Hidden Crown Prince 2

Hidden Crown Prince 2
Bab 8. Jangan Ganggu


__ADS_3

"Jae Sung ... pergi Nak ..."


"Jangan bicara apapun ... tetaplah disini ..."


"Ibu ..."


Suara tangisan meraung saling bersahutan, kesedihan, ketidak berdayaan. Bercampur jadi satu, tangisan itu sungguh menyesakkan dada.


"Paman ..."


"Ikhlaskan semua Nak, kau layak hidup bahagia ..."


"Paman ..."


Terlihat cipratan darah yang mencuat dan mendarat di wajahnya.


"Yu Hwa ..."


"Kau ..."


"Ya ... aku yang membunuh mereka, dan kini tiba giliranmu ..."


Jlebb ...


"Argh ..."

__ADS_1


Jae Sung membuka mata dan segera berenang ke permukaan. Dia terbatuk ketika sadar kalau air sungai mulai masuk ke rongga hidungnya.


Merasakan tubuhnya sudah merasa kedinginan, Jae Sung memilih untuk mengakhiri acara berendamnya.


Dia berenang ke tepi sungai, perlahan dia keluar dari sungai. Tampak otot kotak yang berjejer rapi di perutnya, bahu lebar yang terlihat kokoh membuat pemandangan ini sungguh sayang di lewatkan.


"Ehemm ..." ucap Jiang Mi, otaknya sudah terkontaminasi dengan pemandangan panas pagi ini. Semoga saja pria itu segera memakai bajunya.


Jae Sung tersenyum kecil, dan melangkah mendekati Jiang Mi.


"Tutup matamu, dasar mesum." ucap Jae Sung tersenyum kecil.


Jae Sung berbalik badan, tampak banyak sekali bekas luka yang terukir di tubuhnya. Namun yang paling parah adalah, luka yang terukir di punggungnya.


Dilihat dari bekasnya, luka itu sepertinya cukup dalam.


"Tidak! Baiklah, aku akan berbalik," ucap Jiang Mi. Yang kemudian memutar tubuhnya.


"Anak baik," ucap Jae Sung dengan suara meledek.


"Apakah kau tidak takut bermain pedang lagi?" celetuk Jiang Mi.


Terdengar kekehan kecil dari belakang, yang membuat Jiang Mi cemberut kesal. Melihat bekas lukanya saja dia sudah ngeri, apa salahnya dia bertanya demikian?


Kalau dia menjadi Jae Sung, pasti semua pedang akan dia buang dan berjanji tak akan menyentuhnya lagi.

__ADS_1


"Kau masih kecil, jadi nikmati masa muda mu. Oke," ucap Jae Sung menepuk pundak Jiang Mi dan membalikan tubuh nya.


"Hari ini Ibumu masak apa?" tanya Jae Sung, menampakkan wajah cerianya.


"Lihatlah, wajah seperti ini sangat di takuti banyak orang," ucap Jiang Mi berdecak kesal.


"Memang kenapa?" tanya Jae Sung dengan wajah tak peduli, dia masih sibuk membuka tas yang Jiang Mi bawa.


Dari aroma yang dia cium, sepertinya masakan hari ini cukup menggugah selera.


"Kau tidak pantas menjadi ketua bandit, wajahmu terlalu tampan dan ramah." ucap Jiang Mi menatap lekat Jae Sung.


"Oiya, aku anggap semua itu adalah pujian," jawab Jae Sung alakadarnya.


"Wahh, sup ikan ..." Mata Jae Sung berbinar seperti telah mendapatkan bongkahan emas.


"Kau lebih pantas menjadi pangeranku Kak Jae Sung," ucap Jiang Mi lirih, nyaris tak terdengar.


"Kau mengucapkan sesuatu?" tanya Jae Sung tak peduli, tangan dan matanya masih sibuk dengan sup ikan di hadapannya.


"Nikmatilah Kak, aku akan pergi membantu ibu lagi. Taruh saja disini, nanti aku akan mengambilnya kembali." ucap Jiang Mi beranjak dari duduknya.


Dengan hati-hati Jiang Mi melangkah melewati batu yang penuh lumut dan licin. Setelah sampai di jalan setapak dia melambaikan tangannya ke arah Jae Sung.


Jae Sung membalas dengan lambaian tangan dan tersenyum tipis.

__ADS_1


"Hah, memang gadis itu sangat aneh. Aku sudah menganggapnya sebagai adikku sendiri, malah dia mau cari mati mau menjadikan aku Pangerannya," Jae Sung bergumam, kemudian melanjutkan sarapannya.


__ADS_2