
Namaku Feysha. Kejadian ini kualami ketika aku pindah ke rumah tante yang berada di daerah Jatinangor. Aku baru saja memulai kuliah di perguruan tinggi negeri disana. Aku berasal dari daerah Cigadung. Karena jaraknya yang jauh dari kampus, akhirnya aku menetap di rumah tanteku itu.
Tante tinggal bersama suami dan seorang anaknya yang masih balita. Sebenarnya rumah tersebut bukanlah rumah mereka, mereka tinggal disana untuk sementara, sambil menabung untuk membangun rumah. Rumah tersebut merupakan peninggalan kakek dari orang tua suaminya. Jadi aku tidak kaget ketika melihat beberapa perabotan tua saat baru pindah kesana.
__ADS_1
Hari pertama disana saat itu sudah sore, aku langsung merapihkan barang-barang yang aku bawa. Kamarku berada di lantai 2, dan disana sudah lengkap dengan kursi dan meja belajar. Ketika sedang menata ulang barang-barangku, aku menemukan sesuatu yang ganjil saat sedang membersihkan bagian belakang lemari. Di balik lemari pakaian itu aku menemukan secarik kertas usang. Kertas itu berwarna abu-abu kekuningan dan ditempel di dinding dengan selotip di keempat sudutnya. Sepertinya kertas itu sudah ada sejak lama, karena terlihat penuh debu. Aku coba melihatnya lebih dekat, di kertas itu terlihat tulisan dengan huruf arab. Melihat itu, pertama kali kupikir tulisan di kertas itu adalah potongan dari kitab Al-Qur'an, jadi aku mengacuhkannya. Saat itu aku hanya fokus membersihkan kamarku, sampai malam hari.
Aku dipanggil tante untuk turun ke bawah karena makan malam sudah siap. Aku teralihkan oleh pertanyaan tante mengenai kegiatan ospek mahasiswa baru di kampusku, sehingga aku lupa bertanya mengenai kertas yang kutemukan tadi. Setelah makan malam, aku langsung pergi tidur karena besok pagi harus ikut ospek lagi di kampus. Tak lama setelah menyentuh kasur, aku pun tertidur.
__ADS_1
Keeseokan paginya aku terbangun, dan langsung bersiap untuk pergi ke kampus. Kegiatan ospek berlangsung sampai sore hari, aku pulang jam 6 sore dan langsung menuju ke kamarku. Karena kegiatan ospek seharian itu, badanku sangat letih, sehingga langsung terbaring dan tertidur tanpa berganti pakaian dan mandi terlebih dahulu. Namun tiba-tiba aku terbangun, kepalaku sangat pusing, seluruh ruangan kamar terasa berputar. Aku tidak bisa menggerakan anggota tubuhku, aku demam. Aku memutuskan untuk merebahkan tubuhku lagi. Tiba-tiba perasaanku jadi tidak enak, aku terus menatap ke dinding di samping kasurku. Seperti ada magnet yang menarik pandanganku kesana, padahal tidak ada apa-apa di depanku. Karena sangat lelah aku kembali tidur, tapi selang beberapa saat rasa pusing di kepalaku semakin terasa. Aku terbangun kembali, kini di samping kasurku samar kulihat sudah berdiri seorang wanita, karena pusing dan masih mengantuk, semula aku pikir itu tanteku, tapi ternyata bukan. Wanita itu memakai kebaya berwarna coklat tua, rambutnya berkonde dan dia menatap hampa kepadaku. Tiba-tiba dia mengangkat tangan kanannya dan menunjuk ke arah lemari, kemudian dia menghilang perlahan-lahan seperti ditelan udara. Aku membuka mata, dan seluruh badanku penuh dengan keringat. Rasa pusing masih terasa di kepalaku. Aku bingung dengan apa yang kualami tadi, sampai akhirnya aku menyimpulkan apa yang kulihat tadi itu hanyalah mimpi.
Tante dan pamanku kemudian masuk ke kamarnya untuk tidur, begitu juga denganku. Aku kembali berbaring di kasur, tapi tidak langsung tertidur. Aku sangat penasaran dengan kertas di belakang lemari itu, dan tiba-tiba terdengar seperti suara tangisan. Suara itu sangat pelan namun terdengar sangat menyedihkan. Awalnya kukira itu adalah suara tangis sepupuku yang masih balita, namun setelah aku dengarkan baik-baik, suara itu adalah tangisan seorang wanita dewasa.
__ADS_1
Aku bangun dari kasur dan mencari-cari asal suara tangisan itu. Suara itu terdengar semakin jelas ketika aku berjalan mendekat ke arah lemari. Aku terdiam, aku bingung sekaligus takut. Menurut pengalamanku ketika aku membaca cerita horor, jika ada suara tangisan dari dalam lemari, maka yang ada di dalamnya pasti bukanlah manusia. Aku benar-benar mematung, tapi pada akhirnya rasa takut kalah dengan rasa penasaranku. Aku berjalan mendekati pintu lemari dan menaruh kedua tanganku mencoba membuka kedua pintu lemari sambil sedikit memalingkan wajahku. Di dalamnya hanya ada baju-bajuku, aku bernafas lega, dan kembali menutupnya. Tiba-tiba dari pantulan cermin di pintu lemari, aku melihat sosok wanita yang tadi. Wanita itu berada persis di belakangku, matanya merah, rambutnya kini tergerai, dan tampak ada sebuah lubang hitam di perutnya. Aku melihat ke belakang, dia masih berada disana. Aku langsung lari terbirit-birit keluar kamar. Aku mengetuk pintu kamar tante sambil menangis minta tolong. Tante dan paman keluar dengan panik, mereka langsung periksa kamarku namun tidak menemukan apa apa. Aku enggan untuk kembali tidur di kamarku, akhirnya aku tidur di kursi sofa ruang tamu.
Esoknya aku tidak datang ke kampus di hari ospek kedua. Kepalaku masih terasa pusing. Aku terus berpikir ada apa sebenarnya dengan kertas itu. Setelah kupikir, mungkin kertas itu adalah sebuah segel yang kalo seseorang mencabutnya, sesuatu yang buruk akan terjadi. Tapi itu hanya menurut pandanganku saja. Jika suatu hari nanti aku sudah menemukan jawabannya, akan kushare kembali cerita tentang Kertas Bertuah itu.
__ADS_1