
Namaku Elis. Aku seorang mahasiswi perguruan tinggi negeri di Bandung. Bersenang-senang mungkin adalah hobiku, mendengarkan musik trend dan ke tempat hiburan untuk sekedar menggoyangkan badan bersama teman-teman, sering kami lakukan tiap minggu. Tapi aku tidak menyangka, tidak semuanya yang kami alami itu menyenangkan.
Suatu hari temanku Erin mengajakku untuk refreshing sekedar untuk melepas penat dengan tugas-tugas kampus. Dia mengajakku pergi ke Jakarta karena ada live party di Senayan. Kami pun berangkat menggunakan mobil Erin.
*****
Singkat cerita, setelah bersenang-senang sampai jam 2 dini hari, kami pun pulang. Di mobil itu kami hanya bertiga, aku yang duduk di belakang, Erin yang menyetir mobil, dan Cindy yang duduk di depan di samping Erin. Mataku sudah berat, tapi Erin tidak mengijinkanku untuk tidur.
Melihat jalanan arah ke Bandung cukup padat, maka Erin mengambil jalan pintas, tidak lewat tol Cipularang, melainkan melalui jalan biasa yang melewati daerah Cianjur. Obrolan kecil pun terjadi selama di perjalanan, membuat suasana dingin menjadi sedikit hangat.
Sampai setelah cukup jauh, Erin tiba-tiba menghentikan mobilnya. Dia lalu turun dan menuju sebuah kios kecil. Aku tidak begitu hafal persis dimana kami berhenti. Tidak lama, Erin pun kembali ke mobil. Saat aku tanya, ternyata dia tadi menanyakan jalan menuju ke Bandung, karena dia pertama kalinya melalui jalan pintas ini.
Erin menebak-nebak jalan hingga mobil pun masuk ke sebuah jalan yang kiri dan kanannya sangat gelap. Hampir tidak ada mobil lain yang melewati jalan itu. Rasa kantuk tiba-tiba menghilang, ketika kita semua sama-sama memperhatikan jalan, menerawang kiri kanan jalan, siapa tau ada plat petunjuk jalan. Namun nihil, tidak ada petunjuk sama sekali, hanya jalanan sepi yang diapit pohon-pohon rindang.
__ADS_1
Aku pun berinisiatif membuka map di handphone. Aku membuat rute menuju Bandung, dan aku sedikit lega, ketika jalannya memang benar. Titik biru di map bergerak seiring dengan mobil kami yang juga melaju. Di map tergambar jalanan yang lurus.
"Lurus terus aja Rin!", ucapku dari jok belakang, sampai Erin menghentikan kembali mobilnya karena di depan kami ada sebuah jalan yang bercabang.
Ketika kulihat di map, jelas-jelas hanya ada satu jalan saja. Aku teliti lagi, jelas sekali, hanya ada satu jalan lurus. Kami memperhatikan ke depan, tidak ada sama sekali mobil yang lewat. Arah jalan sebelah kiri hanya terlihat jalanan gelap menuju hutan, dan sebelah kanan tampak ada beberapa lampu yang menyala.
Ketika kami semua bingung, tiba-tiba ada seorang wanita yang berjalan dari arah sebelah kiri mobil kami. Wanita itu memakai kebaya sambil membawa sebuah gembolan yang digendong, seperti seorang tukang jamu. Erin melajukan mobilnya perlahan menyusul wanita itu, lalu dia membuka kaca dan bertanya.
Wanita itu tersenyum tanpa berkata sepatah kata pun. Dia hanya menunjuk jalan ke arah sebelah kiri. Tapi entah kenapa aku merasa tidak yakin.
"Ke kanan aja Rin! Di sana ramai, banyak rumah warga", ucapku.
Erin pun sempat berdebat denganku, sampai akhirnya setelah kuyakinkan, dia pun mengikuti saranku.
__ADS_1
Kami merasa lega ketika melihat rumah warga, bahkan ada supermarket dan ATM yang kami kenal. Mobil pun terus melaju, namun ternyata keramaian kota itu tidak lama. Beberapa saat saja, mobil kami sampai ke suasana jalanan gelap yang dipenuhi pohon-pohon rindang. Jalan pun semakin mengecil, kini hanya bisa untuk satu mobil saja.
Erin bertanya untuk meyakinkan lagi, apa benar ini jalannya? Aku ragu untuk menjawab. Aku lihat kembali ke map di handphoneku, dan titik biru posisi kami tidak berubah, tetap berada pada posisi terakhir saat kami tadi bertemu dengan dua cabang jalan itu. Perasaanku bercampur aduk. Aku lihat jam sudah hampir menunjukkan pukul 3 pagi.
Mobil terus melaju pelan, sampai di depan telihat seberkas cahaya. Cahaya yang semakin lama semakin mendekat. Hah! Sebuah truk besar berada di jalur kami! Spontan Erin membanting setir ke sisi jalan dan mobil kami pun berhenti.
Tiba-tiba saja Cindy menunjuk ke sebelah kiri luar mobil kami, sambil menepuk bahu Erin. Ketika kami melihat kesana... ASTAGA...!!! Terlihat puluhan batu nisan yang tertanam. Ternyata mobil kami terperosok ke areal kuburan Cina. Erin terus menekan klakson agar truk itu cepat lewat. Kami semua panik. Aku menyuruh Erin agar cepat pergi, karena dari areal kuburan itu terlihat banyak sekali sosok yang berdiri sambil memandangi kami, dan perlahan-lahan berjalan tidak beraturan mendekati kami. Arwah-arwah di kuburan itu sudah menampakkan dirinya, dan aku hanya bisa menangis.
Sampai tiba-tiba saja sebuah wajah muncul dari bawah jok kursi mobil. Wajah wanita dengan bibir sobek dan menganga, aku hanya bisa menutup mulut. Erin pun langsung menginjak gas mobil ketika truk itu sudah lewat, dan kami secepat mungkin melaju mengikuti jalanan entah sampai kemana. Cindy terus menenangkanku yang terus menangis.
Hingga akhirnya terlihat sebuah plat petunjuk dengan tulisan "Cianjur", suasana pun mendadak ramai. Kami segera berhenti di sebuah supermarket. Kami istirahat sebentar sambil membeli minuman.
Aku memeriksa kembali map, dan titik biru itu pun sudah berada di posisi kami sekarang, yaitu Cianjur. Aku coba perlebar peta itu, dan ketika aku lihat, aku mengira-ngira bahwa tebakanku benar. Jika saja kami tadi lewat jalan sebelah kiri, maka akan berujung sampai ke Pelabuhan Ratu.
__ADS_1