
Ara duduk di bebatuan di samping kolam, matanya menatap lekat pantulan wajah cantiknya dari air.
"Aku tidak memintamu untuk mencintaiku lagi, aku hanya ingin kau memikirkan dirimu. Bukan egomu," ucap Ara lirih.
Hwan berdiri dan hendak melangkah pergi, dia tak mau mendengar ucapan Ara yang membuat tekatnya goyah.
"Teruslah berlari, kau memang pengecut!" ucap Ara dengan suara pedih.
Hwan menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya kembali. Dia melangkah mendekati Ara.
Kemudian duduk di sampingnya, matanya melihat pantulan wajah cantik Ara yang dulu sering membuat harinya indah.
Dulu wajah itu selalu tersenyum, mata indahnya tak pernah sekalipun meneteskan air mata kala itu. Hari mereka indah sebelum Ibu Ara hadir di antaranya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Hwan menatap pantulan wajah Ara yang matanya mulai memerah.
"Ibuku ingin aku membunuh Ae Cha, karena dia rencana yang dia susun hancur. Dan tak ada kesempatan untuk menghentikan pernikahan Miyong dan Haa Joon." jawab Ara.
Ingin sekali dia memeluk gadis di sampingnya saat ini, pasti dia sangat tertekan belakang ini karena ibunya yang gila harta itu.
__ADS_1
Dia masih ingat saat dia menjadi gadis manis yang lugu dan cantik, gaun indah dan rambut yang di tata begitu cantik.
Kini gadis itu berubah menjadi singa medan perang yang tak mempunyai belas kasih, menjadi pribadi yang jauh dari jati dirinya.
"Maafkan aku, aku tidak akan memintamu untuk menyelamatkan Ae Cha, aku akan mencari bantuan lain." ucap Hwan dingin.
Ara terkekeh, dia melempar senyum kecut ke arah Hwan. Apakah semua pria memang tidak memiliki kepekaan?
"Kenapa eskpresi mu begitu?" tanya Hwan menatap lekat Ara yang sudah berganti ekspresi.
"Apa cinta itu sudah tidak ada, walaupun hanya sedikit?" tanya Ara masih menatap Hwan.
Bagaimana dia bisa menjelaskan ke Ara, dia tidak mau membuat nyawanya terancam saat di sampingnya. Dan lagi, Ibu Ara sudah membuat larangan keras untuk hubungan mereka.
Dulu Ara sampai di hukum cambuk dan berbaring di kasur selama dua pekan akibat Ibunya tau kalau mereka bersama.
Mulai saat itu Hwan berjanji akan menjaga jarak dan tidak akan membuat Ara dalam bahaya lagi.
Karena musuh mereka sebenarnya adalah ... perasaan mereka masing-masing.
__ADS_1
"Bukankah kau tau, aku akan menikah!" ucap Hwan melempar pandangannya.
"Cihh, sekarang mana calon istrimu itu!" Ara berdecih kesal.
"Aku akan memperkenalkan nya padamu, asal kau harus berjanji tidak akan menemui ku lagi!" ucap Hwan tegas.
"Baik, aku tidak akan menemui mu lagi!" jawab Ara tanpa pikir panjang.
Brukk ...
Ara mendorong Hwan sekuat tenaga hingga mereka terjatuh, Hwan tergeletak dengan Ara di atasnya.
Tatapan mereka bertemu, Ara menarik konde yang menggulung rambut hitam panjangnya. Seketika rambut itu tergerai indah di hadapannya.
"Apa yang kau lakukan!" ucap Hwan segera bangkit.
Namun dia di tahan oleh Ara, tubuhnya ndi dorong kembali dan kedua tangannya di ikat ke atas oleh selendang Ara.
"Ara, kau mau apa? Ingat ini adalah rumahku dan kau adalah musuhku!" teriak Hwan.
__ADS_1
Ara tak peduli, seolah telinganya tuli dan tak mendengarkan apapun. Hingga akhirnya dia menyondongkan tubuhnya mendekati Hwan dan mendarat kan kecupan lembut dia bibirnya.