Hidden Crown Prince 2

Hidden Crown Prince 2
Bab 2. Kenangan pedih


__ADS_3

"Bagaimana lukamu?" tanya Wanita tersebut.


"Sudah baik-baik saja, terima kasih," jawab Jae Sung sambil melempar senyum.


"Baiklah, kau bisa makan ini. Aku akan membantu ibu lagi," ucap Wanita tersebut beranjak dari duduknya dan melangkah penuh hati-hati.


Mata Jae Sung terus menatap air sungai yang mengalir dengan tenang, hampir setiap hari dia melakukan hal ini. Duduk dan melamun.


Sekelebat bayangan hitam sembunyi di balik pohon besar, dan perlahan mengayunkan pedang tepat di leher Jae Sung.


"Ada apa kau kemari?" tanya Jae Sung santai.


"Kamu tau, ini aku?" jawab Min hoo tak percaya.


Dia menarik pedangnya dan ikut duduk bersama Jae Sung. Dan menyapu sekitar dengan tatapan tajam.


"Kerajaan saat ini sedang kacau, apa kau tak berniat kembali?" tanya Min hoo sambil melahap makanan di sampingnya.


"Aku tidak bisa kembali, bawa sebagian anak buah bersamamu." jawab Jae Sung enteng.


Min Hoo menggelengkan kepalanya lirih, dia tak menyangka pristiwa dua tahun yang lalu masih membekas erat di otaknya.


Tidak hanya luka di setiap inci tubuhnya, melainkan hatinya saat itu juga remuk tak berbentuk. Bagaimana bisa alam begitu tak adil kepadanya.


"Baiklah kalau kau tak mau masuk ke istana, tapi kau harus mendengar ini." ucap Min hoo serius.


"Yu Hwa akan memberontak ke istana dalam waktu dekat ini. Mereka mau membalaskan dendam Ayahnya, dan yang paling mengejutkan adalah mereka memiliki sekutu terkuat jepang," lanjut Min Hoo.


"Bukankah itu memang tujuan mereka dari awal," sahut Jae Sung enteng.


"Maafkan aku, harusnya kau tak boleh mendengar ini. Namun kau juga perlu melanjutkan hidupmu," ucap Min Hoo serius


"Kau seperti teman yang paling perhatian sedunia saja," kekeh Jae Sung.


"Yu Hwa akan menikah dengan bangsawan jepang, untuk memperkuat pertahanan." ucap Min Hoo lirih.


Tawa yang tadinya terukir manis, kini hilang entah kemana. Telinganya terasa panas mendengar kabar ini.


Melihat mimik wajah Jae Sung yang berubah membuat Min Hoo bergidik ngeri, dia segera bangkit dan melangkah menjauh sebelum kepalanya akan di tebas oleh Jae Sung.


Min Hoo memperlambat langkahnya, mengharap Jae Sung akan mengucapkan kata yang selama ini dia harapkan.


Sesekali Min Hoo memutar kepalanya. Namun Jae Sung tak bergeming, dia masih di posisi duduk santai. Min Hoo menghela nafas panjang dan segera pergi meninggalkan Jae Sung sendiri.


"Apakah kau di sana begitu bahagia?" bisik Jae Sung perih.


"Aku sangat ingin menjagamu, melewatkan hari-hari indah bersamamu," ucap Jae Sung merogoh tusuk konde yang terselip di balik bajunya.


Dia terus menatap konde indah tersebut, bayangan wajah Yu Hwa yang tersenyum manis tergambar jelas di sana.


Angannya melayang jauh kembali pada masa dimana dirinya masih bersama Yu Hwa, hari-hari yang indah tanpa adanya dendam sedikitpun.


Jemari lembut yang selalu mengobatinya saat dia terluka, tatapan mata indah yang selalu memberinya kekuatan.

__ADS_1


Candaan yang selalu membuatnya tersenyum dan melupakan kesedihan akan kehilangan keluarganya.


Saat ini semuanya berbanding terbalik, Hidup Jae Sung gelap gulita.


"Katakan Bu, aku harus bagaimana?"


"Aku sangat mencintainya, tapi apa yang harus aku lakukan?"


"Membunuhnya?"


"Membiarkan arwah mu tak tenang?"


"Aku harus apa !!!" Teriak Jae Sung dengan suara parau.


****


Di tempat yang berbeda, Yu Hwa sedang duduk di depan kaca. Beberapa pelayan sedang sibuk merias wajahnya.


Sekuat apapun dia menahan laju air matanya, tapi air itu tetap lolos dan membanjiri pipinya. Sehingga riasannya selalu luntur.


Hwan masuk ke kamar Yu Hwa. Dia menyuruh semua pelayan untuk pergi.


"Kau masih merindukannya? Apakah kau lupa dia sudah mati," ucap Hwan.


Yu Hwa masih terdiam, lidahnya kelu untuk mengatakan perasaan yang di rasakan saat ini. Semua terlalu rumit baginya.


"Apa kau benar-benar mencintainya?" tanya Hwan menggelengkan kepalanya tak percaya.


Yu Hwa tak bisa menjawab, karena tebakan Hwan benar adanya. Dia masih tak bisa berpaling dari Jae Sung sedikitpun.


Sebelum Hwan datang di hidupnya, Jae Sung lah yang menemani masa sulitnya dan telah mengetuk hatinya ...


"Jawab aku!" Teriak Hwan yang hilang kesabaran.


"Aku sedang berusaha melupakannya Kak, semua butuh waktu." ucap Yu Hwa melepas cengkraman kakaknya.


Hwan menggebrak meja di sampingnya dengan kuat, sehingga menimbulkan suara keras yang membuat Yun Hwa terperanjat kaget.


"Sudah 2 tahun, apakah tidak cukup?" tanya Hwan dengan mata melotot.


"Aku sangat menyayangimu, tapi logikaku lebih aku andalkan dari pada perasaan. Aku harap kau bisa mengerti maksudku," ucap Hwan kemudian pergi dari ruangan.


Yu Hwa menarik nafas panjang, dia merosot kelantai dan memukul tubuhnya.


"Kenapa kau tidak mengambil nyawaku saja Tuhan,"


"Aku tidak ingin memilih salah satu dari mereka, mereka semua penting bagi hidupku." ucap Yu Hwa terisak.


Dia tak menyangka kalau keluarga dan kebahagiaan yang dia miliki saat ini harus mengorbankan perasaannya.


Yu Hwa berdiri dan mengambil sebilah pisau dia dekatnya, tanpa pikir panjang dia menggoreskan ke tangannya.


"Stop Nona!" ucap seorang yang menerobos masuk ke ruangannya.

__ADS_1


Dia segera merebut pisau tersebut dan membuangnya.


"Kenapa kau datang?"


"Kau akan bilang kalau aku kurang bersyukur hah!"


"Atau kau mau bilang kalau semua akan baik-baik saja," Teriak Yu Hwa menunjuk pelayannya.


"Katakan!"


"Kenapa aku yang harus membunuh Nona Miyong?"


"Apa salahku jika masih mencintai Jae Sung, toh dia juga sudah tiada,"


Yu Hwa terus bermonolog, mengeluarkan kepedihan di hatinya.


Yu Hwa melangkah melewati pelayannya begitu saja, tangannya meraih kembali pisau yang tergeletak di lantai.


Pelayan yang tau segera mengehentikan sang Nona, namun Yu Hwa terlalu kuat. Dia terdorong dan tergeletak di lantai.


"Nona jangan seperti ini, tamu sedang menunggumu di luar," ucap Pelayan sambil merintih kesakitan.


"Aku tidak peduli, aku hanya ingin pergi menyusul Jae Sung." ucap Yu Hwa lirih sambil mencengkram pisau kuat.


"Nona stop! ada suatu hal yang tidak kau tau!" ucap Pelayan.


"Aku tidak peduli," ucap Yu Hwa, yang berhasil merobek tangannya hingga mengeluarkan cairan kental berwarna merah.


"Nona, Jae Sung masih hidup. Apa kau tidak sadar akan kedatangan setiap hari menengok mu?" ucap pelayan tersebut sambil terisak.


"Apa?" Tubuh Yu Hwa mendadak lemas, pisau yang dia genggam terjatuh seketika.


Pelayan segera bangkit dan mencari sebuah kain untuk menutupi luka di pergelangan tangan Yu Hwa. Untungnya luka tidak tepat di urat nadi, sehingga goresan ini tidak serius.


Pelayan tersebut membantu Yu Hwa berdiri, dan duduk di kasur. Dengan hati-hati dia mengobati luka Yu Hwa yang cukup dalam.


Yu Hwa tak merasakan pedih sedikitpun, hatinya saat ini bahagia bercampur terharu. Dia tak percaya kalau seorang yang dia cintai masih hidup.


Selama ini dia merasa bersalah karena telah membiarkannya tergeletak di hutan begitu saja, dan parahnya lagi. Dia tak dapat mengutarakan perasaannya.


"Saat ini dia dimana?" tanya Yu Hwa bersemangat.


"Nona mau menemuinya?" tanya pelayan dengan tatapan ragu.


"Tentu," sahut Yu Hwa.


"Memang tak seharusnya hamba berucap seperti ini, tapi saya sarankan jangan pernah menemuinya," ucap pelayan menampakkan wajah sedih.


"Ada apa?" tanya Yu Hwa yang mulai menyadari ada sebuah hal ganji.


"Karena nona adalah senjata Tuan Hwan untuk menghancurkan istana dan Jae Sung."


"Apa !!!"

__ADS_1


__ADS_2