Horor And Misteri Stories

Horor And Misteri Stories
MISTERI 4 HARI HILANGNYA AMINAH (PART 2)


__ADS_3

HARI PERTAMA


Pertemuan Aminah dengan si kakek membawanya ke sebuah perjalanan yang sulit dimengerti oleh nalar manusia pada umumnya. Di hari dimana Aminah bertemu si kakek untuk hari pertama, ia dibawa ke sebuah sumber mata air, mata air Cibungur namanya, begitu orang sekitar menyebutnya. Entah apa yang ada di balik nama tempat itu. Ci artinya air dan Bungur artinya Ungu. Mata air tersebut berada di daerah ujung selatan desa Cibunar, agak sedikit seperti lembah tetapi tidak terlalu dalam, dan terletak di dalam hutan yang rimbun dengan pohon bambu yang menjuntai. Tempat itu tidak terlalu jauh dan kurang lebih 50 meteran dari pemukiman sekitar. Cuma harus melewati jalan setapak yang agak menurun untuk menuju tempat tersebut. Sumber mata air itu dimanfaatkan oleh penduduk setempat sebagai tempat mandi, cuci dan kakus di siang hari.


Sebenarnya keluar mata air di tempat tersebut karena ada pohon kiara yang sangat besar, kurang lebih ukurannya sebesar 3 ekor kerbau. Pohon itu kelihatan angker dengan sebagian akar-akarnya yang seukuran betis orang dewasa terlihat menembus tanah. Dari bawah pohon itu keluar mata air sebesar ibu jari kaki. Masyarakat menampung air tersebut dengan membuat empang kecil berukuran 4x3 meter, tepat di bawah pohon besar itu. Menurut penduduk setempat, air tersebut keluar karena ada pohon besar itu. Jika pohon itu ditebang, maka air pun akan mengering, katanya. Dan tepat di bawah pohon besar itulah Aminah tinggal di hari pertama ia dibawa oleh si kakek.


Perasaan Aminah pada waktu itu tidak bisa dejelaskan. Dia cuma sadar, itu adalah malam hari, dan dia sadar dia ada di dalam hutan. Tidak ada penerangan, tetapi tidak ada perasaan takut sama sekali. Kedua payudaranya mulai membengkak dan terasa berat, ingin sekali ia menyusui anaknya. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya terpaku, seperti berada dalam pengaruh hipnotis, dan hanya si kakek yang ada di sampingnya. Dalam keadaan Aminah terpaku diam tidak bisa bertindak apa-apa, Aminah sadar pada waktu itu ia mendengar sayup-sayup dari kejauhan teriakan orang-orang yang memanggil namanya. "Minah... Minah... Aminah... Aminah...!!!". Suara tersebut perlahan tapi pasti mendekati Aminah.


Beberapa saat kemudian. "Minah... Minah...!!!". Suara tersebut kini terdengar dengan jelas oleh Aminah. Dan tepat di depan Aminah, kurang lebih berjarak 4 meter di kegelapan malam, ia dapat melihat percikan cahaya-cahaya obor melintasi jalan setapak yang ada di depannya. Aminah dengan jelas melihat Pak Osin dan beberapa orang lainnya yang pada saat itu melakukan pencarian, lewat tepat di hadapannya. Meskipun begitu, mereka sepertinya tidak bisa melihatnya. Aminah pada waktu itu bermaksud ingin menanyakan kabar bayinya pada mereka. Namun mulutnya terasa terkunci, tidak bisa berteriak, tidak bisa beranjak, padahal ingin sekali hatinya menanyakan kabar bayi yang dilahirkannya, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Pelan-pelan tapi pasti, akhirnya tim pencarian pun mulai menjauhi lokasi dimana Aminah berada. Hanya Aminah dan si kakeklah yang tidak beranjak dari tempat itu. Si kakek kemudian berucap, "Cucuku, besok kita akan pindah menuju Cilamping". Cilamping adalah nama sebuah sumber mata air berikutnya yang akan dikunjungi Aminah dengan si kakek misterius itu. Aminah hanya bisa mengangguk.


*****


HARI KEDUA


Tidak terasa malam pun berganti siang. Aminah belum kunjung ditemukan. Ini adalah hari kedua dimana ia menghilang. Di rumah, bayi Aminah terus merengek, hanya tangisan dan tangisan yang mengisi kesunyian ruangan rumahnya. Di hari tersebut bayi itu akhirnya mendapatkan tetesan susu. Susu itu didapat dari saudara Aminah yang terpaksa membelinya ke kota, karena merasa kasihan dan khawatir atas kondisi bayi Aminah. Akhirnya bayi itu mendapatkan tetesan susu untuk pertama kalinya, meskipun hanya susu formula.


Di hari kedua ini, di siang hari di lokasi dimana Aminah berada, ia hanya bisa tidur dan tidur, atau terkadang dia terbangun sebentar. Sepertinya kakek yang menemaninya tadi malam tidak lagi terlihat di sampingnya, entah kemana. Tapi Aminah masih tetap dalam kondisinya, masih seperti ada dalam pengaruh hipnotis. Ia tidak bisa beranjak dan tidak bisa berbuat apa-apa.


Siang pun mulai berganti malam lagi. Si kakek yang sejak tadi tidak tampak, akhirnya muncul lagi di sampingnya. Entah dari mana datangnya. Si Kakek pada waktu itu berniat ingin melanjutkan perjalanannya menuju tempat ke dua, yaitu ke Cilamping. Dengan digendong oleh si kakek, akhirnya mereka beranjak dari lokasi itu menuju ke Cilamping. Dan sampailah mereka di tempat tujuan.


Sudah 2 hari Aminah menghilang, tanpa ia sendiri mengerti. Malam kedua ini Aminah berada di Cilamping, tempat lokasi mata air berada. Mata air tersebut menetes di antara bebatuan cadas yang membentuk dinding curam di sekitarnya. Memang lokasi ini cukup jauh dari pemukiman, dan berada di sebuah lembah yang cukup dalam dari permukaan desa Cibunar. Pada siang hari hanya ada beberapa orang saja yang beraktifitas mandi, cuci dan kakus di tempat ini. Malam harinya tidak pernah ada orang yang berani lewat ke tempat ini, karena mungkin harus melalui jalan setapak dan kebun bambu yang cukup rindang, ditambah dengan turunan yang cukup curam untuk melaluinya, serta persis di sampingnya adalah jurang yang cukup dalam yang rimbun dengan pepohonan. Jurang tersebut mengarah ke aliran sungai Cimanuk yang membentang dari arah utara ke selatan.

__ADS_1


Di tempat sekarang Aminah berada, ia seperti biasa, hanya bisa berdiam terpaku bersama sang kakek di sampingnya. Pada malam itu ia merasa lapar yang sangat, karena hampir satu hari penuh ia tidak makan. Saking tidak kuatnya menahan lapar, akhirnya Aminah meminta makan kepada si kakek. “Kek, saya lapar!”, ucapnya. Si kakek kemudian menawarkan sepotong makanan kepadanya. Makanan yang dikasih si kakek itu tidak seperti makanan pada umumnya. Makanan itu berwarna hitam kemerahan, sama seperti potongan genteng yang sudah kusam, dan kurang lebih berukuran sebesar 3 jari orang dewasa. Seperti itulah makanan yang diberikan oleh si kakek. Karena lapar, tanpa berfikir panjang akhirnya makanan tersebut sampai ke mulutnya. Tidak berasa apa-apa ketika menyantap makanan itu, rasanya tawar. Anehnya, setelah habis melahap makanan tersebut, Aminah merasa cukup kenyang dan tidak merasa haus lagi.


Malam mulai berganti siang. Diamatinya si kakek tidak lagi ada di sampingnya, sepertinya dia menghilang atau pergi untuk sementara. Tapi keadaan Aminah pada waktu itu masih tetap seperti hari-hari sebelumnya, tidak bisa berbuat apa-apa, dan yang bisa ia kerjakan hanyalah diam terpaku dan tidur.


*****


HARI KETIGA


Tidak terasa sudah hari ketiga Aminah menghilang. Keluarga Aminah masih terus diliputi oleh keadaan panik tidak karuan, memikirkan kondisi anaknya yang belum diketahui rimbanya. Akhirnya, atas inisiatif tetangga-tetangga terdekat, keluarga Aminah diminta untuk mencari orang pintar. Mereka berpendapat, barangkali hilangnya Aminah karena ada campur tangan mahluk gaib sebangsa jin yang menculiknya.


Keluarga Aminah pada waktu itu langsung merespon inisiatif salah seorang tetangganya itu. Mereka mencari orang pintar untuk membantunya. Dari orang ke orang mereka tanyakan tentang orang yang kira-kira mampu untuk menolongnya. Sampai pada akhirnya, orang tua Aminah ditunjukkan ke sebuah rumah. Rumah itu tidak terlalu bagus, hanya rumah panggung yang sedehana, dengan bilik bambu yang digunakan sebagai dinding rumahnya. Rumah tersebut masih berada di wilayah desa Cibunar. Mang Upis nama pemilik rumah itu. Sosoknya tidak terlalu tinggi dan gemar memakai peci. Sebagian rambutnya sudah ditumbuhi uban, dan kulitnya hitam. Maklum mang Upis hanya seorang buruh tani dan seorang peternak domba. Mang Upis sebenarnya bukan orang pintar, tapi dia adalah orang yang tau persis siapa yang bisa menolong keluarga Aminah dari musibah yang sedang dihadapinya. Mang Upis hanyalah perantara yang nanti akan menghubungkan keluarga Aminah dengan orang pintar yang dimaksud.


Tidak menunggu lama, setelah kepergian tamunya, mang Upis langsung beranjak dari tempat duduknya untuk menemui orang pintar yang dimaksud. Tidak lupa dengan pecinya, mang Upis berjalan menyusuri jalan setapak menuju desa tetangga yang berjarak 4 kilometer dari rumahnya. Mang Upis sepertinya sudah tau persis rumah tempat orang pintar tersebut berada. Ya, karena memang orang pintar tersebut masih saudara dekatnya, Mbah Ukon nama orang pintar itu. Pria berusia 70 tahun yang berperawakan tinggi dan kurus, dengan tatapan mata yang sayu, dan rambutnya sudah kelihatan putih, tetapi posturnya masih kelihatan segar walaupun usianya sudah tidak muda lagi.


Setibanya mang Upis di rumah Mbah Ukon, mang Upis kemudian menceritakan detail kejadiannya, dari awal sampai Aminah hilang dan masih belum ditemukan sampai saat ini. Mbah Ukon mengangguk tandanya mengerti. Mbah Ukon terdiam sejenak memejamkan mata dan mulai menerawang. Entah apa yang sedang dilakukannya, sampai pada akhirnya Mbah Ukon berpesan melalui Mang Upis, agar keluarga Aminah menyediakan kemenyan madat, yaitu kemenyan berwarna hitam yang baunya khas seperti kemenyan pada umumnya. Katanya hanya dengan kemenyan inilah Aminah bisa ditemukan, itu juga kalau belum terlambat, katanya. Beliau juga berpesan akan segera menemui keluarga Aminah untuk mulai mencarinya.


Sementara keluarga Aminah sibuk dengan urusannya, Aminah masih berada di lokasi yang tidak bisa ditemukan. Siang pun tidak terasa mulai berganti malam. Dan seperti biasa, si kakek yang tadinya tidak kelihatan batang hidungnya, kini sudah berada di sampingnya. Di malam itu si kakek berencana membawanya ke sumber mata air berikutnya. Mata air itu terletak di lembah yang cukup dalam. Orang sekitar menyebutnya Cinyusu. Penduduk sekitar kadang menggunakan sumber air tersebut untuk kebutuhan sehari-hari. Aminah kemudian dibawa oleh si kakek ke sumber air tersebut. Dan seperti biasa juga, tidak ada yang bisa dilakukan Aminah, dia hanya bisa menuruti apa yang diperintah oleh si kakek. Setiap kali ia lapar, ia akan dikasih sepotong makanan yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Dan dengan memakan makanan itu, ia akan merasa kenyang dan tidak merasa haus lagi.


*****


HARI KEEMPAT

__ADS_1


Keluarga Aminah sudah dapat kabar dari mang Upis untuk menyediakan syarat-syarat yang harus dipenuhinya. Syarat-syaratnya pun sepertinya sudah disediakan, yaitu segenggam menyan madat warna hitam lengkap dengan tempat pembakarannya. Tidak ditunggu lama, pada hari keempat ini, tepatnya di siang hari, orang yang ditunggu-tunggu akhirnya datang, dia adalah Mbah Ukon dengan pakaian hitam dan memakai peci hitam. Ia datang bersama mang Upis untuk menemui keluarga Aminah. Setelah mereka berkumpul, Mbah Ukon kemudian meminta syarat yang dimaksud. Kemenyan pun mulai dibakarnya. Mbah Ukon kemudian memejamkan mata, komat-kamit melafalkan kata-kata dan mantera yang sulit dimengerti.


Beberapa saat kemudian, Mbah Ukon akhirnya membuka matanya. Dengan suara yang sedikit parau, Mbah ukon berkata, "Alhamdulilah belum terlambat. Nanti sore, antar saya ke perbatasan desa Cibunar sebelah selatan!", ujarnya.


Waktu yang ditunggu pun akhirnya tiba. Mbah Ukon ditemani sama mang Upis dan keluarga Aminah akhirnya menuju lokasi yang dimaksud. Ciraja nama lokasinya. Lokasi tersebut terletak bertepatan dengan jalan setapak yang sering dilalui orang untuk keluar dari desa Cibunar. Ketika masyarakat Cibunar menuju kota Garut, jalan inilah yang dijadikan alternatif untuk menuju ke sana. Jalannya sedikit menurun, dan ditumbuhi banyak pohon bambu dan kayu di samping kiri dan kanannya. Jalannya juga cukup terjal dan berlumpur di kala musim hujan.


Sampailah mereka di lokasi yang dimaksud. Mbah Ukon segera duduk bersila dan mulai menyalakan kemenyan sambil komat-kamit untuk yang kedua kalinya. Selang beberapa saat, akhirnya Aminah yang dicari menampakkan diri kurang lebih 10 meter di depannya. Pakaiannya kucel, posisinya sedang tersungkur di atas rerumputan kering di bawah pohon bambu, dan dalam keadaan pingsan. Kata Mbah Ukon, tadi ada sosok kakek-kakek sedang menemani Aminah tepat berada di sampingnya. Katanya, kakek-kakek yang menemani Aminah itu lari terbirit-birit dan kabur karena ketakutan.


Lantas sebenarnya, siapa kakek-kakek misterius itu?


Mbah Ukon menjelaskan bahwa kakek-kakek itu adalah jelmaan sebangsa jin. Dia merasa kasihan kepada Aminah dan bermaksud akan menikahinya. Seandainya pada waktu itu mereka terlambat, Aminah tidak akan bisa lagi ditemukan. Mengutip dari informasi Aminah setelah ditemukannya, bahwa ia pada hari keempat itu akan dibawa oleh si kakek menuju daerah laut kidul di wilayah Pameungpeuk, kabupaten Garut.


Mbah Ukon cuma berpesan, jangan keluar rumah di waktu menjelang magrib untuk ibu-ibu yang baru saja melahirkan. Karena masih bau amis darah yang akan memancing mahluk halus untuk mendekatinya, juga jangan banyak lamunan. Mungkin pada waktu itu kampung dimana Aminah tinggal masih 'geueuman' (angker), tapi sekarang sudah ramai.


Alhamdulilah, Aminah Akhirnya ditemukan. Lantas bagaimana dengan suaminya?


Suaminya tidak jadi menikah lagi, karena ketika itu ada salah satu saudara Aminah yang bekerja di Departemen Agama, mengabari KUA untuk tidak menikahkan pria yang bernama Mukmin, karena dia sudah beristri.


Sampai sekarang Aminah hidup tenteram dengan keluarganya, bersama kisah yang tidak mungkin bisa ia lupakan seumur hidupnya.


*****

__ADS_1


__ADS_2