
“Kring… kring… kring” suara alarm jam weker yang berdering di dekat telingaku.
“Bangun sayang, apa kau tak dengar jam wekermu telah berbunyi.” celoteh dari mama yang membangunkanku.
Seperti biasanya, mamaku selalu membangunkanku, ya maklumlah aku hanya bisa mengandalkan jam weker berbentuk kura kura mungil bermotif pentagon itu. Seketika aku mendengar suara mama, sontak aku terbangun dari tidurku dan cepat kulihat jam weker yang berdering tadi. Dan betapa terkejutnya aku, ketika aku melihat jam weker.
“Astaga mama, aku terlambat lagi.” kejutku pada jam yang sedang kupegang.
Aku segera mandi dan bersiap siap untuk berangkat ke sekolah favoritku, “SMP Pusaka Antera”. Oh ya namaku Randy, aku kelas 3 SMP. Mengapa aku selalu kaget ketika aku bangun siang? Itu karena jarak rumahku dengan sekolah lumayan jauh, kira kira 8 KM. Di sekolah aku biasa dijuluki “Si Bintang Kelas”, itu sebuah kebiasaan para siswa ketika menyebutku. Ya, karena aku adalah satu satunya siswa yang menjadi idaman guru. Siapa sih siswa di sekolah ini yang nggak kenal aku? Selain kepintaranku dalam pelajaran (bukannya bermaksud sombong), basket juga menjadi kegemaranku
Pagi itu adalah jamnya Pak Hendra, guru killer yang mengajar mapel Biologi. Ketegangan para murid makin menjadi ketika guru yang sebutannya sadis itu membawa sebilah rotan, yang tergenggam di jemarinya. Tak disangka sangka, semua siswa salah dugaan, ternyata rotan yang dikiranya untuk memukul siswa itu ternyata untuk mengikatkan bendera kain yang ada di atas meja. Betapa leganya para siswa, sekedar menghembuskan nafas yang tadinya tegang, karena ulah Pak Hendra.
Sesaat kemudian, bel jam istirahat telah dibunyikan. Kami sangat senang, karena akhirnya pelajaran guru killer itu telah usai, itulah yang kami harapkan. Seperti biasanya, ketika istirahat novel berjudul “Si Pemilik Pena” yang sering aku baca. Selain menarik ceritanya, juga sangat memberi motivasi bagi para pecinta teka teki. Karena banyak teka teki yang ada di dalam novel tersebut. Ketika selesai membaca, aku sempat melihat jendela di pojok kelas. Yang kulihat adalah sebuah tangan yang merais meraba raba permukaan kaca jendela, di pikiranku mengatakan kalau itu hanya seorang siswa yang iseng, mengerjai murid yang berada di kelas. Tetapi yang aku herankan adalah tangan itu terus merais tanpa henti seperti orang yang sedang terjebak di suatu tempat dan ingin meminta tolong.
“Hei jangan melamun” suara Angga membuyarkan lamunanku.
“Oh kamu Ngga bikin kaget saja.” kataku menghela nafas.
“Lagian sih, nglamun aja sukanya. Oh ya Ran kamu udah pinjam buku Sejarah di perpustakaan belum?” tanya Angga.
“Oh udah kok, kemarin aku pinjam” jawabku.
“Yah, tinggal aku sendiri yang belum.” gerutu Angga.
Jam pulang sekolah telah dibunyikan, aku segera pulang. Aku sempat tidak bisa tidur memikirkan hal tadi siang di sekolah, aku masih bertanya tanya.
Siapakah sebenarnya dia?
Dan apa maksudnya?
Rasa kantuk mulai muncul, tanpa pikir panjang aku langsung memejamkan mata dan seakan akan aku tak mengalami kejadian aneh di sekolah tadi.
__ADS_1
Paginya aku kembali bangun dengan jam weker yang selalu berdering di telingaku. Tetapi pagi ini ada yang aneh.
Kenapa aku tidak bangun siang lagi, tak seperti biasanya?
Dan… tunggu dulu ke mana mama, yang biasa membangunkan aku setiap pagi?
Pertanyaan pertanyaan aneh selalu muncul di pikiranku. Pagi ini aku kembali ke sekolah, dan lagi lagi tangan itu yang selalu kulihat. Belakangan ini aku sering merasa aneh dalam diriku.
“Aku harus cari tau penyebabnya. Mungkin Mang Ali tau di balik semua ini. Aku harus cari Mang Ali.” gerutuku dalam hati.
Aku bergegas ke luar kelas dan mencari di mana keberadaan Mang Ali, kebetulan saat ini masih jam istirahat. Setelah beberapa ruang kumasuki, ternyata Mang Ali berada di ruang perpustakaan. Kemudian aku segera menanyakan perihal ku menemuinya
“Mang Ali… Huh… huh… huh. Ternyata Mamang di sini” kataku terengah engah.
“Aden cari saya, ada apa den Randy?” tanya Mang Ali bingung.
“Mang apa saya boleh bertanya?” pintaku.
“Tanya apa den” kata Mang Ali.
“Saya tidak tahu den, coba aden tanya yang lain saja. Saya pergi dulu, banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan” sahut Mang Ali yang sontak meninggalkanku tanpa menjawab pertanyaannku.
“Mang mang, jawab dulu pertanyaanku mang.” teriakku kesal.
Mang Ali seakan akan tahu jawaban di balik ini semua, tapi dia tak mau mengatakan yang sejujurnya padaku. Ketika aku pulang, dan telah sampai di rumah. Aku segera mengetuk pintu dan mengucap salam, seperti yang biasa kulakukan setiap pulang sekolah. Lagi lagi keanehan muncul, sudah 5 kali aku mengucap salam tetapi tak ada satu orang pun yang menjawab salamku.
Tanpa berbasa basi, aku segera menginjakkan kakiku ke dalam, karena serasa tubuh ini harus cepat direbahkan atas dasar kelelahan. Ketika memasuki rumah, lampunya tiba tiba mati dan terasa gelap sekali, dengan segera aku langsung menyalakannya. Dan tiba tiba…
Apa yang terjadi? Ada banyak orang di rumahku termasuk mama, papa, kakak, Mang Ali dan teman temanku yang sedang membawa kue tart layaknya orang yang sedang berulang tahun. Aku bertanya tanya pada semuanya.
“Ada apa ini?” tanyaku heran.
__ADS_1
“Selamat ulang tahun kami ucapkan…” lagu yang mereka nyanyikan.
“Bu ada apa ini?” tanyaku pada mama.
“Selamat ulang tahun sayang” ucapan dari mamaku.
Ternyata hari ini, 3 Juni adalah hari ulang tahunku. Aku sampai tidak mengingatnya.
“Ma, apakah ini adalah hari bahagiaku” tanyaku pada mama.
“Apa maksudmu?” heran mama.
“Mengapa pada saat hari ulang tahunku, banyak keanehan yang terjadi padaku ma.”
“Sebenarnya keanehan yang kau alami, itu adalah bagian dari rencana kami.” kata mama.
“Rencana, rencana apa?” tanyaku bingung.
“Ya, rencana untuk mengerjaimu di hari ulang tahunmu.”
“Jadi, itu semua hanya bohongan? Lantas, Mang Ali”
“Ya den itu semua hanya tipuan semata. Itu perintah dari mama den Randy.” jelas Mang Ali.
“Tunggu tunggu, lalu sosok tangan yang ada di kelas, itu juga tipuan kalian?”
“Ha sosok tangan, itu bukan dari rencana kami Randy.” kata mama.
“Apaaaaaaa!!!” teriakku.
“Di mana Mang Ali?” kejutku tentang keberadaan Mang Ali, yang tiba tiba menghilang bagai ditelan bumi.
__ADS_1
“Jangan jangan Mang Ali…”
Selesai