
Hari ini adalah hari pertama aku pindah dari kontrakanku yang dulu. Dikarenakan jauh dari kampus, akhirnya aku memilih untuk menyewa rumah baru. Dengan pendapatan yang pas-pasan, aku lebih memilih menyewa rumah yang terlihat tak terurus. Kebetulan sewa rumah itu jauh lebih murah dibanding harga sewa rumahku yang kemarin.
Hanya berbekal uang 500 ribu aku bisa mendapatkan rumah yang tergolong mewah, walaupun sedikit tak terurus dan berantakan. Aku saja heran, mengapa rumah ini terlalu murah untuk disewakan? Bukankah rumah ini besar dan luas? Tapi aku akan tetap tinggal di sini berdua. Ya, selama ini aku tinggal berdua dengan teman sekampusku. Kami dari kampung yang merantau ke kota hanya sekedar mencari ilmu dan mimpi.
“Rumah ini sepertinya lama ditinggalkan, buktinya tak ada satu barang pun yang terlihat layak untuk dipakai”, ujar Sherry temanku. Aku hanya terdiam dan tak menggubris omongan Sherry, karena kupikir memang benar, tak ada satu barang pun yang terlihat sempurna. Semuanya lapuk dan benar-benar tak bisa dipakai.
Setelah membereskan ruang tamu, aku langsung menuju ruang tengah dan segera membersihkannya, sementara Sherry membersihkan ruang dapur. Kami memang terlihat kompak dalam hal seperti ini. Hanya membutuhkan waktu sekitar 45 menit, kami dapat beristirahat di rumah ini. Untuk sementara rumah yang kami tempati saat ini adalah milik kami.
*****
Jam menunjukkan pukul 11.00 pagi, waktunya kami pergi bekerja. Aku bekerja sebagai penjaga buku di salah satu toko buku yang terkenal di kota ini, sementara Sherry bekerja di cafe sebagai pelayan. Dikarenakan hari ini Sherry masuk malam, jadi aku pulang kerja langsung kuliah dan pulang ke rumah. Cukup menyeramkan tinggal dan mendapatkan suasana baru di sini, di rumah baruku. Tapi karena aku termasuk orang yang cukup pemberani, (walaupun sebenarnya ada hal yang aku takuti), aku tetap memberanikan diri untuk tinggal sendiri malam ini.
Karena belum ada persiapan untuk pindah, jadi aku hanya punya barang seadanya untuk hari ini. Seperti alat-alat memasak dan peralatan untuk tidur serta pakaian. Jadi malam ini aku hanya bisa baca buku untuk menghabiskan malam. Di dalam kamar yang luas, aku merasa aneh. Aku seakan melihat sebuah sinar di pojok ruangqn itu, tepatnya di dalam lemari yang berumur sekitar 20 tahun, karena di situ terdapat tahun, yang aku rasa adalah tahun dimana lemari itu dibeli. Aku langsung menghampiri lemari itu dan membuka setiap laci yang ada.
Aku melihat sebuah buku yang sudah usang. Buku apa ini? Dengan rasa penasaran aku mengambil buku itu dan membacanya. Halaman per halaman dapat aku baca dengan sempurna. Namun saat aku membaca halaman ke 14, aku mendengar suara keributan, seperti pertengkaran antara anak dan orang tuanya. Ya, seperti buku yang aku baca saat ini, buku pada halaman ke 13 yang isinya perdebatan hebat antara seorang anak dan orang tuanya.
Dengan rasa yang campur aduk, aku langsung keluar kamar dan menghampiri ruangan yang menjadi sumber keributan itu. Tapi apa yang aku dapatkan? Hanyalah keheningan. Lalu apa yang aku dengar tadi? Entahlah, aku sendiri saja bingung. Sambil menunggu jam 10 malam, aku pun tertidur dengan buku yang masih kupegang.
*****
Seiring berjalannya waktu, tak terasa kami sudah 2 minggu tinggal di rumah ini. Tak ada keanehan yang dirasakan Sherry. Tapi aku? Selalu saja ada keanehan yang aku rasakan di rumah ini. Rutinitas berjalan seperti biasa, kerja, kuliah dan pulang ke rumah. Itu aktivitas rutin aku dan Sherry. Sampai akhirnya aku lupa menceritakan hal aneh yang aku alami di hari pertama kami tinggal.
Dan seperti biasa, hal yang aneh terjadi lagi saat aku membaca buku itu. Yang lebih anehnya lagi, pada setiap halaman yang aku baca seolah ada kehidupan yang ada di hadapanku dan ceritanya sama persis dengan kisah yang aku baca di buku itu. Dengan rasa penasaran, aku mencoba menonton apa yang aku lihat. Dan dia, siapa dia? Wanita itu? Apa yang aku lihat saat ini? Dia seperti bayangan menyerupai wanita yang aku kenal, Sherry? Ya, itu benar Sherry. Apa yang aku lihat saat ini? Pertanda apa ini? Apakah benar wanita yang ada di hadapanku sekarang adalah Sherry? Aku selalu bertanya dengan orang yang ada di hadapanku, tapi mereka tidak memperdulikanku, seakan-akan mereka tidak melihatku. Apa ini? Aku langsung terdiam ketika aku mendengar dialog, “Aku tak akan pernah bisa berhenti mencintainya, walaupun aku telah mati!”
Kata-kata itu selalu kuingat, kata-kata yang membuatku bingung dan penasaran. Sekejap pandangan di sekelilingku kembali normal saat aku menutup buku itu. Aku benar-benar tidak mengerti dengan buku yang ada di tanganku sekarang. Sangat misterius!
__ADS_1
*****
Hari ini aku terpaksa bolos kerja dan kuliah hanya untuk melihat kejadian yang ada di buku itu. Dengan semaksimal mungkin, aku berpikir keras. Apakah ada hubungannya antara rumah, waktu dan Sherry? Aku akan mencoba mengungkap misteri ini dari awal.
Beberapa waktu lalu Sherry mengajakku pindah rumah secara paksa. Walaupun dengan alasan tepat, tapi aku tetap saja curiga dengan dia. Aku mengenal Sherry Lavida tepat tanggal 13 Maret, satu tahun yang lalu. Dimana di tanggal itu adalah tanggal terakhirnya cerita di buku diary yang aku temukan itu. 13 adalah angka yang benar-benar sering muncul di buku itu. Dan yang lebih menyakinkanku adalah saat pertama aku melihat kejadian aneh itu, tepat di saat bacaanku terhenti di halaman ke 13. Apa artinya ini?
Pikiranku terhenti saat HPku berdering, dan kulihat sebuah pesan di ponselku, ternyata dari Sherry. Pesan itu berisi, “Van, mungkin hari ini aku pulangnya agak malam ya, aku lembur”. Itu pesan yang aku baca dari Sherry. Malam ini aku sendiri.
Karena rasa penasaran yang begitu kuat, aku rela malam ini gak tidur untuk menyaksikan kejadian beberapa tahun yang lalu di rumah ini. Aku mulai membaca dari halaman 14, halaman yang kemarin sempat terhenti.
“Hari ini aku bertemu lagi dengannya di suatu tempat. Aku senang karena masih bisa bertemu dengannya, walaupun pertemuan itu berakhir dengan pertengkaran yang amat hebat dengan kedua orang tuaku. Orang tua yang tak pernah merestui hubunganku, orang tua yang egois dan orang tua yang...”. Aku berhenti membaca ketika aku melihat bayangan Sherry ada di hadapanku. Dan apa yang aku lihat? Sosok orang tua yang sangat marah dengan anaknya, dan anaknya itu adalah Sherry.
“Ayah tidak melarang kau mencintai seorang lelaki, tapi jangan dia!”. Itulah kata-kata yang kudengar dengan jelas, dan setelah itu semuanya samar terdengar. Aku mencoba membaca kelanjutan bacaanku tadi.
“.....orang tua yang sangat keras! Apakah aku pantas membenci ayah dan ibu karena mereka menentang cinta kami? Cinta yang kami jalani 2 tahun lamanya. Apakah harus berakhir dengan kematian?”
Jam menunjukkan pukul 2 pagi. Aku masih saja membaca buku itu sampai halaman terakhir. Aneh, aku tak menemukan halaman yang ke 20. Aku mencari halaman itu, di lemari, di lantai, di dalam buku dan sampai di ruang tamu, tapi aku tak menemukannya. Akhirnya aku menyerah, mungkin halaman itu memang tak ditulis. Aku hanya membaca halaman terakhir saja yang isinya seperti ini. “Ayah, maafkan Shelly! Shelly sangat mencintainya, seperti ayah mencintai ibu. Tolong izinkan Shelly untuk memilikinya!”
Shelly? Jadi nama perempuan itu Shelly? Aku kembali berpikir. Cuma beda tipis antara “SHELLY” dan “SHERRY”.
Di tengah-tengah keheningan malam, tiba-tiba aku mendengar tangisan yang begitu pilu dan sangat menyayat hati. Di saat mendengar tangisan itu, aku langsung ikut menangis, menangis dan menangis. Setelah tangisanku terhenti, aku langsung mencari asal dari tangisan perempuan itu. Tapi sebelum mendapatkan apa yang aku inginkan, aku kembali melihat darah yang begitu banyak dan seolah-olah darah itu berjalan menuju kakiku. Aku mencoba berlari, namun kakiku benar-benar terasa berat, bahkan tak bisa digerakkan.
Tangisan itu terhenti, dan kembali hening. Darah yang ada pun hilang. Aku kembali duduk di ruang tamu sambil mendengar sebuah percakapan yang terdengar samar. Percakapan itu sepertinya tidak asing bagiku. Ya, ternyata apa yang kudengar adalah percakapan antara Shelly dan ayahnya. Saat itu ayahnya benar-benar sangat marah, sampai-sampai memukul-mukul meja. Semakin sadis yang aku lihat, lelaki itu membentak-bentak Shelly. ”Baiklah ayah! Ayah tak pernah merestui hubungan kami, lebih baik ayah bunuh Shelly! Shelly rela mati di tangan ayah!”. Itu adalah kata-kata yang keluar dari mulut Shelly.
Dan seperti yang aku lihat, lelaki itu berkata yang membuatku benar-benar tak percaya! “Baiklah! Jika itu yang kamu inginkan, aku akan membunuhmu!”. Itulah kata-kata yang membuatku takut untuk melihat kejadiannya.
__ADS_1
Apa yang aku lihat sekarang? Semuanya seperti nyata. Lelaki itu langsung membunuh Shelly dengan cara yang begitu sadis. Darah yang aku injak terasa masih segar, dan itu adalah darahnya Shelly. Aku tak sanggup melihatnya. Shelly mati di tangan ayahnya sendiri. Sungguh sulit untuk dipercaya! Lelaki itu membunuh dan mengubur Shelly di rumah ini. Tepat di ruang yang aku tempati saat ini adalah ruang dimana terdapat jasad Shelly!
Malam ini kurasakan sangat panjang. Aku bisa melihat kehidupan Shelly beberapa tahun lalu. Sungguh tragis!
*****
Hari ini aku kembali melakukan aktivitas seperti biasa. Namun pas aku buka pintu kamar, aku mendapati selembar kertas yang berisi, “Tolong bongkar tempat ini...!!!”. Kalimat itu seperti ditulis dengan darah. Aku kaget, tapi penasaran juga. Akhirnya aku memutuskan untuk membongkar ruangan itu, walau tanpa sepengetahuan Sherry.
Aku mencoba membongkar tempat itu bersama teman-teman kampusku yang lain. Dan betapa kagetnya aku saat mendapati seonggok tulang belulang yang terbungkus dengan plastik hitam. Apakah benar tulang belulang itu adalah kepunyaan Shelly? Aku langsung memanggil ustadz dan warga sekitar untuk melihat apa yang aku temukan hari ini. Kami langsung mengubur tulang-tulang itu selayaknya menguburkan jenazah yang masih utuh.
Rumah itu pun akhirnya dievakuasi. Dan untuk sementara aku tinggal di rumah temanku. Tapi ada yang aneh dengan semua ini. Saat aku merasakan hal aneh di rumah itu, selalu saja tanpa hadirnya Sherry. Apa maksudnya?
“Sherry? Apa kau melihat Sherry?”, tanyaku kepada teman-temanku yang lain.
“Sherry siapa Van?”, tanya temanku.
“Sherry teman kampus kita, temanku, yang tinggal di sini bersamaku”, jawabku.
“Van, selama ini kau hanya tinggal sendirian!”, jawab temanku.
“Apa...???”, jawabku kaget.
Tinggal sendiri? Jadi siapa Sherry yang aku kenal itu? Di saat aku bingung, tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku mendapat sebuah pesan, dan pesan itu dari Sherry!
“Van, aku Shelly. Shelly adalah Sherry. Terima kasih ya Van, kamu sudah bantu aku. Mungkin kamu tak mengerti dengan konflik yang aku alami beberapa tahun yang lalu, karena aku tak pernah menceritakannya padamu. Dialah Van, dia adalah lelaki yang sangat aku sayangi. Ayahku sangat membencinya karena dia adalah anak dari musuh ayahku. Cinta kami ditentangnya, bahkan sampai detik terakhirku. Aku tak rela dia menjadi korban pembalasan dendam dari ayahku, makanya aku berani mati saat aku membela dia.
__ADS_1
Sekali lagi, terima kasih ya Vanny. Kamu sudah membuatku tenang di surga. Aku tak meminta lebih dari perkenalan kita setahun lalu. Aku hanya ingin kamu mengungkap penyebab kematianku dan menguburkanku dengan selayaknya. SHELLY LAVIDHA”