Hidden Crown Prince 2

Hidden Crown Prince 2
Bab 19. Kau datang


__ADS_3

Hwan terbelalak ketika melihat Akeno sudah berdiri di ambang pintu. Dia segera melepaskan genggaman tangannya.


Yu Hwa tersenyum kecut, semoga pengorbanannya kali ini tidak sia-sia. Jae Sung tak memperdulikannya lagi, jadi baginya tak ada yang perlu di harapkan di hidupnya.


Akeno perlahan melangkah mendekat dan melewati Hwan begitu saja, mata bengisnya sudah mengincar sosok cantik yang berdiri di belakang Hwan.


"Bagaimana kalau kita minum arak dulu sebelum memulai ini," tawar Hwan untuk mengulur waktu, dia tak bisa membayangkan bagaimana nasip adiknya itu.


"Sayangnya aku tidak mau membuat istriku menunggu terlalu lama Kak, bukankah kau lihat sendiri bagaimana persiapannya malam ini." ucap Akeno sambil menatap Yu Hwa dan dekorasi kamar yang di hias demikian rupa.


Hwan hanya bisa diam, biasanya cara ini ampuh untuk mengulur Akeno, namun sekarang tidak. Saat ini Yu Hwa memang benar sudah masuk kandang buaya.


"Kakak bisa keluar, aku sudah tak sabar menantikan malam panjang dengan istriku." ucap Akeno memeluk erat pinggang ramping Yu Hwa.


Tangan Hwan mengepal erat, hari ini dia tidak berdaya dan harus merelakan adiknya di tangan Akeno.


Dengan berat hati dia melangkah keluar kamar Yu Hwa, sesekali dia menoleh ke belakang memastikan keadaan adiknya.


Tapi apa yang dia lihat? Yu Hwa tersenyum teduh menatapnya, seolah dia sudah ikhlas dengan apapun yang terjadi padanya malam ini.


Hwan mengayunkan kakinya pergi ke kamar dengan memendam amarah.


Prankk ...


Dia melempar botol arak ke segala arah, pecahannya berserakan di setiap sudut ruangan.


"Ae Cha, apa yang kau lakukan! Argh ..." Hwan mulai frustasi.


Di ruangan yang berbeda, Yu Hwa sudah duduk di pangkuan Akeno. Aroma arak yang menyengat dari mulut Akeno membuat perut Yu Hwa mendadak mual.


Mungkin bagi sebagian orang pria ini sangatlah rupawan, namun tidak bagi Yu Hwa. Pria di hadapannya saat ini tidak lebih dari seorang iblis.


"Ayo sayang, minumlah," ucap Akeno menyodorkan segelas arak ke arah Yu Hwa.

__ADS_1


"Tidak Tuan, saya tidak minum. Saya akan melayani Tuan," ucap Yu Hwa berusaha tetap lembut.


"Melayaniku?" ucap Akeno menaruh gelas di meja. Dia menatap Yu Hwa penuh nafsu.


Mata bengisnya lekat menatap Yu Hwa, jemarinya sudah merayap ke paha Yu Hwa dan hendak merangkak naik.


Tubuhnya kian mendekat hingga berjarak beberapa centi saja, otot kotak yang berbaris sejajar sudah menempel di lengan Yu Hwa.


Yu Hwa yang risih dengan posisi ini segera berdiri. Namun usahanya gagal, Akeno menarik tangannya sehingga dia kembali duduk di pangkuan Akeno.


"Kenapa sayang? Kau mau kemana?" tanya Akeno tepat di telinga Yu Hwa. Hembusan nafas baunya membuat bulu kuduk Yu Hwa berdiri ngeri.


Yu Hwa sedikit mendorong dada Akeno agar dia dapat sedikit ruang untuk bernafas. Kemudian melempar senyum termanisnya.


"Maaf Tuan, saya akan mengambil arak lagi untuk Tuan," ucap Yu Hwa mencari alasan.


Sejujurnya dia masih belum sanggup untuk merelakan tubuhnya pada pria di hadapannya saat ini.


Akeno semakin erat memeluk pinggang Yu Hwa, dan mendaratkan kecupan ganas di tengkuknya.


Tanpa menunggu waktu lama, Akeno menggendong Yu Hwa dan melemparnya ke kasur.


Saat ini Yu Hwa sangat takut, dia berusaha menguatkan hatinya dan percaya kau pengorbanannya malam ini tidak akan sia-sia.


Akeno membuka celananya, saat ini tubuh polos Akeno sudah terpampang nyata di hadapan Yu Hwa. Tombak panjang yang terlihat menjulang membuat Yu Hwa bergidik ngeri.


Buliran keringat sebesar biji jagung mulai menetes dari kening Yu Hwa, ingin sekali dia menendang tombak tersebut.


"Ayo Sayang, bukankah kau bilang akan melayaniku?" ucap Akeno yang sudah naik ke atas ranjang.


Yu Hwa mundur teratur, jantungnya berdegup kian cepat.


"Ba-baik. Aku akan melayani mu Tuan, Tapi kita buat kesepakatan," ucap Yu Hwa memberanikan diri duduk dengan tenang.

__ADS_1


"Apa?" sahut Akeno sambil menarik tubuh Yu Hwa ke pelukannya.


"Jangan bunuh Jae Sung, saat Jae Sung selamat. Aku akan menyerahkan semua padamu," ucap Yu Hwa lirih.


Tak ada pilihan lain, saat Ki Yu Hwa sudah pasrah dengan segalanya. Apapun akan dia lakukan demi Jae Sung, walaupun dia tak akan pernah membalasnya.


Akeno tersenyum tipis, dia tak menyangka gadis di hadapannya rela mengorbankan tubuhnya demi lelaki lain.


Padahal dia sudah sangat percaya diri kalau gadis ini mulai menyukainya, tapi tak apa. Yang terpenting baginya adalah tubuh mungil yang akan menghangatkan nya malam ini.


"Baiklah, aku berjanji nyawa kekasihmu itu akan selamat." dusta Akeno.


'Tapi aku tak menjamin kalau tubuhnya akan tetap utuh' batin Akeno menyeringai tajam.


Dengan berat hati Yu Hwa mulai mengalungkan kedua tangannya ke pundak kekar Akeno. Melihat gadis ini patuh membuat Akeno semakin bersemangat.


Dia mengigit bibir bawahnya, berusaha mengontrol darahnya yang mulai menjalar ke ubun-ubun.


"Tenanglah Sayang, aku kan bergerak selembut mungkin." ucap Akeno mulai menarik tali baju Yu Hwa.


Sengatan listrik mulai menyengat setiap inci tubuhnya, otaknya semakin tak bisa di kendalikan saat melihat kulit Yu Hwa yang putih bersih.


Perlahan Akeno membuka lilitan kain yang membungkus dada Yu Hwa, lilitan demi lilitan sudah berhasil dia buka dan tinggal lilitan terakhir.


Yu Hwa memejamkan mata, mencoba untuk menerima nasipnya. Air matanya mulai meleleh di ujung mata.


'Semua ini aku siapkan untukmu, tapi nyawamu lebih penting. Maafkan aku ...' batin Yu Hwa perih.


Lilitan kain sudah terlepas dari dada Yu Hwa, saat ini tubuhnya sudah polos sempurna ...


Brukk ...


Akeno tergeletak tak sadarkan diri ...

__ADS_1


"Apakah kau sangat menikmati semua ini?"


__ADS_2