
Bila hujan rintik-rintik di malam Jumat, arwahnya selalu muncul di pertigaan jalan di kampung pemukiman kami. Menurut kabar, dia mati bunuh diri.
*****
Namanya Satariyah. Perempuan muda berkulit hitam manis. Hidungnya mancung layaknya kebanyakan gadis Bangla. Menurut cerita, dia punya darah Hindi murni dari kakek buyutnya. Tubuhnya tinggi dan pinggulnya bak gitar Spanyol.
__ADS_1
Sehari-hari dia membantu ayahnya di ladang. Dalam hidupnya, dia tidak pernah merasakan dunia pendidikan formal. Namun untuk urusan baca kitab gundul, Satariyah adalah juaranya.
Pada suatu hari dia diperkosa oleh lima orang pemuda nakal. Mereka adalah anak orang-orang terpandang di kampungnya. Atas musibah itu, Satariyah mengadu ke ayahnya. Sang ayah melaporkan hal tersebut kepada tetua kampung. Namun tidak seorang pun percaya. Sebab tidak mungkin anak orang terpandang berbuat sekeji itu.
Bahkan banyak warga yang menduga Satariyah dan ayahnya sedang melakukan sandiwara. Mereka berasumsi bahwa keduanya hendak memeras.
__ADS_1
Jelang melahirkan, ratusan warga mendatangi rumahnya. Mereka menolak kelahiran si jabang bayi di kampung itu. Namun ayahnya tetap memberikan perlindungan. Akibatnya, dia dihakimi beramai-ramai hingga tewas.
Melihat sang ayah tewas di tangan manusia sok suci. Satariyah sangat terpukul. Dia kemudian menusuk perutnya dengan pisau dapur.
*****
__ADS_1
Dua bulan pasca peristiwa itu, warga kerap kali menemukan wanita misterius duduk di bekas rumah Satariyah yang dibakar massa. Kemunculannya setiap malam Jumat. Bila kebetulan turun gerimis kecil, selalu saja ada warga yang kesurupan. Kemudian satu per satu mati mendadak. Termasuk lima pemuda yang dulunya berbuat jahat kepada Satariyah.
Semakin hari terornya semakin nyata. Menurut sahibul hikayah, kini sasarannya bukan saja mereka yang pernah menjahatinya. Tapi siapa pun yang pernah menzalimi perempuan miskin akan menjadi musuh Satariyah.