
Hai aku wawa, aku tinggal di kampung yang begitu sepi, di rumahku aku memiliki lukisan wanita, wanita itu sangatlah cantik.
Saat pagi tiba aku pergi ke rumah reva, ia adalah teman sejati aku, dia juga memiliki indra ke enam, dia bisa melihat yang seharusnya tidak bisa dilihat oleh manusia.
“Hai Reva, yuk kita lari pagi dulu” ucapku pada reva. “Yuk, tunggu dulu ya, aku ambil minum dulu” jawab Reva. “Oke, aku tunggu ya” Ucap ku. “Oke” jawab reva sambil mengacungkan jari jempolnya.
Setelah aku menunggu, akhirnya aku dan Reva berangkat lari pagi juga. Sepanjang perjalanan, aku dan Reva berbincang bincang tentang film. “Hmm, Rev, kamu tau gak, lukisan wanita cantik di rumah aku?” Ucap aku kepada Reva, mungkin saja dia tahu, apa di balik lukisan wanita itu, “Iya tau, emangnya ada apa sih?” Jawab Reva curiga. “Itu loh Rev, kan lukisan wanita itu cantik sih cantik ya, tapi saudara aku kalau melihat lukisan itu dia selalu menutup matanya, itu kenapa ya Rev?” ucap aku menanya ke Reva. “Oh iya? Mungkin saja di balik lukisan itu ada sesosok misterius?” jawab Reva. “Ya sudah kita bahas di warung aja yuk, kamu mau bubur kacang ijo gak?” ucap aku menawarkan bubur kacang ijo ke Reva. “Boleh tuh” jawab Reva senang. “Lets Go!” ucap aku segera menuju ke warung bubur kacang ijo.
__ADS_1
Setelah sampai di warung bubur kacang ijo, kami segera memesan dua mangkuk bubur kacang ijo.
“Oh iya, gimana kalau nanti kamu pulang ke rumah aku dulu ya, nanti kamu cek di balik lukisan itu” ucap aku. “Ya sudahlah, nanti aku pulang ke rumah kamu” jawab Reva singkat.
Setelah beberapa menit, bubur kacang ijo di hidangkan. “Ini siapa yang bayar?” ucap Reva, padahal dia tahu kalau aku lah yang akan membayar, “Aku lah rev” jawab aku sedikit kesal. Setelah beberapa menit, kita selesai makan, “Nih pak uangnya” ucap aku ke pada penjualnya, “Iya, terima kasih” jawab penjual itu.
Setelah beberapa menit, kita sampai di rumah. “Duh, aku merinding nih dekat lukisan ini” ucap aku, Seeeet seet suara gesekan kayu dari arah dapur, aku pun segera pergi menuju dapur, memastikan tidak ada orang melainkan aku dan Reva, tapi ternyata tidak ada orang satu pun di situ, aku pun mulai merinding, aku segera pergi menuju Reva, yaitu di dekat lukisan itu, setelah aku menuju Reva, ternyata Reva sudah tidak ada di sana, “Revaa? Reva, kamu di mana!? OMG! Reva hilang atau pulang?” ucap aku ngomong sendiri, “Halaah, tak ada Reva di sini, mungkin dia sudah pulang tanpa pamitan dengan aku” ucap aku sekali lagi berbicara sendiri.
__ADS_1
Akhirnya aku memutuskan ke kamar untuk menelepon Reva, saat aku menelepon Reva ternyata tidak dijawab, di situ aku mulai khawatir, “Aduuh, dia ke mana sih?” ucap aku khawatir pada Reva, “Waaa! Argghhh! Seeettt” suara misterius itu bersumber dari arah dapur, “mungkin saja itu Reva” Ucap aku memastikan kalau itu benar benar Reva, aku memutuskan untuk pergi ke dapur, memastikan kalau itu adalah Reva.
Setelah aku sampai di dapur, aku melihat Reva yang sedang diikat dan tidak bisa lagi berbicara karena disekap, “Revaa!” Teriak aku khawatir, aku segera membuka ikatan dan sekapan yang ada di tubuh Reva, lalu aku segara membawa Reva ke kamar aku, “Reva, kamu kenapa sih? Kok kamu bisa ada di situ? Kamu di buat seperti ini sama siapa? Kamu jujur deh sama aku” ucap aku kepada Reva merasa khawatir, “Kamu harus segera membakar lukisan itu! Secepatnya! Atau kamu akan celaka! Aku tadi baru saja bertemu dengan hantu lukisan itu, wanita cantik itu berkata dia tidak tenang kalau lukisan itu tetap dipajang, atau pemilik lukisan ini akan celaka!” ucap Reva engos ngosan, “Oke oke, aku akan membakar lukisan itu, tapi kau harus membantu aku ya?” jawab aku kepada Reva, “Oke iya” jawab Reva singkat.
Kita pun segera membakar lukisan itu di halaman belakang rumahku, dan akhirnya saudaraku tidak akan takut lagi ke rumah aku, dan hantu itu pun pergi dengan tenang.
SELESAI
__ADS_1