Horor And Misteri Stories

Horor And Misteri Stories
MISTERI SEBUAH KAIN KAFAN


__ADS_3

Kisah ini nyata terjadi pada tahun 1998, dimana dialami oleh tetangga saya di kampung.


*****


"Ibu, sudah cukup! Aku malu dengan bisik para tetangga. Kita ini muslim! Apa artinya ibu pergi haji ke tanah suci jika ibu masih jadi lintah darat seperti ini?", pintaku pada ibu yang lagi menghitung uangnya.


"Diam kamu! Sudah, kamu tidak usah mencampuri urusan ibu! Yang penting kamu bisa sekolah dengan adikmu! Ayahmu juga sudah lumpuh dan seperti mayat hidup! Apa bisa dia beri kita penghidupan?", bentak ibuku di pagi buta.


"Ya Allah, beri hidayah pada ibuku, bukakanlah pintu taubat ibuku...", hanya ini ratapan hatiku yang terus aku lakukan.


*****


"Huft, panas banget hari ini, suasana kampus benar-benar membosankan. Sudah pelajaran yang sempat memeras otak, belum lagi dosennya yang super killer! Benar-benar suasana yang membuatku merasa jenuh!", bisik hatiku.


Kulangkahkan dengan gontai kakiku menuju ke rumah, dengan harapan makan dengan lauk yang sudah tersedia di rumah. Namun huft, lagi-lagi suara memecah di siang bolong, apalagi kalau bukan ibuku yang bertengkar dan berkacak pinggang dengan orang-orang yang tidak bisa kembalikan uang yang dipinjam, plus bunga yang aku rasa mencekik leher. Suasana ini gak pernah asing di rumahku, maka dari itu aku gak pernah betah tinggal di rumah. Namun hanya satu yang masih berat aku tinggalkan di rumah ini, ayahku dan adikku. Semua keperluan mereka aku yang penuhi dan persiapkan.


Aku sendiri merasa heran, kenapa pembantu di rumah kami gak pernah ada yang betah sampai 3 bulan? Keluar masuk gitu lah. Aku sih gak heran, karena ibuku yang kejam dan super ceriwis, seenaknya memerintah dan membentak pembantu.


"Ayah, minum obat dulu!", kataku pada ayah yang lagi termenung.


Aku tak pernah lupa menyempatkan diri selalu ke kamar ayah, kamar yang diasingkan oleh ibu, bahkan sepertinya ibuku menganggap ayah kami sudah tak ada. Ayahku lumpuh total, bicara pun sudah tak bisa. Yang terlihat hanya keriput tua dan lelehan air matanya, seolah isyarat dia ingin segera diambil nyawanya, untuk memperingan tugasku yang selalu merawat keperluan ayah. Namun sebagai anak, itu sudah kewajibanku.


*****


Kutengok jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Entah kenapa perasaan ini tidak enak, haus menyerang di tenggorokan. Kubangunkan tubuhku dengan langkah berat menuju dapur, namun langkahku terhenti mendadak karena aku lihat ada sekelebatan orang menuju kamar ibu.


"Siapa ya?", bisikku. "Apa ibu memasukkan lelaki di rumah kami?", dugaan negatif terus berkecamuk di benakku.


Dengan langkah pelan aku dekati kamar ibu. Aku mendengar ada suara erangan dengan bisik-bisik nakal di sana.


"Astagfirrullah! Aku dengar seperti seseorang sedang bercinta! Apakah ibuku sedang berzina?", bisikku dalam hati.


Aku buka pintu kamar itu yang ternyata tidak terkunci. Aku teriak sekencang-kencangnya. "Ibuuu...!!! Apa yang ibu lakukan di rumah ini? Sungguh aku jijik melihat tingkah pola ibu...!!!", teriakku padanya.


Namun apa yang kudapat? "Anak tidak tau sopan santun...!!! Main masuk aja ke kamar orang tua...!!!"


Plak... Plak... Tamparan keras mendarat di pipiku.


Aku lari menuju kamarku. Aku nangis, aku malu dengan kelakuan bejat ibuku. Rupanya tanpa sepengetahuanku, ibu sering membawa laki-laki masuk ke kamarnya. Akhirnya bisik-bisik tetangga pun makin membuat telinga gatal.

__ADS_1


"Ternyata Bu Lastri selain seorang rentenir juga seorang pezinah, bahkan katanya juga sih pemuja syetan. Banyak para pemuda yang dikencani namun besoknya sang pemuda jadi seperti orang tua, layu dan sayu!", bisik-bisik tetanggaku.


Aku berjalan dengan langkah cepat. Aku malu para tetangga seolah ikut juga memusuhi aku, padahal aku tidak pernah tau apa pun tentang semua ini. Aku lihat rumah dalam keadaan lenggang dan sepi. Pada kesempatan ini aku beranikan memasuki kamar dimana selalu dikunci oleh ibu. Aku tidak kehabisan akal, aku buka paksa dengan berbagai cara. Bagaimana pun aku harus tau apa yang ada di kamar itu, dimana ibuku selalu menghabiskan waktu berlama-lama di dalamnya.


Ah! Akhirnya usahaku tidak sia-sia. Aku lihat kamar itu semuanya serba hitam. Mulai dari seprei, warna tembok, dan ada cermin yang kelihatan sudah tua, serta bau dupa dan aroma mistik yang langsung menyergapku. Tanpa sengaja mataku tertuju pada lemari di pojok kamar. Dengan sedikit perasaan was-was aku buka. Masya Allah! Rupanya uang dengan bertumpuk-tumpuk kulihat di sana, serta lempengan emas dan berlian. "Begitu banyakkah harta ibuku?", bisikku seolah tak percaya.


Aku masih terus menyusuri kamar ini, dan kini perhatianku tertuju pada sebuah meja kecil bersusun. Di sana ada toples kecil yang ternyata isinya seperti bulu dan rambut. Namun aku tak tau apa maksudnya itu. Di dalam kamar itu aku terus mengumandangkan asma-asma Allah dan ayat kursyi, karena aku merasakan ada sesuatu yang sepertinya terus mengawasiku. Aku temukan juga kain putih yang kumal tersimpan dalam kotak tua. Apa ini? Aku amati, baunya busuk banget! Kubawa keluar kain itu untuk aku cuci. Mungkin ini kumal hingga perlu aku bersihkan, mengingat ibuku gak sempat untuk mencucinya.


Aku keluar dari kamar itu dan aku bawa kain putihnya. Aku rendam dulu di bak, dengan harapan agar mudah untuk membersihkannya.


Kring... Kring... Kring... Telpon rumah berbunyi mengagetkanku. Langsung aku sambar gagang telpon itu.


"Halo, selamat siang!", tanya si penelpon.


"Iya, siang juga"


"Apa benar ini rumah ibu Lastri?"


"Iya benar, saya anaknya"


"Kami dari kepolisian, mengabarkan ibu anda kecelakaan dan meninggal dunia. Segera datang ke rumah sakit, kami tunggu!"


Kupacu secepatnya mobil agar segera sampai. Kulihat ada polisi sudah menungguku. Diantarnya aku ke kamar mayat untuk memastikan, apakah itu benar ibuku?


Ya Allah! Ternyata benar, dia ibuku! Kondisinya hancur dan kepalanya remuk. Mobil ibu bertabrakan dengan truk yang sama-sama melaju kencang dari arah berlawanan. Aku kuatkan diri ini. Adikku pun terus menangis, bahkan aku lihat ayah juga meneteskan air matanya.


Acara prosesi pemakaman pun akan segera berlangsung, namun ada kejanggalan waktu jenazah ibu dimandikan. Maaf, dari lubang ******** ibu sepertinya terus-menerus mengeluarkan cairan putih. Kami bersihkan berulang-ulang, namun masih saja keluar lagi. Dan ada seorang ustadzah yang memberitahukan, bahwa itu mungkin sudah kehendak Allah. Setelah aku amati, sepertinya cairan putih itu cairan ******.


Aku terus mengikuti prosesi setelah dimandikan. Aku ikuti juga waktu mengkafani. Masya Allah! Ada lagi kejadian yang membuatku heran. Muka ibu dan tubuhnya juga mengeluarkan cairan putih itu. Bahkan kain kafan baru yang mau dibungkuskan, di penciuman orang seperti bau bangkai. Aku sendiri juga menciumnya. Akhirnya kami beli lagi hingga kain kafan yang keempat pun tak jauh beda, setelah menempel ke tubuh ibu, bau kain kafan itu langsung berubah busuk. Aku terus menangis, antara meminta pengampunan pada Allah atas kelakuan ibuku, dan aku juga malu pada tetangga yang ikut merawat jenazah ibu.


Akhirnya jenazah pun dikebumikan, dan seorang ustadzah mengikutiku sampai rumah. Di sanalah aku menceritakan semua kejadian yang aku alami dan kamar yang aku temukan.


"Mana kain yang kamu cuci itu?", tanya ustadzah tersebut.


"Ada bu. Sebentar saya ambilkan", jawabku.


"Ini bu kainnya", aku berikan kain itu yang sudah aku setrika rapi.


"Hm... Masya Allah nak! Ini bukan kain biasa, tapi semacam jimat yang entah dimana diperoleh ibumu dan pada siapa ibumu pernah berguru. Baiklah, saya akan ceritakan sedikit yang pernah saya tau. Kain kafan ini bisa mendatangkan kekayaan dengan cara memuja pada syetan dan dapat melancarkan segala usaha. Namun kain kafan ini akan hilang khasiatnya jika ditemukan orang dan dicuci, dan di situlah awal petaka bagi pemujanya!", cerita bu ustadzah.

__ADS_1


"Ya Allah, ampuni ibuku!"


Waktu beranjak siang, bu ustadzah berpamitan dan memberiku wejangan agar aku kuat dan pertebal imanku. Nanti malam katanya dia akan datang lagi bersama kyai yang akan membantuku, karena aroma mistik masih menyelimuti rumah kami.


*****


Aku beranikan memasuki kamar itu lagi. Aku buka lemari yang berisi uang bertumpuk-tumpuk itu. Sedikit pun aku enggan untuk mengambilnya. Aku buka ada laci kecil dan aku temukan sebuah buku tua. Sepertinya buku ajaran sesat yang ditulis mungkin oleh guru ibuku.


Aku bawa buku itu dan aku baca yang tertulis di sana. "Dengan kamu bersetubuh setiap hari Senin dan Kamis, maka kamu akan awet muda serta harta dan nilai kewibawaanmu pun akan bertambah. Takkan ada orang yang berani melawanmu atau menentangmu. Itulah aura kain kafan itu. Maka dari itu saat kamu bersetubuh, mintalah pada lawan mainmu untuk membuang spermanya sedikit ke tubuhmu, lalu kamu ambil sedikit dan kamu usapkan ke muka. Usapkanlah dengan kain kafan yang telah kamu peroleh dariku. Dan dari ****** mereka, kamu telah menghisap auranya lewat kain kafan itu, maka lawan mainmu akan tampak layu karena auranya telah kau ambil"


Ya Allah! Sedemikian jijiknya aku membaca buku itu. Ternyata ini yang dilakukan ibuku selama ini!


*****


Malam sudah menyapa, bacaan tahlil bergema di rumahku. Setelah acara tahlil usai, aku memberanikan diri berbicara pada para tetangga yang hadir di acara itu. Aku minta maaf atas nama ibuku, dan membebaskan hutang serta melunaskan hutang jika ada yang masih punya tanggungan hutang ke ibuku.


Satu per satu para tamu berpamitan pulang, kini tinggal pak kyai beserta bu ustadzah. Aku tunjukkan buku yang kutemukan tadi dan kain kafan itu aku berikan kepada pak kyai.


"Astagfirullah hal adzim! Begitulah laknat syetan menjerumuskan umat manusia yang tipis imannya. Padahal ibumu sudah berhaji, rupanya hanya buat kedok belaka. Saya masih mencium aroma panas dan mistik di rumah ini. Baiklah, saya akan mulai membacakan doa dan menyempurnakan ibumu", kata pak kyai.


Suasana benar-benar mencekam. Aku diliputi perasaan yang teramat takut, namun ketakutanku itu tercium oleh bu ustadzah. Beliau menggenggam tanganku, dan menyuruhku untuk membaca ayat-ayat suci Al-Quran semampuku.


Kami berkumpul di ruang tengah. Aku, bu ustadzah, ayahku dan juga adikku, kami semua berkumpul dan dilingkari oleh asma pak kyai. Dan jika ada suara suara dan bunyi apa pun, beliau meminta agar jangan sampai keluar dari batas yang sudah ditentukan olehnya.


"Bismillah, ayo semuanya baca doa juga!", pinta Kyai.


Aku terus membaca ayat kursyi sambil bersila, semua terlihat khusyuk. Kulihat adikku yang masih kecil tertidur pulas di sebelahku. Mendadak suasana berubah mencekam dan pintu kamar ibuku tiba-tiba terbuka dengan keras. Aku terkejut! Masya Allah! Aku takut saat melihat ibuku yang terbungkus kain kafan keluar dari kamar tersebut dengan kondisi yang terkoyak amburadul. Aku seolah menangkap bisiknya. "Nak, ke sinilah! Kemarikan kain kafan itu! Ibu butuh itu!"


Aku semakin takut. Pocong ibu terus mendekat pada kami. Pak Kyai terus berdoa dan aku dengar beliau berkata, "Jangan digubris kata-katanya, dan jangan kamu mendekatinya! Dia bukan ibumu! Dia iblis yang menyerupai ibumu!"


Aku terus berdoa dengan perasaan takut dan mengiba, karena bagaimana pun juga dia itu ibuku. Aku ingin memeluknya, namun ada juga perasaan takut luar biasa. Pocong itu terus mendekat, namun sepertinya ada dinding yang tak bisa tertembus untuk mendekatiku. Pocong itu terus berganti memanggil ayahku. "Mas, bantu aku! Mana kain kafan itu? Berikan padaku!". Pocong itu berusaha mendekati ayahku, namun gagal juga. Mungkin inilah yang yang disebut sudah dipagari oleh pak kyai.


"Wahai iblis yang menyerupai manusia, kembalilah ke wujudmu! Atau akan aku bakar kamu dengan ayat-ayatNya...!!!", teriak pak kyai sambil terus membaca doa-doa.


Dan masya Allah! Pocong ibu tiba-tiba berubah menjadi api yang melingkar dan melayang namun terus berkata meminta kain kafan itu. Tapi Pak Kyai dengan cepat membakar kain kafan yang tadi aku berikan beserta buku sesat itu. Akhirnya lingkaran api itu seolah melengking teriak dan berubah menjadi asap dan terus menghilang entah kemana. Aku mendengar lirih seperti suara ibuku, yang memintaku untuk menjaga dan merawat ayah serta adikku. Kini tinggallah bau hangus menyeruak di ruangan itu. Ya, kain kafan dan buku itu sudah menjadi abu karena dibakar pak kyai.


Lalu aku mengajak pak kyai ke kamar rahasia ibuku. Rupanya toples yang berisi rambut dan bulu itu pecah berhamburan entah siapa yang memecahkannya. Aku tunjukkan pada pak kyai dimana ada uang serta harta ibuku. Dan pak kyai sendiri heran kenapa uangnya tidak hangus? Biasanya kalau harta hasil pemujaan, jika pemujanya wafat, hartanya pun pasti ikutan ludes.


Akhirnya aku wakafkan semua harta ibuku itu pada panti-panti asuhan dan jompo serta anak yatim. Aku serahkan kepada mereka semua serta hanya berharap doa-doa dari mereka untuk ibuku, supaya diampuni dosanya dan dilapangkan jalannya.

__ADS_1


__ADS_2