
25 Desember 2016
Hari ini adalah perayaan natal ke-25 dalam hidupku. Namun, natal tahun ini tidak semeriah dulu. Orangtuaku sudah pergi akibat kecelakaan pesawat yang bahkan sampai sekarang baru mayat ayahku yang ditemukan. Namaku Lily dan aku adalah anak tunggal, maka dari itu semenjak kepergian orangtuaku kesepianlah yang menemani.

Dulu, setiap kali natal datang kami akan memanfaatkan moment itu sebaik mungkin. Salju yang turun membuat kami sulit untuk berlama-lama di luar akibat udara yang amat dingin. Maka dari itu, ayah akan membuat tungku api untuk menghangatkan tubuh kami, ibu akan menyiapkan tiga gelas coklat panas, dan aku akan menyiapkan sebuah selimut untuk kami pakai bertiga sambil menonton televisi. Kadang, aku masih merasa dingin —itu karena tubuhku yang memang tidak kuat dingin. Jadi, dengan sukarelanya orangtuaku memberikan pelukan yang langsung membuatku hangat.
Tapi, itu dulu bukan sekarang. Tahun ini aku tidak merasakan itu lagi. Aku tidak bisa lagi menertawakan ayahku yang kesulitan membuat tungku api, aku tidak bisa lagi merasakan lezatnya coklat panas buatan ibuku, dan aku tidak bisa lagi merasakan kehangatan yang diberikan orangtuaku melalui pelukannya. Yang paling terpenting, aku tidak bisa lagi merasakan kasih sayang seperti anak yang lain.
__ADS_1
Sekarang, ditengah-tengah salju yang turun aku sedang diantar oleh supirku menuju gereja. Sesampainya di sana aku masuk dan mengambil tempat. Aku menunggu dengan sabar dan akhirnya suara lonceng pertanda kebaktian dimulai terdengar. Sontak, semua umat berdiri dan bernyanyi bersama mengiringi langkah pastur dan para petugas kebaktian menuju altar.
Kebaktian perayaan natal dimulai. Seluruh umat mengikuti kebaktian dengan khidmat. Dan setelah acara selesai, aku menatap sedih satu keluarga yang duduk bersebelahan denganku. Mereka saling berpelukan dan mengucapkan ‘selamat natal’. Tanpa sadar air mataku jatuh melihat interaksi mereka. Kutundukan kepalaku bermaksud menyembunyikan jika aku tengah menangis.
Jujur, aku merasa iri pada mereka. Aku rindu orangtuaku. Aku ingin mengucapkan ‘selamat natal’ pada orangtuaku. Dan satu-satunya cara agar aku bisa memberi ucapan adalah berdoa. Jadi, daripada aku berlama-lama melihat keharmonisan keluarga itu, aku bawa kakiku ke altar dan bersujud di sana sambil menyatukan kedua telapak tanganku dan menutup mata.
Aku terlalu larut dalam doa, membiarkan air mataku terus jatuh disetiap doaku. Setelah cukup puas, kusudahi doaku lalu berbalik. Alangkah terkejutnya aku ketika mendapati seorang lelaki tinggi berada di depanku. Buru-buru kuhapus sisa air mataku dan menunduk. Oh, aku merasa sangat malu. Pasti lelaki itu mendengar doaku juga tangisanku. Uh, aku sampai lupa jika di gereja ini masih banyak orang.
“Ini.” Lelaki asing itu memberiku sebuah amplop kecil berwarna merah. Kuberanikan diri untuk mengangkat kepala dan menatap lelaki itu bingung. “Seseorang menyuruhku untuk memberikan surat ini padamu.”
__ADS_1
Aku semakin kebingungan. Pandangan kuedarkan ke penjuru gereja, mencari seseorang yang kemungkinan memberikan surat ini padaku.
“Hei, cepatlah ambil. Aku harus segera pergi.” Aku menghentikan aksi mencariku dan segera mengambil surat itu dengan seutas senyuman. “Dan, ini juga. Gunakan ini untuk menghapus air matamu. Jangan terlalu larut dalam kesedihan. Percayalah, Tuhan akan mendengarkan doamu.” Lelaki itu memberikanku sapu tangan bermotif lucu khas natal. Aku tersenyum malu, sudah kuduga dia mendengarnya. Karena dia semakin mendekatkan sapu tangan itu padaku, segera kuambil sapu tangan itu.
“Terima kasih.” Dan lelaki itu pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Tak kupedulikan lagi dia, karena sekarang
aku lebih penasaran dengan surat ini.
SELAMAT NATAL, MALAIKATKU
__ADS_1