
Seorang gadis sedang terbaring lemah, matanya tertutup rapat dan bibirnya begitu pucat.
Terdapat goresan luka cukup dalam di pergelangan tangannya, seorang tabib baru saja selesai membalut luka tersebut dengan beberapa rempah dan kain.
Di sisi lainnya, berdiri seorang pria bertubuh kekar yang sedang menatap gadis tersebut dengan tatapan layu.
Tabib segera berdiri setelah menyelesaikan tugasnya, dan hanya meninggalkan dua orang kakak beradik di dalam.
Hwan duduk di samping Yu Hwa, sebenarnya dia merasa bersalah telah membuat adiknya seperti ini.
Dia sadar kedatangannya sangat terlambat, sehingga membuat kekacauan. Akan tetapi, mau bagaimanapun Yu Hwa harus tau asal usulnya.
Kedua Ayahnya meninggal mengenaskan, karena menolong selir raja yang tidak lain adalah Ibu Jae Sung.
Di tambah lagi Ibunya yang berpikiran kalau Ayahnya mempunya hubungan gelap dengan selir itu. Membuat Dia memilih untuk mengakhiri hidupnya.
Dan saat ini, tiba-tiba Jae Sung dekat dengan adiknya. Satu-satunya keluarga yang tersisa, dia tak akan membiarkan kejadian buruk menimpa keluarga kecilnya lagi.
Jae Sung memiliki banyak musuh, ajal bisa datang makan saja tanpa permisi. Di dekatnya sama saja berdekatan dengan malaikat maut.
Hwan menutup tubuh Yu Hwa dengan selimut dan melangkah keluar kamar. Di luar sudah ada prajurit yang menunggu kedatangan Hwan.
"Lapor Ketua, mayat Jae Sung tidak ada di tempat." ucap Salah satu prajurit.
__ADS_1
"Biarkan saja, mungkin sudah menjadi santapan anjing liar. Kita fokus mencari sekutu untuk menyerang kerajaan," ucap Hwan.
"Kerajaan sedang membangun hubungan baik dengan jepang, mungkin kita bisa mencari celah," ucap Prajurit.
"Baik, kumpulkan informasi. Kita akan mengajaknya menjadi sekutu." ucap Hwan, kemudian melangkah pergi.
Dia tak menutup mata dengan fakta dimana Jepang sangat tamak, mereka tidak pernah benar-benar menjadi sekutu kalau tidak ada sesuatu yang di incar.
Sudah bisa di pastikan apa yang mereka cari di istana, tapi Hwan yakin pasti ada jalan keluar untuk membawa mereka bersamanya.
Toh Hwan tidak menginginkan tahta, hanya nyawa harus di balas nyawa. Dan itu harus segera terlaksana.
Hwan naik ke kudanya dan meninggalkan kediamannya, dia memacu kuda dengan cepat masuk ke dalam hutan.
Jae Sung membuka matanya perlahan, dia cukup terkejut ketika membuka matanya.
Dia segera bangun dari tidurnya,
"Aww ..." Jae Sung merintih kesakitan.
Dia melihat sudah banyak baluran obat di tubuhnya, dan di sampingnya tersaji segelas teh yang masih mengeluarkan asap tipis.
Matanya menyusuri tiap ruangan, ada banyak sekali kendi dan dedaunan kering. Tercium ada banyak sekali tanaman obat yang saling tercampur.
__ADS_1
Bisa di pastikan ini adalah rumah seorang tabib, dia mencoba mengingat kejadian sebelumnya saat di dalam hutan.
Yang dia ingat hanyalah dia mencoba meminta pertolongan pada seorang yang lewat, sangat bersyukur ternyaman dia adalah seorang tabib.
"Kau sudah bangun?" tanya seorang gadis dari arah belakang.
Jae Sung menoleh ke sumber suara, sudah ada seorang gadis yang melangkah mendekat dengan membawa sebuah nampan yang berisi mangkuk.
"Ini makanlah, kau kehilangan banyak sekali darah semalam." lanjut gadis tersebut.
"Ka-u yang menolongku semalam?" tanya Jae Sung.
"Iya, kau sudah hampir mati semalam. Astaga, hanya demi cinta kau sampai seperti ini." ucap gadis tersebut menggelengkan kepalanya lirih.
Jae Sung melebarkan matanya, dia tak percaya dengan apa yang dia dengar. Baru kali ini dia mendengar ada yang berbicara demikian padanya.
"Kau ..." ucapan Jae Sung terputus.
"Kau sudah sadar," sahut tabib yang baru saja datang.
"Ibumu sudah aku rawat, lebih baik kau segera pulang," lanjut tabib tersebut menatap gadis yang saat ini duduk di hadapan Jae Sung.
"Baik, terima kasih paman," Gadis tersebut bangkit dan segera keluar kamar. Tak berapa lama terdengar hentakan kaki kuda yang menjauh.
__ADS_1
"Paman Yang," ucap Jae Sung lirih. Matanya membulat, tidak mempercayai dengan apa yang dia lihat.