
Kisah Nyata, Misteri 4 Hari Hilangnya Aminah
INTERMEZO
Saya selalu senang ketika orang tua dan sanak saudara berkumpul, saling tegur sapa dan saling bercerita mengenai pengalaman di waktu muda. Ada hal yang menarik pada waktu itu, dimana sepupu dari ibuku, sebut saja Aminah, bercerita mengenai pengalamannya. Boleh dikatakan, ini merupakan pengalaman pribadi beliau, penuh dengan misteri, penderitaan dan hampir saja membuatnya gila.
Ini merupakan kisah nyata yang saya dengar dari nara sumber sendiri dan kejadian ini dibenarkan pula oleh tetangga terdekat, saudara dekat beliau dan orang tua dari nara sumber sendiri, bahkan ibuku juga membenarkannya. Mereka terlibat langsung dalam proses pencarian 4 hari hilangnya Aminah saat itu.
Cerita ini dimulai kurang lebih 34 tahun yang lalu. Ya, 34 tahun yang lalu karena kejadiannya bersamaan dengan lahirnya anak kedua dari Aminah, sebut aja Cucu, dia perempuan. Saat ini Cucu berusia kurang lebih sekitar 34 tahun. Sebenarnya dia merupakan saudara sepupuku sendiri, karena ibuku dan ibunya Cucu, yaitu Aminah adalah saudara sepupu. Jadi kalo ditelusuri, Cucu adalah saudara sepupu jauhku dari satu buyut.
AWAL CERITA
Waktu itu Aminah kebetulan tinggal di sebuah desa. Secara geografis, desa itu terletak di sebelah utara kabupaten Garut dan masuk ke wilayah kecamatan Tarogong Kidul pada saat ini. Cibunar nama desanya. Kebanyakan orang Garut pasti tau letak desa itu. Boleh dikatakan desa Cibunar pada waktu itu masih merupakan sebuah kampung kecil yang terletak di sudut kota. Sebelah timur membentang aliran sungai Cimanuk. Desa itu dikelilingi oleh pesawahan dan hutan belantara yang cukup lebat. Sebuah desa terpencil yang jauh dari keramaian dan terkesan angker. Maklum, pada waktu itu sekitar tahun tujuh puluhan.
Aku masih ingat ketika usiaku menginjak 7 tahun. Melihat desa yang masih asri dengan alamnya, rumah-rumah warga yang berdindingkan bilik kayu, tempat duduk (golodog) di setiap teras rumah yang beralaskan batu kali sebesar kepalan tangan dan disusun terhampar di depan halaman rumah, khas rumah di kampung masa lalu. Ditambah lagi rimbunnya pepohonan dan kebun bambu yang tumbuh di sana sini.
Hampir setiap 20 meter persegi pada setiap sudut rumah terdapat kebun bambu, dan hanya ada jalan setapak selebar 1,5 meter. Jalan itulah yang menghubungkan desa Cibunar dengan desa-desa di sekitarnya. Jalannya pun masih tanah berlumpur, tidak seperti saat ini. Belum ada penerangan pada waktu itu. Penerangan hanya dengan memanfaatkan obor (ruas bambu kering yang diisi minyak dan disumbat dengan segumpal kain, untuk sumber nyala apinya). Obor inilah yang digunakan sebagi satu-satunya alat penerangan dan hampir di setiap rumah menggunakan alat penerangan ini. Obor dipakai karena pada waktu itu aliran listrik belum ada.
Dari desa itulah kisah misteri hilangnya Aminah dimulai. Aminah menikahi seorang pemuda berperawakan tegap, dan berwajah ganteng pada masanya, nama pemuda itu Mukmin. Dari pernikahannya ini mereka dikaruniai seorang anak laki-laki, sebut saja Somad. Usia pernikahannya pada waktu itu sekitar 3 tahun, dan anak pertamanya berusia kurang lebih 2 tahun. Rumah tangganya pun terkesan baik-baik saja. Mukmin bekerja di salah satu pabrik dodol di kota Garut, hampir satu minggu sekali dia pulang ke rumah. Maklum, jarak pabrik ke desa Cibunar dimana mereka tinggal itu cukup jauh, kurang lebih 8 kilometer. Cukup jauh dengan berjalan kaki pada waktu itu.
__ADS_1
PENANTIAN
Di tahun kelima pernikahannya, Aminah mulai menampakkan tanda-tanda mengandung anak ke 2. Dari sinilah segala bentuk permasalahan mulai merongrongi Aminah. Tidak seperti biasanya, suaminya Mukmin kini jarang pulang, padahal Aminah sudah tidak sabar ingin menceritakan kabar gembira kepada suaminya, mengenai kehamilan keduanya. Tapi suaminya belum juga menampakkan batang hidungnya. Suaminya sudah dua minggu belum pulang. “Barangkali dia sibuk?", bisik Aminah dalam hatinya.
Kecurigaan Aminah mulai nampak ketika suaminya pulang. Raut muka suaminya kelihatan ketus, raut muka yang tidak seperti biasanya. Tidak ada senyum sedikit pun di raut muka suaminya itu. “Ah, barangkali ini hanya prasangkaku saja”, ucap Aminah dalam hatinya.
Melihat raut muka suaminya, Aminah belum berani mengatakan bahwa dirinya sedang hamil. Baru pada keesokan harinya, dimana suaminya mau berangkat lagi, Aminah mulai memberanikan diri bercerita kepada suaminya bahwa dirinya sedang hamil. Namun suaminya cuma berkata, “Berapa bulan?”. Lantas Aminah menjawab bahwa dirinya kini tengah mengandung 4 bulan. Dan dengan nada ketus, suaminya berkata, “Ya sudah, jaga baik-baik! Aku mau kerja lagi”. Seperti menelan pil pahit demi mendengar kata-kata suaminya pada waktu itu, padahal ia berharap mendapat kecupan dan pelukan dari sang suami.
*****
Tidak terasa kini kandungan Aminah menginjak bulan ke 6. Aminah mulai diliputi perasaan tidak karuan. Tidak seperti biasanya suaminya belum pulang-pulang juga, padahal sudah 2 bulan semenjak kepergiannya. Penantian yang cukup panjang untuk seorang ibu hamil yang haus akan belaian kasih sayang suaminya. Dengan diliputi oleh kebimbangan yang sangat, banyak ketakutan yang menghantui perasaan Aminah tentang suaminya. “Dimana suamiku? Mudah-mudahan dia selamat dan dalam keadaan sehat”, doa Aminah dalam hati. Ia selalu mendoakan yang terbaik untuk suaminya.
Menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti bulan, sama sekali tidak ada kabar sedikit pun mengenai suaminya. Akhirnya di ujung penantian yang cukup panjang, Aminah mengutus kakak sepupunya, Rodayat, untuk mengunjungi suaminya dan membawanya pulang. Kebetulan kakak sepupunya tau dimana suami Aminah biasa menginap.
Di masa penantiannya, dengan penuh kecemasan akan suaminya, Aminah mondar-mandir keluar masuk rumah, dengan harapan Rodayat yang diutusnya pulang membawa suaminya. Pucuk dicinta ulam pun tiba, akhirnya Rodayat yang diutusnya terlihat dari kejauhan menuju ke rumahnya. Rodayat lantas menghampirinya. Dan sebelum Rodayat bercerita, ia menasehati Aminah agar tabah dan sabar atas kabar yang akan disampaikannya. Aminah mulai dag-dig-dug tidak karuan. “Ada apa gerangan?”, ucapnya sambil mengusap air mata yang menetes di kedua matanya.
Akhirnya Aminah harus tabah menerima kabar yang sangat menyayat hati itu. Ya, bahwa suaminya berencana mau kawin lagi dengan wanita idaman barunya. Seperti disambar petir, Aminah tersungkur tak sadarkan diri dalam pangkuan sepupunya. Sungguh naas nasib Aminah, wanita dalam keadaan hamil 7 bulan yang seharusnya mendapat belaian kasih sayang dan dimanja suaminya itu, ternyata disakiti tanpa perasaan.
PROSES KELAHIRAN ANAK KE 2 AMINAH
__ADS_1
Sejak mendengar kabar tak sedap mengenai suaminya, Aminah banyak menyendiri dan melamun, sambil sesekali mengusap air mata yang menetes di pipinya. Kadang ia keluar rumah dengan tatapan yang kosong, disapa pun kadang dijawabnya kadang juga tidak. Orang tuanya pun ikut prihatin dan menangisi nasib anaknya. Orang tuanya cuma bisa mendoakan yang terbaik dan kadang berucap sambil meneteskan air mata. "Yang sabar Minah! Banyak berdoa! Mudah-mudahan suamimu dikembalikan hatinya oleh Allah", sambil ngusap kepala Aminah. Sungguh hari-hari yang menyakitkan bagi Aminah, karena sampai saat itu suaminya belum juga datang untuk menjenguknya. Aminah hanya bisa melamun dan melamun saja.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Menjelang magrib kira-kira pukul 6.30 sore, akhirnya tanda-tanda kelahiran anak keduanya mulai terasa. Orang tuanya sadar bahwa anaknya akan melahirkan, dengan sigap orang tua Aminah memanggil Paraji (dukun beranak), ma Odah namanya, yang sudah siap sedia menunggu. Aminah yang saat itu berada dalam lamunan dan hati yang tersayat karena suaminya, akhirnya melahirkan seorang anak perempuan, yang saat ini bayi itu adalah Cucu.
BAGAIMANA AMINAH BISA MENGHILANG?
Di sinilah perjalanan misterius Aminah dimulai!
Proses melahirkan yang cukup melelahkan. Darah segar yang menempel pada sinjang (rok kebaya) yang masih dipakainya terlihat kental mengering memudarkan warna asli kebaya yang berwarna kuning kecoklatan. Tidak ada raut muka bahagia di wajah Aminah saat bayinya lahir, dia masih tetap melamun. Sepertinya lamunannya masih tetap pada suaminya, padahal proses kelahirannya tidak didampingi oleh suaminya. Suaminya sepertinya lepas tanggung jawab atas Aminah dan anak yang dilahirkannya itu.
Sementara orang tua dan orang-orang di sekitarnya sibuk mengurusi bayinya, Aminah pelan-pelan bangkit dan turun dari ranjang persalinan. Darah segar masih keluar dari rahimnya. Tanpa sepengetahuan orang-orang di sekitarnya, dalam keadaan setengah sadar, serta tatapan yang kosong, Aminah keluar meninggalkan rumah. Padahal hari sudah mulai berganti gelap, dekat ke waktu magrib pada waktu itu. Hanya satu tujuan Aminah, ia berniat untuk mengunjungi suaminya. Entah apa yang merasuki Aminah. Baru selesai melahirkan, pikirannya malah tidak karuan. Hanya ada satu di hatinya, dia hanya ingin suaminya.
Darah berbau amis sisa persalinan sepertinya masih menetes dari rahimnya. Aminah berjalan terhuyung-huyung menyusuri jalan setapak berlumpur yang menghubungkan desa Cibunar dengan desa lainnya. Di persimpangan jalan dengan kebun bambu yang jarang dilewati orang, dalam keadaan setengah sadar dan pikiran yang kosong, Aminah berpapasan dengan seorang kakek-kakek, dan kemudian kakek itu menyapanya. “Duh, kasihan cucu kakek. Sini kakek bantu gendong!", sambil memberikan punggungnya untuk dinaiki. Aminah lantas menuruti dengan menaiki punggung si kakek untuk digendong.
*****
KEADAAN BAYI AMINAH DAN KELUARGANYA
Tepat di hari dimana Aminah menghilang, orang tua dan saudara-saudara Aminah kalang kabut dengan dihinggapi perasaan galau yang sungguh ekstrim. Mereka pun tidak tinggal diam. Mereka terus berusaha untuk mencari Aminah. Dicarinya Aminah kesana kemari, tetapi pencarian mereka pada sore itu tidak membuahkan apa-apa. Orang tuanya sangat khawatir terhadap keadaan Aminah, apalagi pada waktu itu santer dengan mitos penduduk setempat, bahwa sangat dilarang orang yang baru melahirkan keluar rumah pada waktu menjelang magrib, mengingat darah persalinan yang masih menetes dan masih tercium bau amis. Konon katanya bisa mengundang makhluk gaib sebangsa jin untuk mengganggunya.
__ADS_1
Gelap gulita mulai menyelimuti kampung kecil itu. Keluarga Aminah pada waktu itu dibantu dengan tetangga terdekat, Pak Osin sebagai kepala tim pencarian, terus berupaya mencari Aminah. Dengan bantuan penerangan obor seadanya, mereka berupaya terus melakukan pencarian. Pencarian pun dilanjut untuk menelusuri desa Cibunar. Sudut demi sudut ditelusuri, kebun-kebun bambu dimasuki sambil berteriak, “Aminah... Aminah dimana...???”. Kata-kata itulah yang terdengar saling bersahutan di antara mereka. Mereka hanya berharap bisa menemukan Aminah dimana pun ia berada.
Sementara tetangga dan keluarga Aminah sedang melakukan pencarian, di rumah bayi Aminah yang berada dalam gendongan neneknya terus merengek menangis dan terus menangis, mengisi keheningan malam yang mulai gelap gulita. Kasihan bayi itu, bayi mungil yang seharusnya mendapatkan air susu dan kehangatan belaian ibunya di hari pertama dia ada di dunia, hanya bisa pasrah dengan takdirnya. Setiap kali bayi itu menangis, keluarga Aminah hanya bisa memberinya tetesan air teh manis, maklum pada waktu itu susu formula masih sulit didapat di wilayah dimana Aminah tinggal.