Horor And Misteri Stories

Horor And Misteri Stories
MISTERI GADIS KEEMPAT


__ADS_3

Kisah ini saya alami sendiri ketika masih mengenyam pendidikan SD kelas 2 sewaktu di Riau dulu.


Ayah saya itu kerjanya suka pindah pindah, maklum beliau adalah seorang kontraktor proyek. Dan pada saat saya duduk di kelas 2 SD, ayah saya ditugaskan di Pangkalan Kerinci, Riau. Kegiatan saya selain sekolah yaitu mengaji selepas isya. Karena tidak ada yang mengaji di masjid atau mushola sekitar, dan memang di desa tempat kami tinggal ngontrak dulu itu hanya ada satu ustadz, jadi saya bersama anak-anak yang lain mengaji ke rumah ustadz itu.


Waktu itu sekitar akhir tahun 2000an. Memang di lingkungan itu masih banyak hutan. Per RT itu rumahnya sedikit, dan antara satu RT dengan RT lainnya terpisah kebon-kebon dan hutan. Satu RT aja paling cuma ada 4 sampe 5 rumah.


Nah, waktu itu malem Jumat. Seperti biasa saya bersama anak tetangga (Reza namanya) berangkat mengaji ke rumah ustadz. Saya dan Reza tinggal di RT satu, sedangkan ustadz yang jadi guru ngaji saya di RT 2. Otomatis kami harus berjalan berdua malem-malem untuk pergi mengaji iqra ke rumah beliau. Jaraknya sih sekitar 500 meteran, tapi karena lewat kebon-kebon yang nyampur sama hutan, jarak segitu terasa lebih jauh.

__ADS_1


Untunglah di tengah jalan kami berdua bertemu ustadz dan 5 orang murid ustadz yang lain. Kelima orang itu adalah 3 orang cewek dan 2 orang cowok. Kami pun langsung salaman dan cium tangan ustadz.


Lalu Ustadz mengajak kami untuk bareng ke rumahnya, karena ustadz bilang, beliau habis ada perlu dari depan. Maka berangkatlah kami bersama-sama.


Karena saya dan Reza asyik ngobrolin sesuatu, tanpa sadar kami berdua berjalan lambat dan tertinggal.


Posisinya ustadz di paling depan, lalu 2 murid cowok yang lain setelah ustadz, disusul 3 murid cewek di depan kami. Akhirnya kami pun melewati zona kebon-kebon campur hutan yang rasanya seperi lorong yang tak berujung (sampe sekarang kadang saya masih merinding nih kalo inget). Nah, di ujung kebon-kebon campur hutan yang merupakan satu-satunya jalan menuju rumah ustadz itu, ada sebuah rumah.

__ADS_1


Saya gak bisa liat dengan jelas siapa dia, cuma item gelap gitu mukanya di balik kerudung.


Saya sih awalnya biasa-biasa aja, karena memang lampu di rumah itu agak redup. Kemudian setelah menoleh sebentar, dia masuk ke rumah, buka pintu seperti biasa, dan masuk lalu menutup kembali pintunya. Setelah kami berjalan melewati rumah itu, saya heran, kok ustadz dan yang lainnya terus aja jalan, padahal si murid cewek yang tadi masuk rumah itu ngeduluin yang lain dan melewati ustadz juga. Akhirnya saya dan Reza nungguin di depan pintu pagar rumah itu.


Tiba-tiba ustadz noleh dan manggil setengah teriak, “Dit! Reza! Kenapa kalian malah diem? Ayo lanjut jalan!”, kata pak ustadz. Saya jawab, “Ustadz, kita nungguin kak...”, mendadak kata-kata saya kepotong sendiri dan tertahan. Saya langsung merinding! Saya baru sadar, murid cewek di depan kami itu ada 3 orang, dan memang hanya mereka bertiga murid cewek pak ustadz! Terus satu orang yang nyusul dari belakang tadi itu siapa...??? Aneh!


Saya dan Reza saling adu pandang dan bingung. Ustadz dan kelima murid senior lain pun pada melongo liat kita berdua. Kemudian ustadz bilang, “Kamu tuh nungguin siapa? Penghuni rumah itu lagi mudik ke Kalimantan, mereka berangkat seminggu yang lalu”, ujar ustadz. Langsung jantung saya berdetak kencang dan keringat dingin mengucur, dan saya liat Reza pun demikian. Maka tanpa pikir panjang lagi saya dan Reza langsung lari ngacir ke arah ustadz.

__ADS_1


*****


Setelah mengaji, saya dan Reza gak langsung pulang. Saya ceritain dulu apa yang saya dan Reza alami kepada ustadz. Ustadz cuma senyum dan bilang, “Lain kali kalo malem, jalan itu yang konsen. Dan sebelum keluar rumah baca doa dulu!”. Memang saya tadi pas berangkat lupa baca doa. Astaghfirullah...


__ADS_2