
Yu Hwa mengetuk pintu kamar Hwan, namun tetap tak ada jawaban. Dia tidak mengetuk pintu sampa beberapa kali, untuk kali ini dia tidak ingin mengalah lagi.
Dia harus mendapatkan jawab detai Hwan, bagaimana bisa dia menyerang Jae Sung. Ini sangat sulit di cerna.
"Kakak ... Kak Hwan, bangunlah." teriak Yu Hwa.
Tidak seperti biasanya, Yu Hwa mulai khawatir dengan keadaan Kakaknya, dia sudah bersiap mendobrak pitu kamar Hwan.
"Hey kau mau apa?" tanya Hwan yang muncul dari arah taman.
"Kakak, kakak dari mana?" tanya YU Hwa mengerutkan keningnya ketika melihat pakaian Hwan yang berantakan.
"Aku habis latihan pedang," jawab Hwan sambil melempar pandangan ke arah lain.
"Latihan pedang, di taman?" Yu Hwa semakin bingung.
"Ada apa kau kemari, tumben." ucap Hwan mencoba mencari topik lain.
Yu Hwa segera berlari kecil mendekati Hwan, dia menatap lekat mata kakaknya. Namun konsentrasinya terpecah ketika melihat sebuah luka kecil di dekat bibir kakaknya.
"Kakak kau berkelahi dengan siapa?' tanya Yu Hwa menunjuk ujung bibir Hwan yang tergores luka kecil.
Sepertinya ini juga bukan luka penda tumpul, hampir seperti gigitan melihat di sampingnya juga terdapat goresan kecil walau samar.
"Cepat katakan kau mau apa?" tanya Hwan yang mulai risih, wajahnya mulai memerah.
"Untuk apa kakak melakukan penyerangan pada Jae Sung Kak, dia tidak bersalah," ucap YU Hwa langsung ke inti permasalahan.
"Dia telah membunuh paman kita," sahut Hwan.
"Pasti ada alasannya kak, dia juga menolong Ayah saat dia kritis dulu," Yu Hwa tidak mau kalah.
"Dia bukan Ayahmu." ucap Hwan dengan nada berat.
"Aku tak peduli siapa dia, yang jelas Jae Sung sudah membantuku. Dan aku tidak mau Kakak bertindak lebih gila lagi, cukup istana saja Kak. Jangan Jae Sung, Kumohon," ucap Yu Hwa memelas.
"Harusnya kau memikirkan keselamatanmu sendiri, apakah ini berarti kau sudah menerima Akeno menjadi suamimu?" tanya Hwan menatap lekat Yu Hwa.
__ADS_1
Hwan tak habis pikir, mengapa Adiknya bisa sangat mencintai berandalan seperti Jae Sung itu. Padahal sudah banyak nyawa yang hilang di tangannya.
Lebih parahnya lagi, dia tidak memikirkan nyawanya sendiri. Apa dia tidak berpikir bahwa Akeno adalah orang yang berbahaya.
Apakah Yu Hwa tidak takut nyawanya akan melayang saat tubuhnya sudah berhasil di cicipi oleh pria biadab tersebut.
"Jae Sung tidak pantas denganmu." Hwan melangkah pergi melewati Yu Hwa.
"Jadi menurutmu aku lebih cocok dengan Akeno, orng biadab yang hanya memikirkan sel*ng*n saja!" ucap Yu Hwa penuh emosi.
"Jaga mulutmu, aku tidak mau semua usahaku berantakan," bentak Hwan.
"Baik aku akan mendukung Kakak, sampai titik darah penghabisan. Tapi aku mohon, jangan bawa jae Sung dalam perang blas dendam kakak," ucap Yu Hwa lirih dan melangkah pergi.
Hwan menarik napas panjang, dia tidak mengerti jalan pikiran adiknya tersebut. Kenapa semua wanita tidak bisa berpikir secara logis.
Dia memutuskan untu segera masuk, sesekali dia celingukan mencari sosok yang membuatnya semalam tidur di luar menikmati hangatnya angin malam.
Semoga saja tak ada orang tau kejadian semalam, kalau tidak. Dia bisa di anggap tidak jauh beda seperti Akeno.
****
"Nona, bagaimana?" tanya Bibi Lung menantikan kabar baik dari Yu Hwa.
"Tidak ada pilihan lain Bi ... Jae Sung sudah banyak membantuku, kini giliranku membantunya," ucap Yu Hwa dengan mata berkaca.
Perasaan Bibi Lung merasa tidak enak, semoga saja Yu Hwa tidak bertindak gegabah dalam masalah ini.
"Sampaikan ke Akeno, aku kan melayaninya malam ini." ucap Yu Hwa perih.
Bagai badai di musim panas, Bibi Lung tak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini.
"Tidak Yu Hwa, jae Sung pasti lebih memilih dirinya mati dari pada harus mengorbankan mu." ucap Bibi Lung lirih.
"Jangan sampai jae Sung mendengar ini semua," sahut Yu Hwa.
Tangan Yu Hwa gemetar membayangkan saat akeno akan menjamahnya, semoga saja dengan ini kakaknya bisa berpikiran jernih dan segera menyelesaikan tugas balas dendamnya.
__ADS_1
Yu Hwa tau selama ini Bibi Lng pasti berhubungan baik dengan Jae Sung, tapi Yu Hwa pura-pura tidak mengetahuinya.
Baginya melihat Jae Sung selamat dari tebasan pedang Kakaknya dua tahun lalu saja dia sudah sangat bahagia.
Bibi Lung menggenggam jemari lembut Yu Hwa dia bisa merasakan bagaimana gadis ini sangat ketakutan.
Begitu besar pengorbanan cinta keduanya, ujung mata senja Bibi Lung mengalir buliran bening.
"Jangan lakukan ini semua, Jae Sung juga banyak berkorban untuk nyawamu, jangan sia-siakan pengorbanannya selama ini," ucap Bibi Lung memohon.
Yu Hwa memeluk erat wanita senja tersebut, dia sudah menganggapnya seperti ibunya sendiri.
"Tolong sampaikan ke Jae Sung, Jangan datang malam ini. Demi nyawaku, Bibi Lung harus berjanji padaku ...Kumohon ..." ucap Yu Hwa dengan air mata yang berderai.
****
Malam telah tiba, detik-detik mendebarkan untuk Yu Hwa, dia sudah siap dengan gaun cantiknya.
Gaun berwarna biru muda yang membalut lekukan indah tubuhnya, rambut panjang yang tergerai indah. Serta aroma wangi bunga lili yang semerbak dan memabukkan.
Kamarnya sudah di hias sedemikian rupa, seolah merayakan kekalahan Yu Hwa saat ini. Berulang kali dia mengatur napas agar dirinya bisa tenang dan tidak menangis.
Bibi Lung membuka pintu, dia membawa beberapa botol arak masuk ke kamar Yu Hwa. Mata berkacanya menatap sendu gadis yang saat ini sedang duduk di atas kasur menantikan kemalangannya.
"Nona bisa pergi kalau ingin merubah pikiran, saya ikhlas menggantikan posisi Nona. Saya rela mati demi Nona, hidup Nona masih panjang jangan seperti ini." isak Bibi Lung membelai lembut pipi mulus Yu Hwa.
"Aku tidak mau mengorbankan Jae Sung lagi Bi ... aku," ucap Yu Hwa menarik napas panjang.
Terdengar pintu yang di buka dengan keras, Hwan datang dengan dengan wajah penuh amarah.
Melihat kemurkaan Hwan, dengan berat hati Bibi Lung meninggalkan kedua kakak-beradik tersebut.
"Apa maksudmu melakukan seperti ini?" ucap Hwan menggebrak meja yang membuat botol-botol arak bergetar.
"Sudah aku bilang, aku akan mendukung kakak sampai titik darah penghabisan," ucap Yu Hwa tanpa ekspresi.
"Cukup, hentikan kegilaan ini. Aku akan menyuruh wanita lain menggantikan mu, sekarang kau harus pergi," ucap Hwan yang menarik tangan Yu Hwa keluar kamar.
__ADS_1
Mata Hwan membulat ketika melihat Akeno sudah ada di depan pintu kamar Yu Hwa dengan telanjang dada dan memamerkan deretan otot kotaknya.
"Kakak, mau dibawa kemana istriku malam ini?" tanya Akeno dengan seringai mengerikan.