
Seperti persahabatan pada umumnya, kami berlima selalu menghabiskan waktu-waktu di luar jam sekolah bersama, ke cafe, perpustakaan, mal, hampir semuanya, kami juga tidak punya pacar, jadi persahabatan kami benar-benar terjalin kuat.
Kali pertama kami saling mengenal adalah ketika duduk di bangku kelas 10, dan setelah naik ke kelas 11 kami beda kelas, kecuali aku dan Novi, dan kelas 12, Leo dan Ferdi sekelas, aku masih bersama Novi, kasian Rini, dia mungkin tertekan menghabiskan dua tahunnya berada di kelas unggul.
Ini bukan pagi lagi, matahari sudah mendaki sampai pada puncaknya.
Selepas bel pulang, aku ingat persis ini adalah Sabtu, seperti biasa aku dan Novi pergi ke rumah Leo untuk makan siang -hal yang lumrah dalam persahabatan. Leo tinggal sendiri di rumah kontrakan, orangtuanya berada di luar kota, jadi kalian mungkin tahu kan? Ya rumah Leo adalah rumah kedua kami, kami hampir setiap hari ke sana, makan, tidur, berkumpul, dan saling berbagi cerita.
__ADS_1
Ferdi dan Rini sedang dalam perjalanan saat itu, Leo adalah pemuda yang tampan, rambutnya tebal lurus dan halus, tersisir dengan belah kiri yang rapi mempertegas kesan cerdas dibalik kacamata dengan frame yang besar.
Novi langsung duduk di kursi meja makan sedangkan aku bertanya apakah Leo punya makanan untuk kami makan, Leo menjawab tidak ada persediaan makanan, dengan senyum ramahnya dan kami pun memberi Leo uang untuk membeli nasi bungkus, dalam sekejap Leo bergerak dengan penuh semangat seperti biasa menuju motor dan pergi meninggalkan kami dalam siang yang hening.
Aku melepas kemeja seragam hari senin, walaupun tidak memakai kaos dalam aku dan Novi tidak akan berbuat hal yang nyeleneh, hal seperti ini sudah biasa bagi kami. Kami duduk hening tak bicara di kursi meja makan, hanya suara kipas angin di atap meja makan berputar yang terdengar di balik keheningan, aku dan Novi hanya menatap satu sama lain.
Lalu Novi bilang kalau ia ingin pergi ke kamar Leo untuk mengambil beberapa bahan bacaan -jika ada. Sementara aku memilih untuk tetap duduk, sambil meyakinkan diri kalau Ferdi dan Rini akan tiba sebentar lagi. Hampir 5 menit aku menunggu dan Novi belum keluar, yang pastinya membuatku bertanya-tanya.
__ADS_1
Ketika aku masuk ke dalam kamar Leo, aku melihat Novi duduk bersila dan tubuhnya turun, mukanya sangat lemas dan pucat, tangannya bergetar-getar memegang satu lembar foto, sementara sebuah novel usang bertuliskan ‘LILY’ ada tak jauh dari jangkauan Novi -aku menebak kalau Novi mengambil foto yang dipegangnya dari halaman Novel itu.
Novi tidak bicara ketika aku menatap bingung ke wajahnya, matanya sudah berbicara banyak, tapi aku belum tau apa yang terjadi padanya, bibirnya bergetar halus matanya tak berkedip menatapku, aku mencoba menenangkannya “tenang pi tenang, ada aku”. Aku ambil lembar foto itu dari tangan Novi yang masih bergetar, setelah itu Novi duduk memeluk lutut dan bersandar di dinding, menatap ke sekeliling dengan ekspresi takut yang lesu, “tenang pi”, aku mengingatkan Novi sekali lagi, lalu mulai memperhatikan foto itu.
Kini aku merasakan apa yang dirasakan Novi, lembar foto itu, dari tanggal yang tertera di pojok kanan bawah, diperkirakan saat kami masih kelas 11 dan liburan semester. Foto itu, aku merinding, foto itu, ahh oke, foto itu menampilkan gambar keluarga Leo, dengan latar belakang kuburan di siang hari yang mendung, wajah sembap menempel di masing-masing mereka yang agaknya memaksa untuk tersenyum, jongkok di sisi kuburan, yang pada nisannya tertulis,
Leo Adrian
__ADS_1
Lahir: 12 Agustus 1996
Wafat: 9 Desember 2013