
Yu Hwa duduk di kamarnya, banyak pelayan yang keluar masuk kamarnya untuk melakukan tugas.
Tanggal pernikahan sudah di tentukan, begitupun waktu penyerangan ke istana. Entah mengapa semua orang bodoh itu menyetujui usul kakaknya.
Saat ini dia sudah seperti barang yang di tukar dengan nasip, dan entah itu nasip.baim atau buruk.
Seberapa kuat pasukan sekutu itu, otaknya saja di penuhi wanita dan wanita. Kenapa mereka tidak meminta bantuan Jae Sung saja? Bukankah prajurit Jae Sung lebih handal?
Kenapa kakaknya tidak bisa berpikir jernih, kalau memang orang tua mereka mati. Bukankah itu sudah menjadi pilihan mereka, bahkan saat kejadian itu terjadi Jae Sung masih di dalam perut kan.
Semua sel saraf otak Yu Hwa seakan saling bertabrakan saat ini, bagaimana kenyataan begitu kejam padanya.
Menikah dengan pria, bahkan untuk melihatnya saja perut Yu Hwa sudah amat mual.
"Nona, sudah selesai. Kami pamit," ucap Pelayan kemudian keluar, di susul oleh pelayan lainnya.
Yu Hwa hanya mengangguk lirih, dia tidak bersemangat meskipun tubuhnya baru saja di manjakan dan di beri aromaterapi bunga Lily.
Yu Hwa masih berbaring terlungkup di kasur, hanya selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya saat ini.
__ADS_1
Hingga terdengar pintu terbuka, lalu seorang masuk.
"Diam di sana!" bentak Yu Hwa.
Matanya membulat ketika melihat Akeno sudah ada di hadapannya, dengan tatapan lapar.
"Bukankah kau akan menjadi milikku," kekeh Akeno.
Yu Hwa mencengkram selimut yang menempel ditubuhnya, keringatnya mulai bercucuran. Dia tak menyangka pria gila ini semakin hari semakin tidak waras saja.
Ingin sekali dia menghunus pedang ke matanya, dan mencongkel bola mata itu saat ini juga.
Langkah Akeno semakin mendekat, berulang kali dia mengigit bibir bawahnya seolah menahan aura lapar yang sudah tak tertahankan.
Bukalah Jae Sung bisa dengan mudah menerobos pertahanan kakaknya?
Melihat wajah ketakutan Yu Hwa membuat Akeno semakin tertantang untuk maju, saat Iki dia sudah menggenggam selimut yang menutupi tubuh Yu Hwa.
Hanya dengan sekali tarik, dia akan mendapatkan pemandangan indah. Sosok bidadari dengan tubuh sempurna yang selama ini dia dambakan.
__ADS_1
"Kalau kau berani menariknya, aku kak mematahkan tanganmu saat ini juga!" ancam Yu Hwa dengan mata berkaca.
Mungkin dia sudah gila karena mengancam, padahal dirinya saat ini dalam keadaan terjepit dan tak memiliki benda apapun untuk melawan.
Matanya mencoba mencari benda yang dapat membantunya saat ini, dengan bersusah payah dia menenagkan hatinya agar dapat berpikir jernih.
Namun selimut di tarik perlahan, seketika Yu Hwa mencengkram lebih kuat.
"Aku tidak akan pernah memaafkan mu!" bentak Yu Hwa berkali lagi.
Apakah memang perasaannya, bahkan tak ada penjaga atau pelayan satupun yang mendengar teriakan Yu Hwa.
Akeno tertawa terbahak melihat ketidak berdayaan Yu Hwa, dia semakin naik ke kasur dan melilit tangannya dengan selimut yang yang menutupi tubuh mungil Yu Hwa.
"Biarkan aku menghangatkan mu, sayang sekali kecantikanmu bila di lewatkan." ucap Akeno mendengus ke arah Yu Hwa.
Yu Hwa hanya diam, dia mencoba lebih tenang lagi. Jemari besar Akeno sudah mulai membelai wajah cantik Yu Hwa dan menghapus bulir-bulir keringat di keningnya.
"Bahkan kita belum mulai, kau sudah kepanasan. Bagaimana kalau aku mulai sekarang?" ucap Akeno mulai membuka bajunya.
__ADS_1
Seketika Yu Hwa mendorong Akeno dengan sekuat tenaga dengan kakinya.
"Argh ..."