Ini sama saja menghancurkan masa depan Yu Hwa bukan?
"Ada yang mau Bibi Lung sampaikan?" tanya Yu Hwa ketika melihat ada raut wajah kebingungan.
Mulut Bibi Lung terbuka mengatup, dia menggenggam erat jemari Yu Hwa.
"Berjanjilah padaku, kau tidak akan melakukan apapun setelah aku memberi kabar. Kau sangat membencinya kan?" ucap Bibi Lung menatap mata Yu Hwa dengan penuh ketakutan.
Melihat wajah Bibi Lung membuat Yu Hwa semakin khawatir, tidak biasanya wanita senja di hadapannya menampakkan wajah seperti ini.
__ADS_1
Tidak mungkin terjadi hal buruk pada Jae Sung, Bukankah dia sangat hebat dalam berperang? Tapi lukanya dulu ...
Yu Hwa teringat pada kejadian dua tahun silam, di mana Jae Sung tergeletak dengan luka dalam yang menganga.
Air mata Yu Hwa mulai mengalir deras, angannya sudah berkelana kemana-mana.
"Katakan apa yang terjadi dengan Jae Sung?" tanya Yu Hwa mencengkram erat jemari Bibi Lung.
Dengan berat hati Bibi Lung mulai membuka suaranya ...
"Akeno dan Hwan akan menyerang Jae Sung, mereka tak mau rencana yang sudah di susun rapi akan hancur. Bagaimanapun Jae Sung berteman baik dengan Haa Joon, mereka akan menyerang kerajaan beberapa hari lagi." ucap Bibi Lung menjelaskan.
Seketika tubuh Yu Hwa membeku, dia tidak tau mengapa mereka jadi menyerang Jae Sung. Ini sangat aneh.
Yu Hwa segera berdiri dan hendak melangkah, namun langakahnya terhenti saat tangannya dia raih Bibi Lung.
"Jangan kesana, semakin kau menghalangi mereka. Maka akan semakin terancam pula nyawanya." ucap Bibi Lung perih.
"Tapi aku harus menghentikannya Bi ... Jae Sung tidak ada hubungannya." sahut Yu Hwa.
"Hwan tau siapa yang menyerang Akeno kemarin, dia tak mau kalau Jae Sung berkeliaran di sini." Bibi Lung melempar pandangan sendu ke arah Yu Hwa.
__ADS_1
"Apa?"