
Melihat Akeno terjungkal Yu Hwa segera membalut tubuh dengan selimut dan berlari membuka pintu.
Hwan terbelalak ketika melihat sang Adik yang berlarian dengan tubuh berbalut selimut. Para pengawalnya segera membalik tubuh ketika melihat pemandangan tak senonoh ini.
"Ae Cha kau kenapa?" tanya Hwan khawatir.
Belum sempat Yu Hwa menjawabnya Akeno melangkah keluar kamar, Hwan semakin tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Yu Hwa segera bersembunyi di belakang tubuh kekar kakaknya, mulutnya komat-kamit berdo'a. Semoga otak kakaknya kali ini sedikit encer dan tidak memihak iblis di hadapannya.
Akeno melangkah mendekati Hwan dan mengelus kepalanya yang memar. Entah dia terbentur apa, yang jelas Yu Hwa merasa sedikit puas dengan hasil kerja kerasnya.
"Anda belum tidur Tuan Akeno?" tanya Hwan basa-basi.
"Saya mengunjungi permaisuriku, aku sangat merindukannya," jawab Akeno dengan senyum menjijikkan.
Sungguh kalau tidak ada kerja sama di antar mereka, pasti Hwan sudah menebas kepala orang di hadapannya saat ini.
Dia sangat menyayangi adiknya, dan tak ada seorangpun yang boleh melecehkannya.
"Bibi Lung, tolong bawa Ae Cha ke kamarnya kembali." perintah Hwan.
Seorang wanita paruh baya segera berlari tergopoh-gopoh memeluk Yu Hwa dan menuntunnya melewati Akeno.
__ADS_1
Yu Hwa mengehentikan langakahnya. Setelah merasakan selimut yang membalut tubuhnya di cengkram kuat.
"Aku tidak akan melepaskan mu dengan mudah," bisik Akeno yang kemudian melepaskan cengkeramannya.
Hwan menatap lekat dirinya dengan tatapan tajam, dia tak mau kerja samanya harus terbuang sia-sia akibat nafsu sesaatnya.
"Kita bisa menikmati anggur bila Tuan Akeno tidak lelah." ucap Hwan mengalihkan perhatian.
"Kurasa itu lebih baik," ucap Akeno dan melangkah menjauhi Yu Hwa.
Bibi Lung dan Yu Hwa melangkah masuk kamar dan menutup pintu rapat. Seketika tangis Yu Hwa pecah sudah.
Dia memeluk erat Bibi Lung dan menangis sejadinya, dia tak peduli selimut yang terbuka memperlihatkan kulit mulusnya.
"Apa Jae Sung tidak melihat semua ini?" ucap Yu Hwa lirih.
"Apa dia sedikitpun tidak marah saat wanitanya di lecehkan pria lain?" lanjut Yu Hwa menangis perih.
Bibi Lung memeluk erat Yu Hwa, dia mencoba menenagkan gadis yang saat ini dia anggap seperti putrinya sendiri.
"Jae Sung tidak akan diam saja, percayalah Nona," ucap Bibi Lung.
"Aku membencinya, sangat membencinya." isak Yu Hwa.
__ADS_1
****
Bibi Lung keluar kamar Yu Hwa setelah gadis itu tertidur lelap. Sudah kurang lebih satu jam, namun isaknya masih terbawa ke tidurnya.
Dia prihatin melihat nasip kedua orang yang saling mencintai itu, harusnya mereka bisa menyelesaikan semua masalah dengan kepala dingin dan menghindari peperangan.
Bibi Lung segera melangkah menuju kamarnya, dia membuka pintu dan masuk. Di dalam sudah ada seorang pria yang duduk menantinya.
"Apa kau tidak bisa membantunya tadi?" tanya Bibi Lung datar.
"Saat itu aku tidak berasa di sana," Jawab Jae Sung.
Bibi Lung melangkah mendekati Jae Sung dan duduk di hadapannya, dia menatap lekat manik mata coklat yang menatapnya.
"Jangan bohong, kau bahkan ada di atapnya tiap malam kan!" bentak Bibi Lung.
"Hwan sudah mencurigai keberadaan ku dan menambahkan banyak pasukan berjaga ..." ucap Jae Sung menjelaskan.
"Aku tidak peduli, yang jelas kau baru saja menghancurkan hatinya saat ini. Bahkan dia tidur dengan menahan isak, dasar dimana-mana pria selalu sama." ucap Bibi Lung penuh amarah.
"Maaf, tolong jaga dia." ucap Jae Sung beranjak dan membuka jendela.
Dia melompat dan menghilang di kegelapan malam, tanpa dia sadari ada seorang yang mengetahui kepergian Jae Sung.
__ADS_1