
Yu Hwa membuka mata ketika mendengar suara yang sangat dia rindukan, air matanya saat ini meleleh seketika.
Dia tak menyangka kalau orang ini akan datang menyelamatkannya,
"Apa kau sangat menginginkan tidur dengannya?" tanya Jae Sung dingin.
Yu Hwa melempar pandangan, apa mata Jae Sung buta. Bahkan sedikitpun dia tak menginginkan hal tersebut, apa wajah ketakutannya tak dapat menjelaskan segalanya.
"Ya, aku sangat menginginkannya. Sampai aku yang mengundangnya masuk ke kamarku," ucap Yu Hwa melempar pandangannya.
Jae Sung menghela napas panjang, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini.
Jae Sung menarik tubuh Akeno yang terkulai lemas dan segera membalikkan tubuhnya.
"Cepat pakai bajumu, pengawal pasti akan segera curiga," ucap jae Sung dengan nada dingin.
"Tidak akan," sahut Yu Hwa cepat.
Dia cukup kecewa karena semua usahanya tidak berjalan mulus, bahkan pria kotor ini telah melihat tubuh polosnya yang sudah lama dia jaga dengan baik.
Jae Sung tidak mau berdebat terlalu lama, dia segera melangkah pergi dari kamar. Namun langkahnya terhenti saat tubuhnya di peluk erat.
Jae sung meneguk liur ketika suatu bongkahan yang mengganjal menempel pada punggungnya.
Di saat yang bersamaan suara riuh sudah terdengar dari luar, para pengawal yang dia buat pingsan sudah bangun dan mencari dirinya.
"Kau ingin kita mati bersama hah!" ucap Jae Sung mengeraskan rahangnya.
"Tidak, lebih tepatnya menikmati malam yang panjang bersama," ucap Yu Hwa lirih.
Seketika Jae Sung memutar tubuhnya, dia segera menutup mata dan mendorong Yu Hwa ke atas kasur. Jae Sung menarik selimut untuk menutupi tubuh Yu hwa.
__ADS_1
DIa menaruh tubuh lemas Akeno di samping Yu Hwa, kemudian berbalik.
"Maaf telah menganggu malammu," ucap jae Sung.
Brukk ...
Yu Hwa menarik baju Jae Sung sekuat tenaga sehingga dirinya terjatuh di atas kasur, tepat di antara Yu Hwa dan Akeno. Di saat yang bersamaan, para penjaga masuk ke kamar Yu Hwa.
Yu Hwa menutup tubuh Jae Sung dengan selimut dan menindihnya. Dia segera memeluk tubuh Akeno.
Seketika tubuh Jae Sung mendadak demam di dalam selimut, bila tadi bongkahan itu hanya menempel. Bahkan saat ini benda tersebut dapat dia lihat dengan jelas.
"Sangat tidak sopan, kenapa kalian masuk tanpa mengetuk pintu?" ucap Yu Hwa dengan suara marah.
Semua pengawal membalikkan tubuh ketika melihat Yu Hwa sedang memeluk tubuh polos Tuannya.
"Maaf Nona, tadi ada penyusup. Kami hanya khawatir dengan Tuan kami," ucap pengawal dengan wajah ketakutan.
"Jadi maksud kalian aku akan mencelakai Tuanmu ini" Yu Hwa sengaja mengulur waktu.
Dia tidak peduli dengan manusia yang saat ini ada di dalam selimut. Dia sudah sangat sebal karena perlakuannya belakangan ini.
"Maaf Nona ..." sahut Pengawal serentak.
"Jadi kalian masih menunggu Tuanmu bangun?" tanya Y Hwa yang menatap para pengawal yang tak kunjung pergi.
"Baik aku akan membangunkan Tuanmu ini," ucap Yu Hwa sebal.
"Ti-tidak Nona, kami akan pergi saa ini juga," ucap para pengawal.
Mereka keluar kamar Yu Hwa dan menutupnya kembali, namun mereka tidak segera pergi. Mereka masih khawatir akan keselamatan Tuannya.
__ADS_1
Mereka mendengar kabar bahwa kekasih Nona yang berada di dalam akan datang untuk menyelamatkannya, dan mereka tidak mau mengambil resiko.
Jadi mereka memutuskan untuk tetap berada di depan pintu sampai Tuanya akan keluar dalam keadaan baik-baik saja.
Sementara itu di dalam kamar Jae Sung segera keluara dari selimut, dia tak mau kalau dirinya tak bisa mengendalikan dirinya di menit berikutnya.
Melihat Jae Sung yang akan kabur. Yu Hwa segera naik di atas tubuh Jae Sung,
"Kau mau kemana? Setelah kau mau menghancurkan semuanya, kau tidak mua bertanggung jawab," Perotes Yu Hwa yangn sudah duduk di atas perut Jae Sung.
"Sh**TTT," Jae Sung berulang kalil mengumpat karena tombak pusakanya sudah menegang sempurna.
"Dia akan segera bangun, jadi tuntaskan semua dengannya." lanjut Jae Sung sebal.
Merasakan pahanya merasakan sesuatu yang mengganjal, Yu Hwa tersenyum tipis. Dia semakin tertantang untuk melakukan lebih.
Sudah kepala tanggung baginya, dia sudah tak memikirkan kehormatan lagi. Baginya dirinya sudah kotor setelah Akeno berhasil melihat lekukan tubuh indahnya yang selama ini dia jaga.
Toh yang di bawahnya saat ini adalah orang yang dia cintai,
"Lain di mulut, lain di hati. Cobalah menikmati malam ini, karena kita tak akan pernah tau kapan akan bertemu lagi bukan?" ucap Yu Hwa perlahan membuka baju Jae Sung.
Jae Sung mencengkram erat jemari lembut Yu Hwa, mencoba menghentikan aksinya,
"Jadi, apa kau sekarang jijik denganku? Setelah kau membenciku karena meninggalkanmu saat itu, dan menjadi adik Hwan musuhmu. Apa aku saat ini juga menjadi musuhmu!" ucap Yu Hwa lirih, dengan air mata yang berlinang.
"Selama ini aku menantimu, aku kira kau tidak selamat. Tapi apa? Kau bebas berkeliaran disini tanpa sepengetahuanku?" lanjut Yu Hwa.
"Sebenarnya, rencana apa yuang kau siapkan? Bunuh ..." ucapan Yu Hwa terputus setelah mendapatkan kecupan ganas dari Jae Sung.
"Kau sudah memulai, jangan harap aku berhenti sebelum semua ini selesai." ucap Jae Sung memeluk erat tubuh polos Yu Hwa dan mendaratkan kecupan ganasnya lagi.
__ADS_1