
Sebut saja namaku Rina. Aku bekerja sebagai karyawan swasta di salah satu perusahaan yang ada di daerah Purwakarta. Aku berdomisili di Wanayasa, salah satu kota kecil di sebelah timur kota Purwakarta. Sedangkan alat transportasi sehari-hari untuk aktivitas ke kantor, aku menggunakan sepeda motor matic keluaran tahun 2014, dan baru tujuh bulan ini aku memiliki sepeda motor itu.
Aku punya pengalaman buruk beberapa bulan yang lalu, kalau tidak salah ingat sekitar bulan Maret.
Sore itu sekitar pukul setengah enam, aku baru saja pulang dari kantor. Aku melaju sendirian menggunakan motor matic kesayanganku. Entah kenapa selama dalam perjalanan menuju rumah, perasaan ini sepertinya enggak enak banget, namun aku coba buang jauh-jauh perasaan itu lantaran aku pikir mungkin akibat aku terlalu capek bekerja, sehingga banyak perasaan aneh yang menggelayut di otaku.
Sekitar enam kilo meter sudah perjalan sore itu aku tempuh, dengan rata-rata kecepatan sepeda motor yang aku kendarai sekitar 60 km/jam, dan selama dalam perjalanan itu pikiranku selalu kemana-mana. Entah kenapa perasaan ini tidak menentu, sehingga pas melewat di depan sebuah rumah makan, aku tidak sempat mengerem laju motorku, saat seorang bapak tua yang mengayuh sepeda menyeberang jalan secara mendadak membuatku tidak punya ruang yang cukup untuk menghindar.
__ADS_1
BRAAAK...!!! Terasa sekali hantaman sepeda motorku menabrak si Bapak itu. Aku pun menjerit sekeras-kerasnya, kemudian serasa gelap di kedua pelupuk mataku. Namun untungnya, saat itu tubuhku terpental ke bahu jalan dan masih aku ingat beberapa pengendara lain yang ada di belakangku sempat menolong dengan membopong tubuhku ke tempat yang aman.
Aku pun tidak mengalami luka serius, hanya di bagian pergelangan kaki saja yang sedikit luka. Aku sedikit merasa lega setelah kulihat si Bapak yang aku tabrak tadi tidak mengalami luka sedikit pun. Kemudian dia pun sempat menghampiri dan meminta maaf kepadaku. “Maaf neng, sepeda mah tidak ada kaca spionnya...”, itulah kata-kata yang diucapkan si Bapak tua itu.
Namun setelah itu, dalam sekejap mata aku tidak melihat keberadaan si Bapak yang tertabrak tadi. Kemana perginya dia? Aku hanya terdiam sambil menahan rasa nyeri di kaki serta mual serasa ingin muntah. Yah sudahlah, aku pun tidak terlalu memikirkannya. Yang penting aku telah mengetahui bahwa dia tidak kenapa-napa, walaupun sedikit menyesal lantaran aku belum sempat meminta maaf padanya.
*****
__ADS_1
Lima bulan sudah sejak kejadian itu, bahkan aku pun sudah melupakannya. Kini aku lebih berhati-hati jika mengendari sepeda motor di jalan raya.
Sore itu kami berhamburan menuju rumah bibi setelah kami sekeluarga mendengar kabar bibiku pengalami kecelakaan. Aku lihat bibiku sedang dikerumuni para tetangga yang menjenguk di rumahnya. Masih untung bibi pun tidak mengalami luka serius, hanya sepeda motornya saja yang kondisinya rusak berat.
Dia mengalami kecelakaan sepeda motor di tempat serupa dengan yang aku alami lima bulan yang lalu, bahkan waktunya pun sama, yaitu menjelang maghrib. Katanya dia telah menabrak seorang Bapak tua pengendara sepeda yang menyebrang jalan secara mendadak. Dan anehnya, orang yang tertabrak itu tidak mengalami luka sedikit pun, bahkan dia sempat meminta maaf juga kepada bibi dengan kata-kata yang sama. "Maaf neng, sepeda mah tidak ada kaca spionnya...". Kemudian setelah itu, si Bapak misterius itu pun tidak ada yang mengetahui kemana perginya.
Usut punya usut, dulu di depan rumah makan itu pernah ada seorang Bapak tua yang sedang mengayuh sepeda menjadi korban tabrak lari hingga mengalami luka yang sangat parah, namun nyawanya tidak bisa tertolong dan akhirnya meninggal dunia di tempat kejadian.
__ADS_1