Hidden Crown Prince 2

Hidden Crown Prince 2
Bab 4. Benarkah?


__ADS_3

Yu Hwa terbelalak ketika melihat sekelebat bayangan yang dia kenal, dia mengedip-ngedipkan matanya mencoba memastikan apakah ini mimpi atau bukan?


Saat matanya terbuka kembali, dia harus menahan rasa kecewanya karena bayangan itu telah hilang.


Yu Hwa menyusuri tiap sudut ruangan yang ramai akan orang bersenang-senang, yang dia lihat hanyalah banyak pemuda yang mabuk-mabukan di temani oleh beberapa wanita penghibur.


"Dia Adikku, Ae Cha." ucap Hwan memperkenalkan Yu Hwa ke orang-orang di hadapannya.


"Sangat cantik, sayang umurku sudah tua." kekeh pria tua dengan rambut yang sudah memutih dan keriput menghiasi wajahnya itu.


Matanya menatap Yu Hwa dengan tatapan menerkam, untung saja dia rekan kakaknya. Kalau tidak, dia akan mencekiknya saat ini juga.


'Dasar tua bangka nggak tau diri,' Batin Yu Hwa kesal.


"Kau sangat cantik Nona, kenalkan aku Akeno." ucap pria paling muda di antara tamu Kakaknya.


Yu Hwa hanya melempar senyum dan menganggukkan kepalanya, kemudian melempar pandangan ke kakaknya.


"Sepertinya Ae Cha bisa menemanimu melihat-lihat kebun di belakang," ucap Hwan.


Yu Hwa membuka matanya lebar, mengisyaratkan bahwa dia tidak mau melakukan hal tersebut. Namun, Hwan tak mempedulikan itu.


"Ayo Ae Cha, antar tamu kita." ucap Hwan.


Dengan menahan amarah Yu Hwa bangkit dari duduknya dan melangkah keluar. Di susul oleh Akeno yang melangkah di belakangnya.


Yu Hwa melangkah dengan cepat meninggalkan ruangan, semakin cepat akan lebih baik. Dia sudah muak dengan manusia tak berperikemanusiaan itu.


"Tunggu Nona, kita akan kemana?" tanya Akeno.


"Pelayan," panggil Yu Hwa, beberapa detik kemudian seorang pelayang cantik keluar dari balik pintu salah satu kamar yang sudah Yu Hwa sediakan.

__ADS_1


Yu Hwa sudah menebak hal ini akan terjadi, untung saja firasatnya benar.


Akeno tersenyum kecil, dia menggelengkan kepalanya lirih.


"Ternyata Nona Ae Cha sangat peka, layanan Anda sangat memuaskan." ucap Akeno melangkah mendekati Yu Hwa.


"Terima kasih atas pujian Tuan, semoga Tuan puas dengan layanan kami." ucap Yu Hwa membungkuk.


"Akan tetapi ... Aku lebih menyukai wanita berkelas untuk menemani malamku." ucap Akeno menatap tajam Yu Hwa.


"Tenang saja Tuan, wanita yang akan menemani Anda bukan wanita sembarangan. Dia masih utuh dan tak pernah disentuh." jawab Yu Hwa sambil mengepalkan tangannya.


Ternyata kabar yang dia dengar benar adanya, entah apa yang Kakaknya pikirkan hingga mau berkerja sama dengan orang seperti ini.


"Bagaimana kalau Anda menemaniku untuk membuktikan kebenaran wanita ini," ucap Akeno dan melangkah semakin dekat.


Yu Hwa mundur beberapa langkah.


"Maaf Tuan, saya harus berlatih pedang malam ini," jawab Yu Hwa segera membalikkan tubuhnya.


"Tidak perlu, saya akan ikut Nona Ae Cha berlatih pedang. Anda bisa melatih saya sekalian, bukankah kita akan sering bersama?" ucap Akeno.


Yu Hwa mengeraskan rahangnya, dia tak menyangka kalau Akeno akan bertindak demikian.


Jemari Yu Hwa mengepal semakin kuat, dia manarik nafas dalam dan mencoba meredam emosinya.


"Baiklah, Tuan saya antar." ucap Yu Hwa mengayunkan langakahnya tanpa menoleh ke belakang.


Melihat Akeno dan Yu Hwa pergi, seketika pelayan tersebut bernafas lega.


"Terima kasih Tuhan, hidupku selamat malam ini," bisik pelayan tersebut sambil mengelus dadanya.

__ADS_1


***


Akeno dan Yu Hwa sampai di tempat latihan, di sebuah lapangan yang cukup luas dengan banyak senjata berjejer di tepi lapangan.


Meskipun minim penerangan. Namun Yu Hwa dapat melihat dengan jelas sebuah patung yang biasa dia buat latihan.


Cahaya rembulan malam di tambah api lilin semakin menambah kesan romantis, hembusan angin malam yang dingin membuat Yu Hwa teringat pada seseorang.


Dia pernah merasakan malam yang sama. Namun saat ini dengan orang yang berbeda, dia mengambil sebilah pedang miliknya.


"Apa kau bisa memainkan pedang Tuan?" tanya Yu Hwa sudah menempatkan pilihan pada sebuah pedang.


"Tentu Nona, bagaimana kalau kita taruhan?" ucap Akeno memamerkan wajah liciknya.


"Baiklah, sepertinya ini seru," jawab Yu Hwa yang sudah percaya diri akan memenangkan taruhan ini.


"Yang kalah harus mau jadi pelayan," sahut Akeno.


"Baiklah, setuju." ucap Yu Hwa segera menebaskan pedang ke hadapan Akeno, namun pedang itu sukses di tepisnya.


"Kau curang Nona, sekarang giliran ku." ucap Akeno mengangkat pedangnya, sehingga pedang Yu Hwa tergelincir dan membuatnya terbanting.


Untungnya Yu Hwa bisa menjaga keseimbangan dan berdiri kokoh. Dia mengayunkan pedangnya lagi, kali ini dia fokus ke leher Akeno.


Dengan mudah pedang itu di tepis, dengan cepat Akeno merubah posisi sehingga Yu Hwa sudah berada tepat di dekapannya.


"Kau mau tau caraku melenyapkan musuh ... saat sudah seperti ini aku akan segera mematahkan kepalanya dan ... argh ..."


Brukk ...


Akeno tergeletak begitu saja, Yu Hwa semakin terbelalak. Dia segera mengecek tubuh Akeno, memastikan tak ada darah mengalir.

__ADS_1


Setelahnya memastikan Akeno hanya pingsan, dia menghembuskan nafas lega.


"Terima kasih Bu ..." Yu Hwa membatu ketika melihat siapa yang berdiri di hadapannya.


__ADS_2