Hidden Crown Prince 2

Hidden Crown Prince 2
Bab 5. Melepas Rindu


__ADS_3

Mata Yu Hwa terbelalak melihat seorang di hadapannya. Seketika tubuhnya membeku, lidahnya kelu untuk mengucap satu katapun.


Matanya berkaca, berulang kali dia berkedip. Meyakinkan yang di lihatnya saat ini hanya angan atau benar nyata.


Jae Sung berdiri menatap Yu Hwa, ingin sekali dia berlari dan memeluk gadis yang amat dia rindukan.


Akan tetapi, dia sadar diri. Siapa posisinya saat ini, harusnya dirinya tidak boleh menemuinya saat ini.


"Jaga dirimu baik-baik, jangan mudah percaya dengan orang lain," ucap Jae Sung yang melenggang pergi begitu saja.


"Kau curang, setiap hari kau menguntit ku. Tapi tidak secuil pun aku mendengar kabarmu," ucap Yu Hwa.


"Kabarku tidak penting untuk kau ketahui, kita harus melanjutkan hidup masing-masing." jawab Jae Sung mengehentikan langakahnya.


"Apa kau sangat membenciku?" tanya Yu Hwa sambil melangkah mendekat.


"Aku tidak membencimu, namun keadaan memaksa kita untuk mengayunkan pedang bukan? Jadi kita harus jaga jarak." ucap Jae Sung yang melanjutkan langkahnya.


"Apakah tidak sedikitpun kau merindukanku?" tanya Yu Hwa perih.

__ADS_1


Telinga Jae Sung masih mendengar suara Yu Hwa meskipun itu terdengar lirih. Dia tau betapa pedihnya keadaan Yu Hwa saat ini.


Sakit, dia merasakan sakit yang sama. Namun tak ada hal yang bisa dia perbuat. Kenyataanya dia memang bersalah dengan keluarga Yu Hwa.


Kalau dia berada di posisi Hwan, dia pasti akan melakukan hal yang sama. Malah akan lebih parah dengan apa yang Hwan perbuat.


Yu Hwa harus belajar menerima kenyataan pahit ini, begitu pula dia. Walaupun itu sangat sulit dan pedih.


Langakah Jae Sung terhenti saat sebilah pedang berpangku di pundaknya.


"Aku akan lebih rela jika kau membunuhmu saat ini juga," ucap Jae Sung tenang.


"Kau telah menghancurkan keluargaku, dan kini hidupku!" lanjut Yu Hwa dengan mata berkaca.


Jae Sung tidak tau seberapa pedih hatinya selama ini. Rasa cemas yang membuatnya sulit memejamkan mata di kala malam tiba.


Rasa rindu yang membuat hari-harinya yang seharusnya cerah mendadak gelap gulita. Kemewahan yang dia dapatkan selama ini nyatanya tak membuat rindu ini sirna dengan mudah.


Pada akhirnya, dia harus menelan pil pahit lagi saat sosok yang telah lama dirindukan pergi begitu saja.

__ADS_1


"Setelah sekian lama aku berusaha melupakanmu, untuk apa kau menampakkan wajahmu lagi ke hadapanku?" tanya Yu Hwa menahan isak.


Tak ada jawaban dari Jae Sung, dia melanjutkan langkahnya lagi. Tak ada yang bisa dia ucapkan karena posisinya sangat rumit.


Jangankan untuk menjawab pertanyaan Yu Hwa, bahkan dia tak bisa mengendalikan otak dan perasaannya yang saat ini saling berlawanan arah.


Yu Hwa semakin menekan pedang ke leher Jae Sung, hanya dengan seretan kecil maka leher Jae Sung akan terpisah dengan tubuhnya.


"Jawab pertanyaanku," bentak Yu Hwa yang di selingi air mata yang mengalir deras.


"Bunuh aku saat ini juga," jawab Jae Sung dengan suara berat


Yu Hwa segera melempar pedangnya dan memeluk Jae Sung dari belakang. Seketika tangis Yu Hwa pecah sudah. Persetan dengan dendam kakaknya, baginya saat ini perasaanya lebih penting.


Dia tak mampu menahan rindu ini lebih lama lagi,


"Lepaskan!" ucap Jae Sung lirih.


Dekapan Yu Hwa membuat irama jantung Jae Sung semakin cepat, matanya memanas menahan air mata yang hampir jatuh.

__ADS_1


"Siapa dia?"


__ADS_2