Hidden Crown Prince 2

Hidden Crown Prince 2
Bab 22. 7 hari sebelum pemberontakan


__ADS_3

Akeno dan Hwan sedang berpikir keras mengatur strategi perang, di hadapannya ada miniatur kerajaan.


Beberapa panglima perang dari kubu Akeno juga berdiri di sebelahnya, sesuai keahlian mereka, dengan rapi mereka memberi strategi perang yang biasa mereka pakai.


Ini alasan mengapa Hwan memilih bersekutu dengan Akeno. Dia dan prajuritnya tak pernah gagal dalam bermain strategi.


Namun ini pula penyebab Hwan sedikit khawatir, Akeno terkenal licik dan tidak mau di ajak kerja sama kalau itu tidak menguntungkan baginya.


Akan tetapi semua berbanding terbalik, dengan mudahnya dia menyetujui kerja sama hanya karena wanita. Padahal bila dia ingin, hanya dengan sekali petik dia bisa mendapatkan yang jauh lebih sempurna dari Yu Hwa.


Bukan Akeno namanya bila semua persiapan tidak di siapkan dengan matang, sebelumnya dia sudah mendekati kerajaan dan membangun hubungan dekat.


Hwan mendengar dia dan kerajaan telah melakukan sebuah perjanjian, dan yang jelas perjanjian tersebut lebih menguntungkan di pihak Akeno.


Di sisi berbeda, Yu Hwa sedang minum teh di temani oleh Bibi Lung. Sejak peristiwa semalam Yu Hwa menampakkan rona kebahagiaan, ini semua jauh dari perkiraan Bibi Lung.


Yang semakin mengejutkan, semua kamar masih tertata rapi, seolah Yu Hwa menikmati malam panjangnya dengan Akeno penuh dengan suka cita.


"Nona baik-baik saja?" tanya Bibi Lung mulai khawatir, dia takut kalau Yu Hwa mulai depresi.


"Kenapa wajah Bibi seperti itu? Aku baik-baik saja Bi ... aku hanya merasa senang saja," ucap Yu Hwa memandang aneh wajah cemas Bibi Lung.


Bukankah seharusnya wanita senja tersebut senang dengan aura kebahagiaan yang dia pancarkan, kenapa malah sebaliknya?


"Aku mau jalan-jalan ke luar, Bibi bisa menemaniku?" ucap Yu Hwa dengan riang.

__ADS_1


"Mari Nona saya temani," ucap Bibi Lung melempar senyum teduh.


Bibi Lung mencoba menghapus prasangka buruknya, entah mengapa hatinya sangat was-was pagi ini.


Namun setelah melihat Yu Hwa dan Jae sung yang memancarkan rona bahagia, sepertinya tak akan ada hal buruk yang terjadi.


Mungkin mereka sudah berbaikan, walau Bibi Lung tak tau mengapa mereka bisa berbaikan yang jelas dia juga ikut bahagia.


Yu Hwa melangkah menyusuri taman, bibir tipisnya dari tadi bersenandung ria. Sungguh Bibi Lung tak pernah melihat gadis yang dia asuh selama dua tahun terakhir memancarkan kebahagiaan seperti ini.


"Nona tidak mau bercerita dengan Bibi, aku sangat ingin mendengar gosip pagi ini," Bibi Lung mulai penasaran apa yang kabar yang dia lewatkan.


Pipi Yu Hwa bersemu merah, ingin sekali dia bercerita namun rasa malunya lebih dominan.


"Tidak ada gosip apapun Bi ..." ucap Yu Hwa tersipu malu.


"Jangan dong Bi ... Nanti malam aku akan bercerita, janji." ucap Yu Hwa memeluk Bibi Lung.


Mereka bergandeng tangan melewati jembatan yang terdapat kolam di bawahnya, dari arah yang berbeda akeno sedang melangkah bersama para pengawalnya.


Melihat rona bahagia Yu Hwa membuat Akeno mendekatinya,


"Kau sudah bangun Sayang?" tanya Akeno dengan wajah yang ceria.


Para pengawal melangkah menjauh di ikuti oleh Bibi Lung yang mereka bawa bersamanya.

__ADS_1


Rona bahagia mendadak hilang berganti dengan raut wajah ketakutan, Yu Hwa mundur teratur, tapi tangan Akeno segera meraih pinggang ramping Yu Hwa dan mengecup kasar bibir tipisnya.


Akeno menghimpit kedua pipi Yu Hwa dengan jemari besarnya, dan melanjutkan lumatannya sampai Yu Hwa sesak napas.


"Apa kau sangat menikmati malam panjang semalam? Kelihatannya kau sangat puas, tapi tidak denganku, sepertinya aku terlalu mabuk semalam," ucap Akeno melepas pangutannya.


Yu Hwa segera menghirup napas panjang. Sesekali dia terbatuk karena tak mendapatkan oksigen.


Melihat hal tersebut Akeno terbahak, dia sangat yakin kalau dirinya belum melakukan hal apapun pada gadis ini. Walaupun pengawalnya bilang kalau ada pertempuran hebat semalam di kamar Yu Hwa.


"Karena kau sangat puas, nanti malam aku akan datang ke kamarmu lagi untuk memuaskan mu," ucap Akeno melangkah pergi.


Langkah Akeno terhenti dan berbalik,


"Akan ada hadiah untukmu karena sudah memuaskan ku semalam." ucap Akeno melempar senyum bengisnya.


Yu Hwa menepuk dadanya yang masih terasa sesak, entah mengapa dia merasa Akeno menyembunyikan sesuatu.


Dia mencoba mengingat peristiwa semalam, sepertinya saat itu Akeno benar-benar dalam posisi tidur.


"Astaga Yu Hwa kenapa kau jadi tertular otak mesum Akeno," yu Hwa memukul kepalanya saat mengingat kegagahan Jae Sung semalam.


Bibi Lung segera berlari mendekati Yu Hwa saat para pengawal Akeno pergi.


"Nona tidak apa?" tanya Bibi Lung khawatir.

__ADS_1


"Tidak Bi ... Aku baik-baik saja, kita kembali ke kamar saja," ucap Yu Hwa.


Di sisi yang berbeda ada seorang yang sedang mengintai Yu Hwa dan Bibi Lung.


__ADS_2