
Jae Sung memakai pakaiannya lagi, sedangkan Yu Hwa masih tergeletak lemas setelah di hajar habis oleh Jae Sung.
"Maafkan aku," ucap Jae Sung yang menatap Yu Hwa yang masih lemas.
Yu Hwa terdiam, dengan sisa tenaganya dia bangun dan menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut.
"Terima kasih," jawab Yu Hwa.
Hanya itu yang dapat dia katakan, malam yang harusnya menjadi petaka. Kini berubah menjadi anugrah bagi Yu Hwa.
Jae Sung menatap lekat Yu Hwa dan membelai lembut pipinya, dia mengusap sisa-sisa keringat yang membasahi rambutnya.
"Bisakah kita tetap seperti ini?" ucap Yu Hwa memelas.
Jae Sung memeluk erat tubuh mungil Yu Hwa, menuangkan segala kerinduan yang sudah lama dia tahan.
Sejujurnya dia juga merindukan gadis ini, namun dia masih belum siap saat Sang Kakak, Hwan. Mengetahui hubungan mereka.
Kedepannya akan sangat sulit bagi mereka untuk bersatu, Jae Sung tau bagaimana rasanya hidup di dalam kesepian, sangat menyiksa.
__ADS_1
Dirinya tak mau sampai Yu Hwa merasakan hal yang sama, Hwan adalah satu-satunya keluarga yang dia punya. Dan baginya hubungan ini harus di pertahankan.
"Kenapa kau curang? Harusnya kau menemui ku sejak dulu kan?" celoteh Yu Hwa sambil memainkan rambut Jae Sung.
"Berhentilah bersikap kekanak-kanakan, sekarang pakai bajumu. Aku tidak mau kau terkena masalah saat orang ini bangun," ucap Jae Sung melempar pandangan ke samping mereka.
Entah mengapa orang itu tertidur cukup pulas, padahal Yu Hwa dan Jae Sung sangat berisik beberapa menit yang lalu.
Ralat, tidak hanya berisik. Bahkan sangat heboh sampai ranjang yang mereka naiki ikut bergoyang maju mundur.
"Kau yakin mau menikahinya?" tanya Jae Sung menyatukan alis.
"Bawa aku kabur dari sini, aku akan sangat bahagia bila itu terjadi," ucap Yu Hwa mengecup bibir Jae Sung.
"Dia bukan kakakku," elak Yu Hwa.
"Dia kakakmu, aku yang salah. Saat itu aku membunuh guru Hwan yang sudah dia anggap seperti Ayahnya sendiri." Jae Sung memasang wajah bersalah.
"Saat itu aku kira Ayahmu dan Hwan ikut dalam perencanaan pembunuhan Ibuku, tapi aku keliru. Aku malam memperbesar masalah." lanjut Jae Sung tersenyum kecut.
__ADS_1
Jae Sung membalut tubuh Yu Hwa dengan pakaian yang ada di sampingnya, di saat yang bersamaan pintu Yu Hwa di buka paksa.
Hwan masuk, mata Yu Hwa dan Jae Sung terbelalak. Mereka terkejut dan mulai kelimpungan.
"Sepertinya kau sangat menikmati malam mu," ucap Hwan melangkah masuk.
"Kakak kenapa masuk?" ucap Yu Hwa yang membenarkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya dan orang yang berada di dalamnya.
Hwan menatap lekat adiknya dan orang yang sedang tertidur di sampingnya. Dia merasa ada yang aneh pada mereka.
Melihat Akeno yang tertidur pulas membuat Hwan curiga, dia sudah pernah melihat bagaimana dirinya berpacu pada setiap wanita. Dan nyatanya dia tidak pernah sampai kelelahan seperti ini.
Hwan berbalik dan mencium aroma arak pada gelas bekas Akeno. Alis Hwan mengkerut, terukir senyum tipis di wajah tampannya.
Dia tidak percaya adiknya bisa secerdas ini, Hwan mendekati Yu Hwa dan menatapnya tajam.
"Kau bisa selamat malam ini, jangan ulangi lagi. Sisanya serahkan padaku." ucap Hwan melangkah pergi.
Mendengar langkah Hwan menjauh dan tak terdengar, Jae Sung segera keluar dari persembunyiannya.
__ADS_1
"Kau memberinya obat tidur," Jae Sung tak percaya.
"Aku masih belum rela menyerahkan semuanya, dan ternyata do'aku di kabulkan malam ini. Sungguh, aku kira hidupku akan berakhir padanya ..."