Hidden Crown Prince 2

Hidden Crown Prince 2
Bab 3. Membunuh Rasa


__ADS_3

Pelayanan tersebut terdiam, dia tak mampu mengucap sebuah berita larangan ini. Bagaimanapun ada banyak penjaga disini.


Pelayan tersebut menggenggam erat jemari Yu Hwa,


"Kalian tidak bisa bersama, ini terlalu sulit." ucap Pelayan menatap teduh Yu Hwa.


Yu Hwa tak bergeming, dia hanya menatap pergelangan tangannya yang saat ini sudah di gulung selembar kain.


"Jae Sung mempunyai banyak prajurit, banyak bandit yang mendukungnya. Dan Tuan Hwan kualahan dengan hal ini." ucap Pelayang tersebut melangkah dan mengambil alat rias.


"Pasti Nona sudah tau mengapa Tuan Hwan ingin menyerang istana bukan?" lanjut Pelayang tersebut.


Perlahan dia menambahkan bedak yang terhapus di pipi lembut Yu Hwa, dengan teliti dia merias wajah cantik Nonanya.


"Jae Sung memang hebat, tapi dia juga manusia biasa yang dapat meregang nyawa. Tidak semua masalah bisa di toleransi oleh Tuan Hwan," pelayan tersebut menatap lekat Yu Hwa.


Yu Hwa hanya diam, tak ada satu katapun yang keluar dari bibir tipisnya. Namun saat ini air matanya sudah berhenti mengalir.


Tak terasa riasan wajah Yu Hwa telah selesai, dia masih menatap kosong ke arah tangannya yang di bungkus kain.


"Nona harus giat berlatih, karena yang bisa menyelamatkan hidup Nona hanya Anda sendiri." ucap pelayan tersenyum teduh.


Pelayan tersebut beranjak dan melangkah untuk membuka pintu.

__ADS_1


"Kau harus menjelaskan apa yang tidak aku ketahui disini!" ucap Yu Hwa menekan kalimatnya dan bangkit dari duduk.


Dia melangkah keluar kamar, langakahnya terhenti sesaat.


"Apakah saat ini dia ada disini?" tanya Yu Hwa lirih.


"Maaf Nona, dia tidak datang malam ini. Keadaan tidak kondusif saat ini." jawab Pelayan menundukkan kepala.


Yu Hwa tersenyum kecut dan melanjutkan langkahnya, dia melewati beberapa pelayan yang belum lama ini di usir oleh Kakaknya.


Saat ini Yu Hwa tampak cantik dan anggun dengan gaun putih yang membalut tubuh mungilnya. Sepertinya wanita pada umunya, dia memakai sanggul dengan tusuk konde motif bunga yang terpasang rapi di kepala.


Kulit putih bersih Yu Hwa dan di balut oleh make up tipis membuatnya terkesan cantik natural, dia melangkah perlahan menuju ruang perjamuan.


Walaupun dia tau itu mustahil, saat ini ada perjamuan dan pastinya ada banyak prajurit yang berjaga di setiap sudut rumah.


Meskipun prajurit Kakaknya tidak sebanding dengan Jae Sung. Namun acara malam ini sangat penting baginya, sehingga banyak penjaga yang disebar di setiap sudut rumah.


Dengan wajah kecewa, Yu Hwa melanjutkan langkahnya dan masuk kedalam ruang perjamuan. Di sana sudah banyak sekali orang menunggunya.


Seorang yang paling ceria adalah sang Kakak, dia segera beranjak dan menyambut kedatangan Yu Hwa. Dia memeluk Adik tercintanya.


"Jangan kecewakan Kakakmu sayang," bisik Hwan.

__ADS_1


Yu Hwa hanya tersenyum kecut dan mengangguk. Hwan menggandeng tangan Yu Hwa dan menuntunnya untuk bergabung dengan tamu agung mereka.


Sementara di luar ruangan, ada beberapa seorang yang sedang bersiap di tengah kegegelapan.


Mereka menantikan seorang yang sedang mengadaikan nyawanya di dalam. Baru kali ini mereka melihat ada seorang macan yang suka rela masuk ke markas pemburu.


Meskipun maca itu ganas, tapi tidak akan bisa melewati hujan anak panah. Kecuali dia memiliki kekuatan magis.


"Apakah ketua akan selamat?" tanya salah satu orang.


"Semoga saja," sahut salah satu orang.


"Aku tidak tau, ternyata cinta memang membutakan segalanya." lanjut orang tersebut.


Di dalam Yu Hwa sedang duduk dengan beberapa orang pria. Dua orang paruh baya, ada dua orang lagi berusia senja dan satu orang muda, sepertinya seusianya.


Mereka memakai baju tentara kebangsaannya, yaitu Jepang. Entah dari mana kakaknya bertemu dengan mereka, yang jelas Yu Hwa tak begitu nyaman disini.


Yu Hwa melempar pandangan ke arah lain, dan tidak sengaja saling tatap dengan seorang di ujung ruangan.


Dia segera memalingkan pandangannya,


'Jae Sung'

__ADS_1


__ADS_2