
Akeno dan Hwan duduk di sebuah ruangan yang sudah di siapkan, ada banyak botol minuman dan beberapa pelayan wanita disana.
Sebenarnya Hwan risih dengan keberadaan banyak wanita seperti ini, namun tetap saja ini semua demi berlangsungnya rencana.
Akeno duduk dengan di himpit dua geisha dengan pakaian terbuka, sementara Hwan hanya melihat dengan jijik.
"Jadi kapan kita bisa melakukan penyerangan?" tanya Hwan yang sudah tak tahan terlalu lama berada di dekat pria mesum ini.
"Santai saja Tuan, bukankah aku juga belum menikahi adikmu." ucap Akeno sambil mencium salah satu wanita yang duduk di sampingnya.
Demi Tuhan, Hwan akan membunuhnya saat tangan kotor itu menyentuh Yu Hwa. Jangan harap dia bisa memiliki Adik kesayangannya seutuhnya.
Sebelum dia mati, dia tidak akan memberikannya pada orang gila wanita di hadapannya.
"Bukankah lebih cepat, akan lebih baik." desak Hwan.
Akeno tak merespon ucapan Hwan, dia malah lebih tertarik dengan mainan boneka yang ada di sampingnya.
Dengan liar dia mengecup habis bibir keduanya dan melucuti pakaiannya.
Hwan menghela napas panjang dan berdiri, lebih baik dia tidur dari pada melihat pertunjukan panas di hadapannya.
__ADS_1
"Tunggu! Kau mau kemana?" tanya Akeno di tengah permainannya.
"Maaf Tuan, aku tidak mau mengganggu pestamu." jawab Hwan singkat.
"Kenapa kau begitu kaku, aku juga tidak pernah melihatmu bersenang-senang. Padahal di sini banyak sekali pelayanan cantik ... argh ..." celoteh Akeno, masih dengan posisi berpacu pada wanita yang berada di atasnya.
Hwan mengeraskan rahang, tangannya sudah menggenggam ganggang pedang dengan erat.
"Maaf aku sibuk menyiapkan perang, karena ini adalah tujuan hidupku." Hwan segera melangkah pergi sebelum emosinya tak terkontrol.
Dia melangkah pergi dari ruangan penuh gairah dan menuju taman bunga, tempat dimana dia selalu menetralkan emosinya.
Cahaya sinar bulan yang memantul di air kolam membuat taman itu terlihat lebih terang, Hwan duduk di sisi taman dan menatap jauh ke kolam.
"Andai ada cara lain, aku pasti akan memilihnya." ucap Hwan lirih.
"Kau sudah memiliki caranya, tapi kau malah pergi!" sahut seorang yang keluar dari kegelapan.
Hwan menarik pedang yang terselip di pinggangnya dan bersiap menyerang. Matanya menyapu sekitarnya, memastikan kalau tak ada orang selain dia.
Orang tersebut tertawa terbahak melihat tingkah Hwan yang ketakutan, hanya beberapa prajurit tak akan menghalangi jalannya untuk bertemu Hwan.
__ADS_1
"Kau tau, gara-gara kau Ibuku di asingkan!" ucap gadis cantik yang tertutup jubah hitam.
"Apa menurutmu aku bodoh, Adikku akan di jadikan tumbal kekejaman Ibumu. Dan aku akan diam saja!" bentak Hwan.
"Lihat, kau bilang kita bisa menyerang kerajaan. Tapi nyatanya ..." Hwan memasukkan kembali pedangnya dan duduk di tempatnya.
Gadis itu melambangkan dan duduk di samping Hwan, dia menatap pria tampan yang pernah singgah di hatinya.
Namun itu dulu, setelah dia sadar kalau keduanya tak mungkin melanjutkan hubungan ini. Begitu banyak batu krikil di hadapan mereka.
"Tolong culik Ae Cha saat pernikahannya, tukar pengantinnya." ucap Hwan dengan suara berat.
Ara membulatkan matanya, bukankah itu sama dengan menghancurkan semua pengorbanan dan usahanya selama ini.
Bagaimana kalau Akeno tau dan malah menyerang balik Hwan? Bukankah itu lebih mengerikan.
Hwan menatap lekat gadis di hadapannya, dia masih melihat aura cinta yang masih terpancar begitu jelas di mata indahnya.
Saat ini tak ada pilihan lain, tak ada seorangpun yang dia percaya kecuali gadis di hadapannya.
"Nyawamu akan hilang seketika saat Akeno tau kalau Ae Cha tidak ada." Ara menatap Hwan khawatir.
__ADS_1
"Bukankah selama ini aku sudah bermain dengan malaikat maut," kekeh Hwan.
"Bisakah kau tidak memikirkan dirimu sendiri,